Pergelaran seni teater tersebut ditampilkan oleh duta seni pelajar dari SMP Muhammadiyah 5 Siliragung yang membawakan lakon berjudul Babad Blambangan. Berkisah tentang pemberontakan besar-besaran yang dilakukan Adipati Kerajaan Blambangan Kebo Marcuet kepada Ratu Majapahit yang dipimpin Ratu Ayu Kencana Wungu.
Dalam teater itu diceritakan, Adipati Kebo Marcuet terkenal sebagai sosok yang sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau. Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas
Akhirnya, Ratu Ayu Kencana Wungu membuka sayembara untuk mengalahkan Adipati Kebo Marcuet. Datanglah seorang pemuda tampan nan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah putera Ki Ajar Pamenger. Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Dengan senjata pusaka gada wesi kuning dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun, Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.
Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan Adipati Kebo Marcuet. Ia pun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan yang baru dengan gelar Minak Jinggo. Akan tetapi, Ratu Ayu Kencana Wungu menolak menikah dengan Jaka Umbaran karena pemuda itu kini tidak lagi tampan akibat pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet.
Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minak Jinggo ingin menyerang kerajaannya. Maka, digelar sayembara kedua. Datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan. Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti pun terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Minak Jinggo. Damarwulan pun dimasukkan ke dalam penjara.
Kedua selir Minak Jinggo, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minak Jinggo terlelap. Pusaka itu kemudian mereka berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan pun kembali menantang Minak Jinggo untuk bertarung. Alangkah terkejutnya Minak Jinggo saat melihat senjata pusakanya ada di tangan Damarwulan. Minak Jinggo pun tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan.
Drama teater itu dikemas dengan sangat apik oleh para seniman pelajar SMP Muhammadiyah 5 Siliragung. Selain aksi teater itu, para siswa duta seni pelajar dari SD, SMP, hingga SMA juga tak mau kalah dengan menampilkan atraksi seni tari di antaranya tari kreasi jaranan dari SMPN 2 Siliragung, tari rantak dari siswa SMPN 1 Siliragung, dan tari gandrung. (ddy/afi/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid