Ritual adat Seblang Bakungan ini kembali dibuka untuk masyarakat umum setelah dua tahun tidak menerima tamu karena pandemi Covid 19. Tradisi seblang bakungan ini merupakan rangkaian tarian yang dibawakan oleh wanita tua dalam kondisi trans sembari memegang keris di kedua tangannya dan menarikan gerakan-gerakan magis yang membuat ritual ini menjadi tontonan menarik dan mampu menghipnotis para tamu.
Penari seblang Bakungan itu adalah Mbah Supani seorang wanita berusia 72 tahun yang telah menari seblang merupakan keturunan mbah Misnah yang telah pensiun menjadi seblang beberapa tahun silam. Dalam ritualnya, setelah pawang membacakan mantra, sesaat maka seblang langsung kerasukan roh dan menari mengikuti irama gending yang mengiringinya.
Ketua Panitia Pelaksana, Lukman Hakim mengatakan, bagi masyarakat Kelurahan Bakungan tradisi dan budaya Seblang ini bukan sekedar ritual tradisi. Namun cara masyarakat menunjung tinggi adat budaya agar tetap lestari. “Melalui event ini kami menguatkan semangat gotong royong, pemahaman dan pelestarian budaya. Sehingga tradisi dan budaya lokal tetap tumbuh subur di tengah-tengah modernitas yang terus berkembang di masyarakat,” ujar lelaki yang akrab disapa Lucky ini.
Ritual seblang Bakungan, kata Lucky dimulai dari prosesi Ider bumi, warga di kelurahan Bakungan menyiapkan prosesi ritual adat seblang dengan cara menyuguhkan bermacam – macam ubo rampe di antaranya terdiri dari tumpeng, pecel pitik, tumpeng ketan parutan kelapa muda dan gula merah, wanci suruh kinangan, kembang dermo/ untaian bunga, tumpeng takir, boneka,caping/ topi petani, cemeti,singkal (alat membajak sawah) dan kelapa gading. Ada juga tebu hitam, sekar setaman, dan kemenyan yang terus dibakar selama ritual seblang berlangsung.
Ritual adat seblang dimulai usai selamatan dengan makan bersama-sama pecel pitik. Usai selametan atau makan bersama itu, kemudian penari masuk ke pentas yang ditempatkan di depan balai sanggar atau balai dusun di lingkungan setempat.
Wanita tua itu kemudian dibacakan mantra-mantra oleh sesepuh adat dan langsung tidak sadarkan diri dan kemudian menari dalam keadaan trans selama kurang lebih empat jam mengikuti irama gending – gending dan syair-syair yang di bawakan sinden.
Tidak jauh berbeda dengan seblang olehsari, saat gending Kembang Gadung dilantunkan, para penonton berebut untaian bunga darmo dengan mengganti uang sebagai tebusan sebesar Rp 5 ribu untuk dua buah kembang darmo. Bagi yang mempercayai, kembang darmo ini akan mempermudah mendapatkan jodoh, pelaris usaha, obat penyakit dan penyubur tanaman.
Menurut Lucky, sebagai rangkaian dalam ritual tradisi seblang kali ini sangat meriah karena juga digelar bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tenda UMKM berjajar rapi di sepanjang jalan menuju arena pertunjukkan seblang dilaksanakan. “ Bazar UMKM ini dikemas dalam satu rangkaian event ritual adat seblang dengan melibatkan pelaku UMKM setempat,” jelas Lucky
Dalam bazar ini, para pelaku UMKM menjual dagangannya mulai dari jajanan tradisional hingga kue kekinian. Tak hanya makanan, produk fashion pun turut meramaikan bazar, seperti batik, kaos lokal brand dan juga kerajinan tangan.
UMKM di bazar ini laris, terlihat dari dagangan yang mereka jual sudah pada habis terjual. Pelapak Pentol Bakar Om Robin mengungkapkan, jika dagangannya ludes terjual dengan banyaknya pengunjung. “Saya benar-benar terbantu, ini merupakan acara yang bisa membantu memulihkan ekonomi. Saya berharap kegiatan ini dapat terus terlaksana dan melibatkan pelaku UMKMm” jelas Robin.
Sementara itu, Camat Glagah Nanik Machrufi menambahkan, ritual adat seblang bakungan ini dilaksanakan diawali dengan tumpengan bersama warga setempat di sepanjang jalan menuju Kelurahan Bakungan yang dimulai usai menunaikan salat maghrib.
Acara dilanjutkan dengan ider bumi pawai oncor (obor) yang mengelilingi Kelurahan Bakungan. Selanjutnya, warga akan makan tumpeng bersama di sepanjang jalan. “Warga dan pengunjung boleh ikut makan bersama. Adat seblang ini juga bertujuan untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan alam melalui selamatan bersih desa, agar Masyarakat Bakungan mendapatkan berkah keselamatan dan kesehatan melalui alam disampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tandas Nanik. (ddy) Editor : Gerda Sukarno Prayudha