Tak hanya kaum pria dewasa, kaum perempuan baik mulai dari anak-anak hinga remaja tampak ikut meramaikan tradisi tersebut. Mereka seolah ingin menunjukan jika pencak sumping masih dipelajari generasi muda di tanah Blambangan. Berbagai jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata dengan lincah dipertontonkan dihadapan ratusan orang memadati jalan kecil di Dusun Mondoluko.
Tak ketinggalan, iringan musik mengikuti langkah dari pesilat yang tengah memainkan jurus-jurusnya. Ketua adat Mondoluko, Rhayais mengatakan, tradisi ini masih terus berjalan dan selalu digelar di saat Hari Raya Idul Adha. Dulunya, tradisi ini bermula dari leluhur Dusun Mondoluko, yaitu Buyut Ido yang mengalami kekalahan akibat melawan pendekar suruhan penjajah Belanda.
Tubuh Buyut Ido terkoyak atau dalam bahasa Osingnya modol-modol dan terluka setelah pertarungan itu berlangsung. Kejadian itu juga lah yang kemudian menjadi asal muasal nama Dusun Mondoluko. Yaitu dari kata Modol (terkoyak) dan Luko (terluka). "Sejak saat itu generasi ke bawah diminta berlatih silat. Untuk membela diri, waktu yang lain berlatih, kaum ibu memasak sumping (kue nagasari). Jadi disebut pencak sumping," kata Rahayis.
Namun, saat ini karena pelaksanaan tradisi tak lagi dilakukan untuk mencegah agresi penjajah, pelaksanaan pencak sumping lebih mirip kepada ajang silaturahmi para pesilat. Sumping disajikan sebagai hidangan kepada tamu di tengan acara. "Ada juga saat atraksi tanding dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan. Biasanya pendekar yang menang akan menyumpal mulut lawan yang kalah dengan kue sumping," tutup pria yang akrab disapa Rayis itu. (fre/afi) Editor : Syaifuddin Mahmud