Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Om Kosmas Bangkit dari Kematian

Ali Sodiqin • Sabtu, 28 Mei 2022 | 19:26 WIB
(Grafis: Reza Fairuz/Radar Banyuwangi)
(Grafis: Reza Fairuz/Radar Banyuwangi)
ITU praktik mistik-magis dan tidak memiliki dasar dalam kehidupan sosio-kultural,” Pastor Bene berbicara di depan umatnya ketika berkunjung ke stasi St. Andreas Inbate. Di aula serbaguna yang kecil itu, kira-kira dipadati oleh 500 orang dan hujan di luar masih berguguran. Om Tinus dan Maria duduk dengan wajah cemberut, seperti ada rasa sedih di mata sepasang suami istri itu. Sesekali Om Tinus mengangkat kepala dan mengangguk pelan mendengar pastornya berbicara dengan gaya seperti dewan perwakilan rakyat.

Keributan mulai timbul ketika ketua Kelompok Umat Basis atau yang disebut KUB St. Arnoldus berbicara dengan nada tinggi tapi terbata-bata. Ia membuat situasi yang hening kini mulai gaduh, di saat pastor paroki memberi kesempatan pada Om Sipri, si Ketua KUB untuk berbicara. Banyak orang marah. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang mengeluh lapar, ada pula yang mencegat Om Sipri agar tak bersuara.

”Itu Tuhan kedua, awas kamu melawan Tuhan,” begitulah orang-orang di kampung selalu punya prasangka segan akan pastor, padahal pastor adalah pemimpin. Bukankah seorang pemimpin adalah pelayan yang melayani umatnya? Apa salahnya jika pendapat umat diajukan.

”Selamat siang yang mulia, Bapa Pastor. Saya ingin....” ketua KUB itu diam lama, ia berdiri dengan keadaan setengah gemetar. Om Tinus yang duduk di sampingnya berusaha untuk memeluk Maria yang sudah lama menahan lapar dan perasaan kacau, akibat keputusan pastor yang menjadi sebuah masalah baru di paroki itu. Sedang Om Sipri masih berdiri dengan rasa takut menyelimuti pikirannya ketika menatap wajah Pastor Bene. Tiba-tiba kepalanya dibayang-bayangi oleh masa lalu yang membuatnya terluka, diingatnya hingga kini. Sebuah peristiwa kematian yang dialami oleh keluarganya.

***

Tepat setahun yang lalu, seorang bernama Kosmas alias Kosmas Paililu, meninggal dunia di rumahnya. Betapa anehnya, Kosmas meninggal dalam keadaan tenang di pangkuan kakaknya alias Om Sipri.

Dulu Kosmas adalah seorang yang perkasa, seorang pekerja kebun yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia memiliki anak 12 orang, perempuan 10 orang dan laki-laki 2 orang. Baginya memiliki banyak anak adalah anugerah. Meski tak mampu menyekolahkan mereka setidaknya mereka bisa bekerja kebun, merawat rumah, sapi, ayam, dan menikahi lelaki yang punya kekayaan. Efek dari anak banyak adalah Kosmas selalu bertindak keras kepada anak-anaknya. Jangankan anak-anaknya, seorang pastor saja berani ia bentak.

Kosmas tidak memiliki penyakit apa pun, bahkan sakit pun tidak. Tapi ia meninggal setelah bertengkar dengan Pastor Bene gara-gara uang derma yang belum selesai dilunaskan. Pastor paroki memanggilnya untuk mengklarifikasi apa sebabnya, ia tidak memberi derma Aksi Puasa Pembangunan. Padahal, derma itu penting untuk kelancaran ibadah Paskah nanti.

Kosmas, seorang yang keras kepala itu pergi ke rumah pastoran tepat pukul 12 malam, ketika situasi sunyi dan keadaan gelap gulita. Ia membuka gerbang dan membawa kayu sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Ia berjalan dengan penuh hati-hati memasuki area pastoran sambil menyeret kayu itu, lalu ia memecah kaca jendela pastoran. Pecahan kaca berhamburan di lantai, ketika itu situasi gelap gulita. Ia melakukan itu demi satu tujuan, yakni tanda protes terhadap pastor paroki. Ia melakukan itu mungkin karena ia malu sebab namanya telah berbau buruk di kuping umat paroki. Namanya menjadi bahan perbincangan di grup WhatsApp, Facebook, Instagram, dan di lingkungan sekitar akibat pengumaman sang pastor.

Setelah kejadian itu, paginya Pastor Bene berjalan keluar kamar menuju ruang. Sisa beberapa menit lagi akan ada ibadat pagi. Alangkah kagetnya ketika ia melihat sekitar pastoran telah dipenuhi pecahan kaca, terlihat dari luar kacanya bolong. Pastor Bene berpikir-pikir seakan mencurigai seseorang, tapi ia sadar bahwa mencurigai seseorang adalah sesuatu yang tidak baik. Satu-satunya jalan adalah mengamini peristiwa ini dalam doa.

Beberapa jam setelah Pastor Bene keluar dari gereja, ia kaget tak karuan melihat umat sudah berkumpul di depan pastoran, ada yang menggunakan mobil, motor, dan berjalan kaki. Emosi umat jadi tidak terkontrol ketika menyaksikan rumah pastoran yang dibangun umat dengan susah payah dihancurkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

”Tuan Pastor. Sebaiknya kita lapor polisi saja,” kata perempuan itu kepada Pastor Bene yang mulai merasakan kekacauan di sekitar wilayah pastoran. Si pastor itu pun dengan santun mengajak umat untuk tidak usah panik dan fokus pada pekerjaan mereka hari ini.

”Saudara-saudariku. Tenanglah. Mari kita mendoakan peristiwa ini. Semoga Tuhan memberikan kebenarannya untuk kita semua.”

Umat pun bergegas keluar dari area pastoran. Mereka yakin bahwa apa yang dikatakan oleh pastor itu benar. Setiap orang harus menerima musibahnya dengan lapang dada, sebab bisa saja dari musibah ini ada suatu kebaikan yang datang dari Allah.

Sementara di media sosial banyak informasi tentang rumah pastoran yang rusak diteror oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Gosip-gosip mulai memanas di media online yang menulis berita dengan judul Pastor Bene Minum Moke dan Memukul Kaca Jendela Pastoran, dan begitu banyak kontroversi berita yang disajikan. Tentu ini menarik perhatian pembaca, tetapi belum pasti kebenarannya alias banyak hoaks. Begitulah wartawan zaman sekarang yang suka sekali memberikan informasi pada publik tanpa bukti kebenaran.

Sementara itu, Om Kosmas malah tersenyum memandang kopi yang hampir dingin di hadapannya. Ia merasa sangat puas melakukan aksinya semalam. Seakan merasakan suatu kemenangannya yang luar biasa seperti tim nasional sepak bola Indonesia U-23 menang melawan Timnas Malaysia, si musuh bebuyutan dengan skor telak 4-0.

Hari demi hari Om Kosmas jalani dengan rasa semangat. Ia aktif di media sosial, tapi anehnya Om Kosmas selalu menggunakan bahasa maki dan sindiran terhadap pemimpin agama yang katanya selalu munafik. Ada pula hal aneh, suatu hari di bulan lalu, di dekat pohon asam di belakang rumahnya, Om Kosmas menaruh makanan di pohon yang akar-akranya menjulur keluar itu. Ada beberapa darah ayam di atas batu tulis tepat di kaki pohon. Di atas batu itu ada sirih, pinang, dan biji padi serta jagung yang sudah lama. Ia mengangguk-angguk di pohon itu seolah-olah pohon itu bisa berbicara seperti manusia.

Maria, anak Om Kosmas, suka sekali melihat ayahnya melakukan ritual mistik itu. Bagi Maria, setiap kali melihat ayahnya bergoyang-goyang di depan pohon itu, ia juga turut bergoyang. Ia bisa merasakan musik seruling bambu dan gendang merdu mengoyak tubuhnya. Ia merasakan pula seperti tubuh ular besar bergetar dan menyetir tubuhnya. Ritual itu berlangsung selama 1 jam penuh.

Om Kosmas tersenyum lebar ketika adiknya datang dan memberi informasi terkait kasus perusakan kaca jendela pastoran. Om Sipri mengatakan bahwa Pastor Bene sekarang sudah bakar lilin merah dan novena. Kalau pastor sudah begitu, maka celakalah oknum kriminal itu karena pasti petaka besar akan segera terjadi.

Tapi lagi-lagi Om Kosmas tak menghiraukan pembicaraan adiknya. Ia malah mengarahkan pembicaraannya tentang ritual adat Hel Keta sebab tidak lama lagi anaknya akan melangsungkan pernikahan. Ia tertawa bahagia seolah-olah dunia ini sedang menjadi yang terbaik baginya. Ia tertawa karena sedikit lagi dia akan mendapat uang dari mahar pernikahan anaknya itu.

Om Sipri mencegatnya untuk tidak usaha tertawa berlebihan, sebab ia merasakan suatu kejanggalan yang tak biasanya. Tatapan dan suara Om Kosmas itu seperti sesuatu yang tak wajar.

Teguran Om Sipri tak berbuah apa-apa. Malah yang terjadi Om Kosmas tertawa sampai merebahkan kepalanya di pangkuan Om Sipri, semakin lama ia tertawa, semakin pelan suaranya. Wajah lelaki itu dingin, matanya tertutup rapat, denyut nadinya tak berdaya lagi. Kosmas meninggal.

”Kosmas su tiada. Ini pasti karma karena dia pun ulah bikin rusak rumah pastoran.”

Om Sipri yang kurus itu diam sambil meneteskan air mata sedih. Tidak ada yang bisa terulang lagi kecuali menerima kenyataan menjadi kenangan. Ia melihat Kosmas tersenyum, tapi menyisakan tanda tanya dan itu yang membuat kepala Sipri terus menghantui kematian yang tak terduga itu.

***

”Tinus… Om su sadar,”

”Cepat ambil air.”

”Om. Om, Om Sipri”

Matanya samar-samar, mula ada warna putih, kemudian berubah menjadi seng, ia melihat kumis tebal Om Tinus sangat hitam pekat dan menyeramkan. Ia tak tahu kalau Om Tinus yang sedari tadi mengantarnya ke rumah. Suaranya lesu dan ia baru sadar ternyata ia sedang berada di rumah Om Tinus, setelah hampir 3 jam pingsan di waktu acara Rapat Dewan Paroki yang sedang berlangsung panas.

Om Sipri membuka mulut, kemudian berbicara kepada Om Tinus apakah Om Tinus masih mengingat Kosmas, kakak kandungnya yang kini telah tiada. Ia meninggal setahun yang lalu akibat merusak kaca jendela pastoran.

Om Sipri memberi petuah kepada Tinus agar tidak mengadakan upacara Hel Keta, sesuai instruksi dari pastor. Sebab ia menegaskan bahwa apa yang dibicarakan oleh pemimpin gereja tidak boleh dilanggar, ia tidak mau mati sia-sia, mati tanpa berkat dari Tuhan.

Istri Om Tinus sedang di dapur, menyiapkan jagung rebus dan kopi pahit. Perbincangan diberhentikan, ketika melihat sosok yang datang dengan wajah semringah, membawa bokor berisi jagung rebus dan bubuk kopi. Om Tinus dan Om Sipri mengusap-usap mata mereka. Mereka tak yakin dengan seseorang yang berada di depan mereka. Seperti wajah Kosmas.Yah, itu Kosmas.

”Tapi bukannya Bapak Kosmas sudah meninggal?”

”Itu dia, Kosmas.”

Lalu di manakah Maria, istri Om Tinus? (*)

----------------

*) Yohan Mataubana, lahir di Kupang. Buku kumpulan puisinya berjudul  ”Berakhir Pekan di Matamu” (2021). Penulis bergiat sastra di KPB, KEPUL, KMD ELIPS, dan Teater Aletheia. Penulis kini mengelola komunitas literasi PETIR. Editor : Ali Sodiqin
#cerpen #budaya #Yohan Mataubana #cerita pendek #Om Kosmas Bangkit dari Kematian