Jawa Pos Radar Banyuwangi – Kenaikan harga cabai tidak serta-merta dirasakan oleh petani. Di Wongsorejo tanaman cabai justru mengalami gagal panen. Petani pun banyak yang merugi pada musim panen kali ini.
Salah seorang petani asal Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Saiful Umari menuturkan, harga cabai mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir. Semula harga di tingkat petani Rp 26 ribu, kini menyentuh angka Rp 40 ribu per kilogram.
Sayangnya, kenaikan harga cabai belum sepenuhnya dirasakan oleh petani. Penyebabnya, kualitas panen cabai di Wongsorejo mengalami penurunan.
Serangan hama tungau dan kutu kebul mengakibatkan tanaman cabai rusak. Produksi cabai pun menurun dan harga di pasaran naik drastis.
”Ukuran cabai sekarang menyusut 40 sampai 50 persen dari ukuran aslinya. Daunnya keriting karena diserang hama. Bentuknya juga kurang bagus, harganya tidak sama dengan yang dijual di pasar Banyuwangi,” ungkap Umar.
Dikatakan Umar, panen cabai sempat normal sampai bulan Juli lalu. Per hektare petani bisa mendapatkan 800 kuintal sampai 1 ton panen setiap pekannya.
Sejak bulan September, kondisi memburuk akibat serangan hama yang semakin masif. Padahal jika menghitung waktu panen, petani masih bisa mendapatkan hasil minimal sampai bulan Desember.
Karena kondisi tanaman semakin rusak, banyak petani memilih menanam jagung di sela tanaman cabai.
”Meskipun harga naik, kami masih terbilang rugi. Tidak imbang dengan biaya pengairan, biaya petik, dan lainnya. Sekarang 80 persen petani di Wongsorejo mengganti tanamannya. Yang punya tanaman cabai tinggal sedikit,” imbuh Umar.
Dia berharap, pemerintah bisa segera tanggap mengatasi permasalahan hama. Saat ini petani tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi serangan hama.
”Petani tidak punya laboratorium untuk memeriksa. Perlu turun tangan pemerintah supaya tahu akar permasalahannya. Dengan turun tangan pemerintah. kami akan tahu cara mengatasi hama,” tegasnya.
Petani asal Desa Bangsring, Hendra Cipta menambahkan, dampak hama memang cukup memengaruhi hasil panen cabai tahun ini. Jika petani tidak merawat tanaman cabainya, dipastikan akan gagal panen.
Sedangkan harga perawatan tanaman cabai membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Satu hektare lahan, petani membutuhkan biaya antara Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta untuk menyemprot tanaman dengan obat antihama.
Banyak petani di Wongsorejo enggan merawat tanamannya yang sudah telanjur rusak akibat serangan hama. Lambat laun produksi cabai terus menurun.
”Produksi cabai di Banyuwangi selatan dan Wongsorejo berbeda. Di Wongsorejo banyak yang gagal. Kalau tidak kena serangan hama, panen cabai bisa sampai bulan Desember bahkan Januari,” tegas Hendra. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin