Pertempuran yang menjadi tonggak penting bagi Bangsa Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat.
Momen ini juga yang menahbiskan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia yang di proklamirkan 17 Agustus 1945 masih ada dan eksistensinya sebagai negara berdaulat tetap terjaga.
Melalui serangan besar-besaran itu, Jogjakarta mampu diduduki oleh tentara Republik Indonesia meski hanya enam jam saja. Jawa Pos Radar Banyuwangi merangkum dari laman Kemendibud dan berbagai sumber, pertempuran tersebut berlangsung cukup dahsyat.
Pagi hari itu, 1 Maret 1949, menjelang pukul 06.00, tidak ada aktifitas menonjol di Jogjakarta.
Di jantung kota khususnya sekitaran dan dalam benteng Vredenburg tampak pasukan Belanda yang mulai bersiap untuk berganti jadwal piket, malam ke siang.
Dilokasi inilah titik sentral kekuatan pasukan Belanda di Jogjakarta berada. Sementara disisi lainnya, dipinggiran kota Jogjakarta, tampak pergerakan yang senyap dari tentara dan gerilyawan Republik Indonesia.
Bersama rakyat mereka mulai bergerak menuju pusat kota. Sambil menenteng senjata, mereka seperti menunggu sesuatu. Ya, bunyi sirine yang persis akan berbunyi pukul 06.00.
Benar saja, saat sirine berbunyi tidak hanya memecah keheningan Jogjakarta pagi itu. Kota yang dikenal dengan sebutan kota pelajar seketika menjadi hiruk pikuk.
Letusan peluru, ledakan, dan suara desingan senjata api menggema ke seluruh bagian sudut kota.
Pertempuran besar pun meletus di Jogjakarta. Rakyat dan pejuang Republik Indonesia bersatu padu menyerang pos pertahanan pasukan Belanda.
Serangan tentara dan gerilyawan republik dilakukan dengan mengepung Jogjakarta dari segala penjuru.
Letkol Soeharto memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Sementara sektor kota, dipimpin oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki.
Sektor timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan oleh Mayor Sardjono, dan pimpinan sektor utara adalah Mayor Kusno.
Serangan pagi itu menyasar ke sejumlah sarana dan akses penting di Jogjakarta seperti Benteng Vredeburg, kantor pos, istana kepresidenan, Hotel Tugu, stasiun kereta api, dan Kotabaru.
Belanda pun dibuat kelimpungan atas serangan serba mendadak pagi itu. Mereka hanya bisa bertahan di dalam benteng sembari menunggu bantuan pasukan dari kota tetangga. Namun hal itu sudah diantisipasi oleh para pejuang dengan mempersiapkan pasukan penangkis.
Pasukan Belanda yang terdesak kemudian memilih mundur keluar kota. Hingga akhirnya, selama 6 jam tentara dan gerilyawan Republik Indonesia berhasil menduduki ibu kota negara, Yogyakarta. Persis pukul 12.00 sesuai rencana pasukan mulai ditarik mundur.
Dalam peperangan ini sendiri, tercatat lebih kurang 300 pejuang kemerdekaan Indonesia gugur.
Gagasan untuk melancarkan serangan besar-besaran di Yogyakarta muncul setelah mendengar siaran berita luar negeri.
Pada awal Februari 1949, Sri Sultan HB IX mendengarkan siaran radio BBC-London yang memberitakan masalah kemerdekaan Indonesia segera dibahas di Dewan Keamanan PBB, Maret 1949.
Sementara itu, Belanda terus mempropagandakan di PBB bahwa negara Indonesia sudah bubar.
Sesuai posisinya, Sri Sultan langsung menghubungi Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk menyampaikan perlunya digelar Serangan Umum pada siang hari ke kota Jogyakarta.
Tujuannya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara Indonesia masih ada dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya.
Soedirman, sebagai panglima yang berkuasa untuk mengerahkan pasukan menyetujui ide tersebut.
Dia kemudian meminta Sri Sultan untuk berkomunikasi dengan Komandan Wehrkreise III/Brigade X Letnan Kolonel (Letkol) Soeharto untuk membahas serangan itu. Keduanya pun bertemu untuk membahas rencana itu.
Waktu serangan disepakati pada siang hari dan harus menguasai kota Yogyakarta minimal selama 6 jam saja
Pada Selasa, 1 Maret 1949, tepat pukul 06.00, dijadikan titik awal serangan saat sirine akhir jam malam berbunyi. Hingga akhirnya selama 6 jam Yogyakarta akhirnya berhasil dikuasai.
Berita serangan umum kemudian dipancarkan lewat Radio AURI di Playen, Wonosari-selatan Yogyakarta dan diterima Markas PDRI di Bidaralam, Sumatera Barat.
Kabar itu kemudiandi-relay ke Takengon, Aceh, kemudian di-relay lagi ke Rangoon, Burma, dan terus ke New Delhi untuk kemudian mengudara lewat All India Rado ke seluruh dunia.
Berita radio tadi diterima Perwakilan RI di PBB-New York, LN Palar, untuk kemudian dipakai oleh delegasi RI sebagai amunisi dalam Sidang Dewan Keamanan PBB dan membuat pihak Belanda tidak berkutik.
Akhirnya, melalui Perjanjian Roem-Royen, Mei 1949, Belanda dan Indonesia menyepakati gencatan senjata. Pada 29 Juni 1949, Belanda meninggalkan Yogyakarta dan pejuang Republik Indonesia mulai kembali memasuki Jogjakarta. (*)
Editor : Niklaas Andries