Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Belum Terdampak BBM Naik, Harga Kebutuhan Pokok Masih Stabil

Edy Supriyono • Jumat, 9 September 2022 | 14:05 WIB
BERDIALOG DENGAN PEDAGANG: Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi bersama jajaran forkopimda melakukan sidak di Pasar Senggol, Kelurahan Ardirejo, Rabu (7/9). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
BERDIALOG DENGAN PEDAGANG: Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi bersama jajaran forkopimda melakukan sidak di Pasar Senggol, Kelurahan Ardirejo, Rabu (7/9). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
PANJI, Jawa Pos Radar Situbondo – Meski harga bahan bakar minyak (BBM) naik sejak empat hari lalu, namun di Kabupaten Situbondo ternyata masih belum berdampak terhadap harga kebutuhan pokok. Setidaknya itu bisa dilihat saat Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi bersama jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar tradisional, Rabu (7/9).

Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi mengatakan, sidak di pasar tradisional untuk mengecek ketersediaan kebutuhan pokok dan harga yang di jual di pasar. Hasil dari pengecekan diketahui bahwa harga kebutuhan pokok di pasar masih stabil.

“Saya hari ini memantau harga sejumlah bahan pokok yang ada di Pasar Senggol. Ada beberapa harga kebutuhan pokok yang naik, namun justru ada yang turun,” ujarnya, saat melakukan sidak di Pasar Senggol, Rabu (7/9).

Pria 55 tahun itu mengatakan, harga cabai rawit merah diketahui mengalami kenaikan mencapai Rp 45 ribu  perkilogram. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, satu kilogramnya masih Rp 40 ribu. Sedangkan harga cabai besar yang sebelumnya Rp 35 ribu perkilogram, kini menjadi Rp 52 ribu. Ada kenaikan harga sebesar Rp.20 ribu.

Sedangkanharga telur ayam, lanjut Bupati, justru turun. Sebelumnya satu kilogram harganya Rp 31 ribu.  Namun, kemarin turun menjadi Rp 28 ribu per kilogram. Padahal harga telur di atas Rp 30 ribu tersebut, sebelumnya bertahan cukup lama. Selain itu, harga bawang merah, bawang putih, tomat, kentang semuanya turun. “Ketersediaan bahan pokok dan harga di pasar masih aman,” cetusnya.

Pria yang akrab dipanggil Bung Karna itu menjelaskan, harga bahan pokok yang fluktuatif di pasar tradisional bukan karena kenaikan harga BBM. Namun karena hukum permintaan. Semakin barang itu banyak dibeli masyarakat, secara otomatis mengakibatkan persediannya terbatas, dan menyebabkan harganya naik.  Demikian pula sebaliknya. Semakin banyak barang yang tersedia di pasar maka harganya akan semakin turun. “Meski BBM naik belum memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasar,” ungkapnya.

Bupati mengajak masyarakat turut serta mengendalikan harga kebutuhan pokok agar tetap stabil di pasar. Sehingga, tidak mengalami kenaikan di tengah naiknya harga BBM. Itu bisa dilakukan dengan cara membatasi jumlah konsumsi bahan pokok. “Misalnya harga telur naik, maka kurangi mengonsumsi telur. Atau saat harga cabe mahal maka kurangi konsumsi cabai,” harapnya.

Bung Karna mengaku, dalam waktu dekat pemerintah daerah akan memberikan subsidi kepada masyarakat. Jumlahnya tidak banyak. Namun diharapkan bisa meringankan beban masyarakat. “Bantuan itu untuk meringankan beban masyarakat. Sekaligus bisa menjaga inflasi di daerah agar tidak begitu tinggi,” ucap pria asal Kecamatan Arjasa itu.

Kata dia, inflasi perlu dikendalikan. Efek domino dari naiknya harga BBM akan merambat terhadap kenaikan lainnya. Salah satunya jasa transportasi. “Inflasi ini harus dikendalikan agar pertumbuhan ekonomi bisa mengalami peningkatan. Kalau inflasi terus naik ini yang berbahaya,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#BBM Naik #pertalite #pertamax #harga bbm #sembako