Gelaran ini menjadi ajang kreasi bagi perancang mode nasional yang berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal dan desainer. BBF yang mengusung tema “Semebyare Sisik Blambangan” ini mampu menghasilkan karya kekinian yang elegan.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, BBF menjadi sarana pemberdayaan pengrajin batik. “Mulai dari workshop batik, penguatan filosofis dan historitas batik Banyuwangi, hingga pelibatan anak muda dalam mendesain pakaian berbahan batik,” ujarnya.
Sejumlah acara lain juga digelar selama BBF berlangsung. Tujuannya untuk mendorong kecintaan dan kreativitas anak muda terhadap batik. Mulai dari lomba desain batik, fashion show Batik on Pedestrian, dan puncaknya pada peragaan busana yang melibatkan para perancang nasional berkolaborasi dengan perancang lokal Sabtu (2/10) malam.
Ipuk berharap, industri batik di Banyuwangi dapat berkembang pesat dari proses produksi hingga pakaian jadi. “Tidak hanya berhenti sampai di sini, BBF harus terus disinergikan dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lain untuk memajukan sektor industri kreatif di bidang batik,” imbuhnya.
Sekretaris Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) V Jember Djuhairi mengatakan, gelaran BBF adalah manifestasi paradigma masyarakat yang dinamis. “Saya merasa bangga karena hari ini (kemarin), acara yang tereselenggara erat kaitannya dengan pelestarian kebudayaan lokal,” ujarnya dalam sambutan mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Batik saat ini menjadi identitas bangsa, sehingga tidak heran jika batik memiliki nilai jual yang tinggi. Jatim punya keragaman batik di 38 kabupaten kota yang berpotensi untuk dipasarkan. Selain itu, gelaran semacam ini juga sebagai bentuk penghormatan kepada pembatik yang batiknya digunakan untuk fashion.
Acara ini diharapkan mampu menjadi implementasi cinta tanah air agar produk dalam negeri dapat bersaing di Indonesia dan menjadi brand khas serta menjaga roda perekonomian. “Besar harapan adanya gelaran BBF menjadi spirit untuk lebih keras dan tanggap dalam menyerukan Jatim Optimis Bangkit,” pungkasnya.
Beberapa karya yang ditampilkan dalam puncak BBF 2022 ini adalah kreasi Eko Purwanto, Larasati dan Srikandi yang membawakan tema Aser yang menyuguhkan outfit batik untuk cowok. Ada pula karya Rizkyesa Syauqi, Mertosari, dan Kapuronto yang menyuguhkan nuansa tumbuhan yang casual untuk anak-anak muda aktif dan energik.
Anita Yuni dan Ala Kuwung menyuguhkan konsep desain batik ramah lingkungan yang terinspirasi dari kegigihan petugas pemadam kebakaran Banyuwangi dalam mengatasi kobaran api yang melalap hutan gunung Ijen. Konsep yang lebih global ditunjukkan oleh Sanet Sabintang, Pandawi, Osing Ningrat dan Sekar Bakung yang terinspirasi para perempuan muslim Jepang. Konsep disajikan dengan menghadirkan desain-desain batik dengan pewarna alam yang kalem.
Isyam Syamsi, Gondho Arum dan Sinta Mulia kembali menarik perhatian pengunjung pada kearifan lokal khas Blambangan. Keteguhan khas batik Banyuwangi ditunjukkan dalam desain dan motif yang disuguhkan. Hal itu juga tersaji pada desain yang dipamerkan oleh Nirmala, Pendawa dan Salsa.
Kreasi Byenk Viena, Banjar Wangi dan Nesya menyuguhkan kekuatan terdalam kaum hawa. Memunculkan paduan warna yang menonjol serta desain khas profesional. Ada pula kreasi Ocha Laros, Sigro Arum dan Karangseogo yang menghadirkan outfit lelaki Osing yang colorfull.
Peragaan ditutup penampilan Agus Sunandar, Gubab dan Seblang yang menengahkan corak-corak valial dengan didominasi batik warna cokelat. Kemudian, ada Kreasi dari Ethnic Treasure, Godho Batik dan Sekar Kedaton yang menyuguhkan perpaduan batik yang kontras namun kalem. (cw3/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud