RadarBanyuwangi.id – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi terus berupaya untuk mempertahankan keberlanjutan swasembada pangan di Bumi Blambangan.
Berbagai langkah dilakukan untuk memastikan jumlah hasil panen tanaman padi surplus dibanding yang dikonsumsi masyarakat.
Sekretaris Dispertan Ilham Juanda membeber langkah-langkah yang dilakukan untuk menjaga swasembada pangan di Banyuwangi. Pertama, mempertahankan luas lahan sawah.
”Salah satunya melalui peraturan daerah (perda) tentang lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) atau lahan abadi pertanian,” ujarnya.
Langkah kedua adalah adaptasi perubahan iklim. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan padi varietas unggul yang lebih cepat panen untuk mengantisipasi cuaca yang tidak menentu.
”Padi varietas padi unggul sehingga bisa panen di umur 70–80 hari,” kata dia.
Upaya menjaga swasembada pangan yang ketiga dilakukan dengan diseminasi implementasi teknologi budi daya padi. ”Kita perlu meningkatkan teknologi petani,” jelasnya.
Langkah keempat adalah memanfaatkan pupuk alternatif sebagai pengganti pupuk bersubsidi. ”Karena seperti kita ketahui, pemerintah membatasi kuota pupuk bersubsidi,” terangnya.
Yang kelima, Dispertan mendorong mekanisasi alat mesin pertanian (alsinta) untuk meningkatkan efisiensi tanam.
”Bahkan sekarang penanaman padi sudah bisa dilakukan di pekarangan rumah, di luar hamparan sawah,” ujarnya.
Ilham menyebut, luas lahan tanaman padi di Banyuwangi pada 2021 mencapai 118.319 hektare (ha), di tahun 2022 seluas118.425 ha, sedangkan tahun 2023 mencapai 118.745 ha.
”Untuk tahun ini, terhitung Januari sampai September 2024 tanah yang tercatat menjadi lahan padi 91.508 hektare,” ujarnya.
Ilham menambahkan, dengan penduduk kurang lebih 1,7 juta jiwa, Banyuwangi setiap tahun mengalami surplus beras.
Pada tahun 2021 surplus 338.907 ton. Di tahun 2022 surplus 338.274 ton. Selanjutnya, pada tahun 2023 surplus 338.884,99 ton.
”Untuk tahun ini mulai Januari sampai September total 389.919 ton beras yang dihasilkan, sedangkan yang dikonsumsi sebanyak 122.542,28 ton, sehingga tersisa 267.376,71 ton,” tambahnya.
Ilham berharap, pemanfaatan teknologi pertanian dapat mempertahankan bahkan meningkatkan produksi pertanian di Banyuwangi.
Selain itu, tanaman juga bisa beradaptasi dengan perubahan iklim. ”Sehingga keberlanjutan swasembada pangan terus terjaga,” harapnya. (cw3/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin