Dampak kenaikan harga tersebut menyebabkan masyarakat enggan mengonsumsi telur. Satu biji telur dijual eceran dengan harga Rp 2.500 per butir. Harga tersebut hanya terpaut Rp 500 dibanding harga telur bebek yang dijual Rp 3.000 per butirnya.
Kenaikan harga telur ayam pasca-Lebaran merupakan hal biasa. Namun, kenaikan kali ini terbilang sangat tinggi. Pada bulan Ramadan lalu, harga telur mengalami kenaikan Rp 27.000/kg. ”Saat Ramadan kenaikannya tidak langsung drastis seperti sekarang, tapi naiknya bertahap Rp 1.000 per dua hari,” ungkap Husnul Hotimah, salah seorang pedagang telur.
Akibat harga telur ayam yang terus merangkak naik, Hotimah mengaku tidak berani berbelanja atau mengambil stok lebih banyak. Dia khawatir saat mengambil stok, justru harga telur akan jatuh. ”Saya mending jual normal saja, tidak berani stok banyak. Kalau mendadak harga turun bisa bangkrut,” ungkapnya.
Sejak harga telur naik, pelanggan memilih mengurangi belanjaannya. Alasannya juga sama, para pedagang toko kelontong takut merugi. Mereka khawatir sewaktu-waktu harga telur mendadak turun. ”Naik-turunnya harga telur tidak bisa diprediksi, terjadi tiba-tiba,” kata Hotimah.
Hal senada diungkapkan Meydina, salah seorang pedagang di Pasar Rogojampi. Menurutnya, dalam kondisi normal harga telur ayam tidak lebih dari Rp 25 ribu per kg. Tidak stabilnya harga telur kali ini diduga dipicu pasokan yang berkurang. ”Kandang-kandang banyak yang pergantian ayam petelurnya, jadi stoknya agak berkurang,” katanya.
Meydina menyebut, kenaikan ini juga seiring mulai banyaknya pembagian Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), atau bantuan-bantuan sosial lainnya. ”Sudah sering kali setiap ada pencairan bantuan, harga telur ikut terkerek naik. Jika pembagian bantuan pemerintah sudah selesai, harga telur kembali normal,” tandasnya.
Dwi Indah Yani, 32 salah seorang ibu rumah tangga mengaku dirinya memilih untuk mengurangi belanja telur. Menurutnya, lebih baik membeli ikan laut seperti lemuru ketimbang membeli telur yang harganya melambung. ”Perbandingannya satu butir telur eceran dijual Rp 2.500, sementara satu bungkus lemuru dengan berat 0,5 kg hanya Rp 12 ribu. Lebih irit lemuru, proteinnya juga sama saja,” terang ibu dua anak asal Rogojampi ini. (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud