Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Peringati Idul Adha, Masyarakat Mondoluko Sajikan Pencak Sumping

Syaifuddin Mahmud • Selasa, 12 Juli 2022 | 14:36 WIB
TRADISI RUTIN: Anggota pencak sumping menampilkan kebolehanya di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Minggu (10/7). (Disbudpar Banyuwangi for RaBa)
TRADISI RUTIN: Anggota pencak sumping menampilkan kebolehanya di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Minggu (10/7). (Disbudpar Banyuwangi for RaBa)
GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Salah satu budaya yang masih lestari digelar masyarakat osing Banyuwangi di tengah perayaan Idul Adha, yaitu pencak sumping, Minggu (10/7) kembali digelar di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Puluhan pesilat dari beberapa wilayah di Banyuwangi datang untuk ikut unjuk kebolehan dalam tradisi tersebut.

Tak hanya kaum pria dewasa, kaum perempuan baik mulai dari anak-anak hinga remaja tampak ikut meramaikan tradisi tersebut. Mereka seolah ingin menunjukan jika pencak sumping masih dipelajari generasi muda di tanah Blambangan. Berbagai jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata dengan lincah dipertontonkan dihadapan ratusan orang  memadati jalan kecil di Dusun Mondoluko.

Tak ketinggalan, iringan musik mengikuti langkah dari pesilat yang tengah memainkan jurus-jurusnya. Ketua adat Mondoluko, Rhayais mengatakan, tradisi ini masih terus berjalan dan selalu digelar di saat Hari Raya Idul Adha. Dulunya, tradisi ini bermula dari leluhur Dusun Mondoluko, yaitu Buyut Ido yang mengalami kekalahan akibat melawan pendekar suruhan penjajah Belanda.

Tubuh Buyut Ido terkoyak atau dalam bahasa Osingnya modol-modol dan terluka setelah pertarungan itu berlangsung. Kejadian itu juga lah yang kemudian menjadi asal muasal nama Dusun Mondoluko. Yaitu dari kata Modol (terkoyak) dan Luko (terluka). "Sejak saat itu generasi ke bawah diminta berlatih silat. Untuk membela diri, waktu  yang lain berlatih, kaum ibu memasak sumping (kue nagasari). Jadi disebut pencak sumping," kata Rahayis.

Namun, saat ini karena pelaksanaan tradisi tak lagi dilakukan untuk mencegah agresi penjajah, pelaksanaan pencak sumping lebih mirip kepada ajang silaturahmi para pesilat. Sumping disajikan sebagai hidangan kepada tamu di tengan acara. "Ada juga saat atraksi tanding dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan. Biasanya pendekar yang menang akan menyumpal mulut lawan yang kalah dengan kue sumping,"  tutup pria yang akrab disapa Rayis itu. (fre/afi) Editor : Syaifuddin Mahmud
#beladiri #Pencak Sumping #budaya #olahraga #wisata