Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelaran Festival Budaya Nusantara Diawali Gesah Budaya Dua Tradisi

Syaifuddin Mahmud • Minggu, 5 Juni 2022 | 15:14 WIB
MUHIBAH BUDAYA: Art Director PLS Sanggam Husnizar Hood menceritakan budaya dan kesenian Tanjung Pinang di hadapan budayawan Banyuwangi di pelinggihan Disbudpar, Jumat (2/6) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MUHIBAH BUDAYA: Art Director PLS Sanggam Husnizar Hood menceritakan budaya dan kesenian Tanjung Pinang di hadapan budayawan Banyuwangi di pelinggihan Disbudpar, Jumat (2/6) lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Gesah budaya dua tradisi yang diselenggarakan di pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi berlangsung gayeng kemarin (2/6). Narasumber gesah budaya adalah Husnizar Hood selaku Art Director PLS Sanggam Tanjung Pinang dan Punjul Ismuwardoyo selaku Dewan Penasihat Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi.

Acara yang dipandu moderator Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi itu benar-benar menjadi media saling bertukar informasi seni budaya antara dua daerah, yakni Tanjung Pinang dan Banyuwangi. Husnizar mengaku muhibah budaya negeri kata-kata yang ditampilkan dalam Festival Budaya Nusantara di Banyuwangi merupakan tampilan seni yang lengkap.

Selama satu jam, duta seni dari Tanjung Pinang menampilkan tari-tarian dan pembacaan puisi, serta gurindam 12 yang sangat fenomenal. Tarian sungai cinta menceritakan sejarah Tanjung Pinang dan sebuah kisah percintaan yang tragis. ”Berkesenian dan seni ini hidupnya akan lebih panjang dari usia kita. Kami di Tanjung Pinang sangat diuntungkan dengan adanya Raja Ali Haji dengan mahakarya Gurindam 12 dan bercerita tentang banyak hal. Menulis dan membaca sudah biasa dan menjadi tradisi bagi warga kami di Tanjung Pinang,” kata Huznizar.

Punjul Ismuwardoyo menjelaskan, pelaku seni budaya di Banyuwangi hingga kini masih memegang teguh pakem. Begitu pula pemilik sanggar seni tari dalam menciptakan karya yang penuh kreasi tidak meninggalkan pakem. Dalam pelaksanaan ide garap, paran seniman bukan murni hasil pemikiran dirinya, melainkan terinspirasi karya lain. ”Penyakitnya seniman itu merasa paling hebat dan paling di antara semuanya,” katanya.

Dalam setiap penampilan seni, kata Punjul, diperlukan adanya tim artisik dan produksi. Jika tidak dibentuk, dalam seni pertunjukan ada sesuatu yang kurang pas. Termasuk kurator yang mengerti akan selera penonton.  (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#seni #budaya daerah #gesah budaya #tanjung pinang #festivak budaya nusantara #banyuwangi