GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Mata Susi Susanti boleh terpejam. Namun, tangan, kaki, maupun tubuh perempuan berusia 21 tahun itu terus bergerak. Mengikuti irama gending Oseng yang diiringi gamelan di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jumat siang (6/5).
Tak segemulai gerak tari pada umumnya, memang. Namun, begitu Susi mulai menari, wajah-wajah para tokoh adat dan sejumlah warga yang semula tampak tegang seketika berubah. Mereka tersenyum, memancarkan ekspresi kebahagiaan.
Ya, Susi bukanlah penari biasa. Tahun ini, dia adalah ”maskot” ritual Seblang Olehsari. Perempuan yang baru sekitar tiga bulan lalu menikah tersebut menari dengan kondisi kesurupan. Warga meyakini, saat menari seblang, Susi dirasuki roh leluhur warga desa setempat.
Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tahun ini merupakan kali ketiga Susi didaulat menjadi seblang. Sebelumnya, dia sudah menjalankan ”tugas” serupa pada tahun 2018 dan 2019.
Sedangkan pada 2020 dan 2021, ritual tari seblang terpaksa tidak digelar lantaran terbentur pandemi Covid-19. Pada dua kesempatan itu pula masyarakat hanya melaksanakan ritual, yakni selamatan nasi tumpeng, nasi gurih, krawu sayur, dan pecel pitik (ayam) kampung.
Ketua Paguyuban Adat Seblang Olehsari Ansori membenarkan ritual seblang tidak digelar pada tahun 2020 dan 2021. ”Masyarakat Olehsari selalu menunggu-nunggu ritual ini. Alhamdulillah, tahun ini selamatan ini bisa digelar,” ujarnya.
Ansori menuturkan, tidak semua orang bisa menjadi seblang. Sebaliknya, penari seblang adalah sosok yang dipilih oleh arwah leluhur melalui perantara masyarakat adat yang kesurupan, yakni Zaini. ”Begitupun saat penari seblang menari, yang merasuki adalah roh leluhur,” jelasnya.
Ansori menambahkan, biasanya, sosok yang dipilih sebagai penari seblang adalah gadis atau perempuan yang belum menikah. Namun, lantaran Susi sudah dua kali menjadi seblang, tahun ini dia kembali dipercaya menjalankan tarian ritual masyarakat Olehsari tersebut. ”Rata-rata satu penari seblang bertugas selama tiga kali. Karena Susi baru dua kali, keluarganya khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Syaratnya, selama ritual, Susi tidak diperbolehkan tidur satu ranjang dengan suaminya. Selain itu, tahun ini pun Susi tetap ditunjuk oleh leluhur menjadi penari seblang,” bebernya.
Kepala Desa (Kades) Olehsari Joko mengatakan, inti sari ritual seblang adalah selamatan desa. Kalau tidak dilaksanakan, masyarakat adat khawatir akan terjadi pagebluk. ”Ritual ini dilaksanakan dengan rasa gembira. Wujud syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat gotong royong menyukseskan kegiatan ini,” kata dia.
Camat Glagah Nanik Machrufi menyatakan, meski pandemi belum benar-benar berlalu, pihaknya mengizinkan ritual seblang digelar tahun ini. Syaratnya, panitia maupun seluruh warga yang hadir di arena seblang harus menaati protokol kesehatan (prokes). Terutama memakai masker. ”Selain itu, untuk melestarikan tradisi warga Olehsari, memupuk kekompakan dan rasa persaudaraan antarwarga, sekaligus mendorong geliat perekonomian masyarakat setempat,” pungkasnya.
Editor : Rahman Bayu Saksono