Manuver Madrasah Menjangkau Disrupsi Global
Ali Sodiqin • Senin, 5 Juni 2023 | 15:03 WIB
MADRASAH merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan yang sifatnya intelektual atau akademik saja, tetapi juga pada aspek religi/spiritual peserta didiknya. Dalam pelaksanaannya, madrasah mengacu pada dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.
Perkembangan zaman yang kian drastis memang mengharuskan madrasah beranjak dari persepsi ketertinggalan zaman. Madrasah abad ini dihadapkan pada peralihan generasi dari Generasi Y/Milenial (1977-1994) ke Generasi Z (1995-2010) dan Alpha (2011-2025). Berikut beberapa tantangan madrasah di abad 21 yang berkaitan dengan kebutuhan Generasi Z dan Alpha.
Tantangan pertama, reformasi kurikulum sesuai selera abad 21. Hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum memang seharusnya disesuaikan terlebih dulu mengingat begitu penting perannya dalam membentuk kerangka kompetensi pembelajaran yang sistematis dan terstruktur.
Tantangan kedua, yakni revolusi mental guru. Disadari bersama, dunia yang begitu cepat berubah dan disruptif di abad ini, tentu mensyaratkan seseorang mampu belajar lebih cepat. Kecenderungan inilah yang mesti disadari oleh guru-guru madrasah. Kompleksitas dunia juga menuntut seseorang mampu menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah-masalah (problem solving) yang mereka hadapi secara kreatif. Internet dan aplikasi perlahan menggeser peran guru dan buku sebagai lumbung pengetahuan. Maka guru madrasah di abad ini mesti sadar pula dengan posisinya yang hanya sebatas fasilitator pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya sumber rujukan otoriter di kelas.
Tantangan ketiga, yakni membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan abad 21 (21st century knowledge and skills). Tak dapat dipungkiri, abad 21 benar-benar zamannya perkembangan teknologi. Masa di mana revolusi industri 4.0 telah mengubah relasi antara manusia dan mesin, era society 5.0 menuntut terselesaikan dinamika sosial dengan kecanggihan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan big data, hingga kedahsyatan globalisasi menghapus sekat-sekat ruang dan waktu di antara manusia. Lalu, akankah kita tetap berdiam diri di tempat dengan keterbatasan ilmu dan keterampilan? Sementara robot-robot semakin banyak menggantikan peran dan negara-negara maju sibuk menyiapkan hidup puluhan tahun ke depan.
Jika kita pahami polanya, setiap dari kemajuan peradaban selalu dimulai dari perbaikan pendidikan. Inilah mengapa kita sering merasa negara lain lebih unggul, karena tabungan ilmu pengetahuan mereka sudah sangat banyak jumlahnya. Maka sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan dengan memperbaiki sumber daya manusia melalui pendidikan. Lebih dari sekadar tahu, zaman telah menuntut kita untuk terampil. Kembali ke topik, intinya sebagai Gen Z atau Alpha yang baik kita harus menguasai keterampilan abad 21, di antaranya yang lazim disingkat 5C, yaitu berpikir kritis (critical thinking), komunikasi (communication), kolaborasi (collaboration), kreativitas (creativity), dan karakter (character).
Dengan demikian, merangkum pembahasan panjang di atas, dapat kita pahami bahwa Gen Z dan Alpha dengan berbagai karakteristik khas yang membedakannya dengan generasi sebelumnya, telah banyak menuntut lembaga-lembaga pendidikan tak terkecuali madrasah dalam menyajikan model pembelajaran yang up-to-date dan kompatibel dengan perkembangan zaman. Sejauh ini, rasanya madrasah memang telah banyak melakukan penyesuaian, tetapi lagi-lagi transformasi pendidikan bukanlah suatu yang stagnan, sekali diperbaiki lalu selesai, melainkan akan terus fleksibel alias dinamis. Mungkin jika dinilai dalam lingkup nasional performa madrasah telah cukup memuaskan, tapi bagaimana di kancah internasional? Progresivitas madrasah mesti terus dipacu agar tidak hanya menjadi lembaga par excellent di dunia Islam, tetapi juga menjangkau dunia global.
Terlepas dari semua problematika generasi dan zaman yang ada, madrasah harus tetap mempertahankan point of difference dengan lembaga pendidikan formal lainnya. Satu supremasi madrasah yang tak bisa terbantahkan ialah nilai religiusitasnya.
Pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) adalah dua hal yang sangat mungkin bisa dibenahi, diperbanyak, dan dikejar ketertinggalannya dengan cepat. Namun, tidak untuk akhlak (attitude). Kebiasaan yang dilakukan sejak dini lambat laun akan menjadi karakter, kemudian membudaya dalam hidup seseorang, bahkan bangsa, dan hal ini sangat sulit direnovasi kerusakannya.
Oleh karena itu, sekali lagi, madrasah harus tetap menomorsatukan pendidikan karakter yang mencerminkan keseimbangan dunia akhirat. Zaman boleh berganti, robot-robot boleh menggeser posisi kita di beberapa bidang, tapi profesi-profesi tertentu tetap bergantung pada aspek kemanusiaan yang tidak lain hanya dimiliki oleh manusia itu sendiri. Tujuan pendidikan seyogyanya selalu tetap, guna memanusiakan manusia, tak peduli siapa pun generasinya. (*)
*) Siswa MAN 1 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin