Jawa Pos Radar Banyuwangi – Gaung pesta demokrasi 2024 semakin membahana. Namun sayang, saat para elite politik sibuk bersaing memperoleh simpati dan dukungan dari masyarakat, rakyat justru semakin ”tercekik” imbas melambungnya harga sejumlah bahan kebutuhan pangan.
Setelah harga beras yang notabene menjadi bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat, kini beberapa komoditas lain ikut-ikutan merangkak naik. Salah satunya cabai rawit.
Tidak tanggung-tanggung, dalam tempo sekitar sepekan terakhir, harga cabai rawit meroket hingga nyaris Rp 20 ribu per kilogram (kg).
Bahkan, sejumlah pedagang mengaku kenaikan harga komoditas berasa pedas tersebut dalam rentang sebulan terakhir sudah hampir mencapai Rp 50 ribu per kg.
Di Pasar Banyuwangi, misalnya. Cabai rawit dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp 65 ribu, Rp 68 ribu, hingga Rp 70 ribu per kg. Padahal pada Jumat pekan lalu (20/10), komoditas yang satu ini dijual seharga Rp 45 ribu per kg.
Para pedagang mengatakan, harga sudah tinggi dari tingkat pengepul. Sehingga, mau tidak mau mereka juga harus menaikkan harga kepada konsumen.
”Seminggu terakhir ini naik terus. Sebulan lalu harganya masih di Rp 22 ribu per kg, sekarang saya jual Rp 70 ribu,” ujar Jumadi, salah satu pedagang di Pasar Banyuwangi.
Pria yang sudah puluhan tahun berjualan aneka bumbu masakan itu mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab, harga dari pengepul memang naik cukup signifikan.
Jumadi menuturkan, dirinya membeli cabai seharga Rp 62 ribu sampai Rp 64 ribu per kg. Karena itu, di tingkat konsumen harganya bisa sampai menyentuh Rp 70 ribu.
”Kita juga tidak berani mengambil banyak, khawatir busuk. Kalau busuk, jelas kami rugi. Pembeli juga mengurangi jumlah pembeliannya. Konsumen yang biasanya beli satu kilo, sekarang beli setengah kilo. Kadang malah beli cuma satu ons. Ada juga yang tidak beli, padahal biasanya beli,” bebernya.
Menurut Jumadi, kenaikan harga itu juga merugikan pedagang. Selain berisiko menanggung kerugian jika cabai busuk, penurunan pembelian dari pelanggan juga sangat berpengaruh kepada pendapatan mereka.
”Kalau harganya murah, kita gampang mau cari untung. Yang beli masih banyak, tapi kalau mahal seperti ini, yang beli sedikit. Kami mau ambil untung banyak juga sulit,” kata Jumadi.
Hal senada juga diungkapkan pedagang lain di Pasar Banyuwangi, yakni Samsul. Dia mengatakan, harga cabai rawit masih terbilang normal pada pertengahan September lalu. Kala itu, harga cabai rawit masih di kisaran Rp 22 ribu per kg.
Dikatakan Samsul, harga cabai memang sempat naik turun. Namun, kenaikan paling tinggi terjadi pada sepekan terakhir. Bahkan, harga cabai rawit sempat naik Rp 5 ribu per hari.
Penurunan hasil pertanian menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga cabai rawit mahal. Di pasaran, imbuh Samsul, pengepul memasok cabai dari tiga wilayah, yakni dari Wongsorejo, Grogol, dan dari wilayah Banyuwangi Selatan.
Masih menurut Samsul, rata-rata pedagang memilih cabai dari wilayah Banyuwangi selatan lantaran kualitasnya lebih bagus. Selain itu, cabai dari wilayah Banyuwangi selatan lebih awet saat disimpan.
Namun, karena harganya tinggi, pedagang tidak berani membeli terlalu banyak dari pengepul. Rata-rata hanya berani mengambil 15 sampai 20 kg.
”Harganya memang beda, yang dari selatan yang mahal. Kalau dari Wongsorejo selisih harganya sekitar 5 ribu tapi kualitasnya agak jelek, ukurannya lebih kecil dan cepat busuk. Kalau yang dari Grogol ini lumayan bagus dan lebih pedas,” jelasnya.
Pria yang tinggal di Kelurahan Panderejo itu pun berharap harga cabai bisa segera normal. Dengan demikian, semakin banyak konsumen yang datang untuk membeli cabai.
”Apalagi, harga cabai merah juga naik. Tapi tidak setajam cabai rawit. Yakni Rp 30 ribu per kg, sedangkan bulan lalu hanya Rp 26 ribu per kg,” ungkap Samsul.
Berdasar data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, kenaikan harga cabai rawit di empat pasar di wilayah Banyuwangi mengalami peningkatan bervariasi dalam sepekan terakhir, yakni mulai Rp 13 ribu hingga Rp 20 ribu per kg.
Kenaikan harga tertinggi tercatat di Pasar Banyuwangi. Pada Jumat (20/10) pekan lalu, harga cabai rawit berada di angka Rp 44 ribu per kg.
Sedangkan Jumat (27/10) harganya sudah berada di angka Rp 64 ribu per kilogram.
Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit berimbas pada penurunan daya beli konsumen. Termasuk para pelaku usaha kuliner.
Ali, salah satu pedagang kuliner mengaku harus mengurangi pembelian cabai rawit. Rata-rata per hari dia membeli sekitar 10 kg, tetapi karena belakangan harganya sudah terlalu mahal, dia mengaku hanya membeli separo dari biasanya atau sekitar 5 kg.
”Harganya terlalu mahal, jadi harus dikurangi. Kalau tidak habis, saya tidak beli,” tandasnya.
Hal senada dilontarkan Cahyani, warga Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi. Dia mengaku tingginya harga cabai rawit cukup berimbas pada pengeluaran harian keluarganya.
”Beberapa waktu lalu harga beras naik. Belakangan cabai rawit juga ikut naik. Otomatis pengeluaran kami meningkat,” kata dia.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, beras menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi month to month pada periode September.
Sebaliknya, bulan lalu cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang menghambat inflasi alias memberikan andil terhadap deflasi. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin