Hal itu terungkap saat tim panitia menggelar rapat Selasa (2/8). Bukan sekadar membahas konsep acara, rapat kali ini juga membahas detail pameran tersebut, termasuk rencana menggelar roadshow ke seniman-seniman lokal yang karyanya bakal dipamerkan.
Rapat dihadiri oleh kurator ternama asal Gorontalo I Wayan Seriyoga Parta, owner Langgar Arts Imam Maskun, perupa Windu Pamor, dan kurator lokal sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi.
Sekadar diketahui, kurator Yoga adalah seorang dosen seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Dia sukses menggelar berbagai event nasional. Di antaranya Project Seni Inovatif dan Kolaboratif Leang Leang di Fort Rotterdam Makassar.
Selain itu, rapat kali ini juga membahas kuratorial karya serta pentingnya mempertimbangkan display dengan arsitektur lokasi pameran. Terlebih, pameran bakal digeber di gedung yang kini menjadi salah satu landmark Banyuwangi, yakni Gedung Juang ’45.
”Kami datang ke Banyuwangi diundang Pak Imam Maskun untuk memetakan seperti apa konsep pameran ArtOs Nusantara nanti. Gedung tempat pameran sudah didesain cukup menarik. Gedung ini sangat monumental. Tinggal menetapkan porsi ruangannya,” kata Yoga.
Dia menuturkan, selain pameran, sejumlah karya seni rupa yang lain juga bakal dipamerkan pada event ArtOs Nusantara. ”Ini sekaligus kolaborasi seniman untuk merespons nilai art Gedung Juang,” pungkasnya.
Salah kurator Samsudin Adlawi mengatakan, ArtOs Nusantara diharapkan menjadi salah satu pemantik peningkatan kualitas karya seniman Banyuwangi. ”Maka, standar kurasinya harus jelas,” ujarnya.
Imam Maskun menambahkan, selain memamerkan karya lukisan di Gedung Juang, pihaknya juga menghadirkan seni kriya. Seni kriya adalah salah satu cabang seni rupa yang menghasilkan benda kerajinan (craft). ”Untuk seni kriya, lokasinya di depan Gesibu Blambangan. Gelaran ArtOs Nusantara kita rancang dengan skala lebih menasional,” kata sarjana Seni Rupa Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Malang) itu. (sgt/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud