Tradisi Kebo-keboan Watukebo ialah satu dari beberapa rangkaian ritual ”Bersih Deso” (Bersih Desa) atau mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta agar desa diberikan keselamatan dari marabahaya dan panen padi melimpah karena mayoritas warga Desa Watukebo adalah petani.
Tokoh masyarakat Desa Watukebo Ali Mansyur mengatakan, tradisi Kebo-keboan Watukebo tidak terlepas dari asal-usul Desa Watukebo. Menurut cerita leluhur, ketika berlangsung lamaran dari Majapahit menuju Bali, putri dari Bali meminta persyaratan 44 ekor kerbau.
Saat akan melanjutkan perjalanan, salah satu kerbau tertidur pulas dan susah dibangunkan oleh Buyut Tiki Siem yang menggembala seserahan dari kerjaan tersebut. Kerbau tersebut membandel, lalu dikutuk hingga menjadi batu. Hingga kini batu itu pun masih ada dan terjaga. Lokasinya di areal SDN 1 Watukebo. ”Tradisi ini bagian ikhtiar untuk meminta keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya, setiap tahun acaranya dilakukan swadaya masyarakat,” kata Ali Mansyur.
Tradisi Kebo-keboan dilaksanakan pada hari kedua belas bulan Syawal. Sedangkan hari ke-11 dilakukan prosesi Ider Bumi mengelilingi desa usai salat Magrib berjamaah. Di setiap sudut desa dikumandangkan azan. Iring-iringan Ider Bumi mengelilingi desa sembari membaca selawat, kemudian dilanjutkan khataman Alquran, lalu dilanjutkan prosesi ritual Kebo-keboan Watukebo di Balai Desa Watukebo. ”Semoga dengan tradisi ini, Banyuwangi dan khususnya Desa Watukebo diberikan keselamatan dan keberkahan,” harap Ali Mansyur. (ddy/aif/c1) Editor : Ali Sodiqin