Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Beduk Besar Masjid Cheng Hoo Dipesan Khusus dari Demak

Rahman Bayu Saksono • Senin, 19 September 2022 | 14:36 WIB
SPESIAL: Beduk berukuran jumbo di Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
SPESIAL: Beduk berukuran jumbo di Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Selain memiliki arsitektur bangunan yang unik, salah satu saya tarik Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi adalah beduk dengan ukuran besar.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi H Kadapi Kadiso menuturkan, Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi tidak meninggalkan beduk sebagai salah satu alat komunikasi.

Sebagai daya tarik, beduk yang kini diletakkan di pojok sebelah utara teras masjid dipesan secara khusus dari Demak, Jawa Tengah, dengan ukuran paling besar yakni XXXL.

Beduk berukuran panjang dua meter dan diameter mencapai satu meter ini, tidak hanya dibunyikan saat salat. Beduk itu juga pernah digunakan untuk lomba tabuh beduk saat malam Hari Raya Idul Fitri 1443 H. ”Beduk ini terbuat dari kulit sapi yang paling lebar dan besar dan kami pesan khusus dari Demak,” terangnya.

Penggunaan beduk di Indonesia sangat erat kaitannya dengan budaya Islam. Sebab, beduk digunakan sebagai alat penanda datangnya waktu salat. Walaupun tergolong sebagai alat tradisional dan sekarang sudah ada teknologi pengeras suara, beduk masih tetap digunakan sebagai penanda datangnya waktu salat.

Jauh sebelum difungsikan sebagai alat penanda datangnya waktu salat, beduk telah digunakan dalam kegiatan komunikasi tradisional. Antara lain sebagai penanda bahaya, ibadah atau ritual keagamaan, atau tanda untuk berkumpulnya warga.

Pegiat Komunitas Pegon Banyuwangi Ayunk Notonegoro mengatakan, dari sejumlah literatur disebutkan bahwa beduk memiliki fungsi sebagai tanda atau media untuk mengumpulkan warga dari berbagai desa dalam rangka persiapan untuk perang. Bahkan, dalam Kidung Malat, pupuh XLIX disebutkan bahwa beduk berfungsi sebagai media untuk mengumpulkan penduduk dari berbagai desa dalam rangka persiapan perang.

Kitab sastra berbentuk kidung, seperti Kidung Malat, ditulis pada masa pemerintahan Majapahit. Saat itu nama ”beduk” belum biasa digunakan. Istilah lainnya adalah ”teg-teg”, kelompok membrafon menyerupai beduk. Fungsinya sebagai pemberi tanda atau pertanda bunyi (time signal).

Kemudian penjelajah Belanda, Cornelis de Houtman (1595–1597) dalam D’eeste Boek—sebuah catatan pelayaran Belanda yang pertama ke Nusantara mencatat keberadaan beduk, bonang, gender, dan gong. Houtman menulis bahwa beduk populer dan tersebar luas di Banten. Di setiap perempatan jalan terdapat sebuah genderang yang digantung dan dibunyikan dengan tongkat pemukul yang tergantung di sebelahnya.

Seorang Cina-Muslim, Laksamana Haji Muhammad Cheng Hoo dan pasukannya pernah datang sebagai utusan dari Maharaja Ming. Dia yang mempertunjukkan beduk di Jawa, ketika memberi tanda baris-berbaris ke tentara yang mengiringi. Konon, ketika Cheng Hoo hendak pergi dan memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan, bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara beduk dari masjid. ”Sejak itulah beduk menjadi bagian dari masjid seperti halnya beduk di kuil-kuil di Tiongkok, Korea, dan Jepang, sebagai alat komunikasi ritual keagamaan,” jelas Ayunk.

Keberadaan beduk, lanjut Ayunk, semakin masif kemudian dikaitkan dengan penyebaran agama Islam oleh Wali Songo sekitar abad ke-15 dan abad ke-16. Hal ini dilakukan seperti ditulis Kees van Dijk dalam buku Perubahan Kontur Masjid.

Sebelum abad ke-20 masjid-masjid di Asia Tenggara belum memiliki menara untuk mengumandangkan azan. Sebagai gantinya, para Wali Songo melengkapi masjid-masjid dengan sebuah genderang besar (beduk) yang dipukul sebelum azan dikumandangkan. Dalam hal ini, tampaknya fungsi beduk bukan semata untuk mengumandangkan azan tetapi sebagai strategi dakwah dari Wali Songo. Khususnya Sunan Kalijaga untuk mempercepat penerimaan masyarakat terhadap agama Islam.

Beduk diletakkan di beranda atau di lantai masjid. Ada juga yang diberi rumah kecil, terpisah dari masjid. Jika masjid memiliki gerbang besar, beduk sering diletakkan di atasnya. Suara beduk, pada waktu belum ada pengeras suara, lebih nyaring daripada suara manusia dan menjadi alat komunikasi yang penting untuk menandai dan merayakan momen-momen keagamaan.

Masjid juga sering memiliki alat komunikasi lain sebagai teman beduk yakni kentongan, kohkol, kerentung, atau ketuk-ketuk, yakni semacam tetabuhan yang terbuat dari batang kayu. Alat ini, bersama beduk, digunakan untuk memperingatkan orang-orang sebelum azan berkumandang.

Selain untuk memberi tahu warga desa atau kampung bahwa waktu salat sudah tiba, pukulan beduk juga menandai awal dan akhir puasa serta hari raya haji. Kebiasaan itu umum berlaku di seluruh pelosok nusantara.

Belakangan, tak semua umat muslim di Indonesia menerima kehadiran beduk di masjid-masjid. Beduk akrab dengan warga Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan, pada Muktamar ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tahun 1936, kembali mengukuhkan penggunaan beduk dan kentongan di masjid-masjid karena diperlukan untuk syiar Islam. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#budaya #Beduk #cheng hoo #masjid