Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Becak dan Caleg

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Juni 2023 - 18:03 WIB
Hendrik Kurniawan
Hendrik Kurniawan
MENDEKATI tahun politik, mesin politik sudah mulai dipanasi dan roda-roda politik siap melaju kencang yang dibuktikan dengan fenomena pendaftaran Bacaleg DPRD Banyuwangi yang sangat unik. Para pimpinan partai politik di Banyuwangi mengatarkan para Bacaleg mendaftar di KPU dengan iring-iringan becak.

Becak yang lebih dikenal dengan kaum pinggiran, marginal, dan miskin. Seolah becak menjadi alat pelengkap untuk menarik hati masyarakat bawah dan ingin menunjukkan seakan partai tersebut adalah partai yang merakyat, dengan menunjukkan nilai-nilai kesederhanaan dengan menaiki becak dari kantor partai setempat. Partai yang mendaftarkan Bacalegnya ke KPU Banyuwangi dengan iringan becak berasal dari PDIP, Nasdem, Golkar, dan Hanura.

Banyak cara yang bisa dilakukan para pimpinan partai untuk menarik perhatian masyarakat saat masa pencalonan caleg. Banyak masyarakat heran dengan fenomena itu. Ketika mendaftarkan Bacaleg menggunakan becak, namun setelah jadi anggota dewan, justru mengendarai mobil mercy. Inilah yang menjadi celetukan netizen di sosial media.

Becak memiliki banyak arti dan keunikan tersendiri. Dari masa ke masa, becak selalu ada, namun dipandang sebelah mata. Becak yang dikayuh memiliki filosofi sangat bagus, yaitu melambangkan bahwa bekerja harus secara kontinyu untuk mencapai tujuan. Begitu pula partai politik, harus terus berputar dan kontinyu dalam memperjuangkan masyarakat, khususnya masyarakat kalangan bawah.

Partai politik yang berjuang mendapatkan hati masyarakat kalangan bawah memang tidak salah. Justru hal demikian membuat kalangan masyarakat bawah tidak yakin lagi akan partai politik, karena masyarakat tahu betul, bahwa apa yang dilakukan itu hanya berlangsung ketika menjelang pemilihan. Setelah terpilih, maka tidak lagi terlihat perjuangannya masyarakat kalangan bawah. Tak heran, jika masyarakat abai dan bahkan tidak tahu siapa nama anggota DPRD yang mewakili daerahnya.

Tukang becak di Banyuwangi kota justru senang ketika mendapatkan orderan dari partai-partai yang menyewa. Pernak-pernik partai yang melambangkan masing-masing partai dipasangi di becak dengan warna khas masing-masing parpol. Dengan senyum gembira, tukang becak mengayuh becaknya sekuat tenaga menuju kantor KPU Banyuwangi. Para Bacaleg yang menaiki becak diarak menuju KPU, sambil melambaikan tangan, seakan terlihat ingin meminta restu untuk mengabdikan dirinya kepada rakyat.

Pernak-pernik yang menempel di becak menjadi penanda bahwa becak tersebut menjadi saksi sejarah, bahwa partai tersebut pro terhadap rakyat kecil. Bahkan pernak-pernik tersebut melekat sampai berbulan-bulan di payung atas becak, sehingga parpol dapat memasarkan partainya di kalangan masyarakat bawah dengan gratis. Memang secara hukum tidak ada pelanggaran dalam pawai menggunakan becak.

Becak tersebut akan menjadi saksi bahwa pernah mengantarkan calon wakil rakyat untuk menuju DPRD, dengan fasilitas lengkap, serta kursi nyaman dan empuk. Demi kemajuan politik yang sehat di Banyuwangi, maka perlu pendidikan politik bagi masyarakat kalangan bawah. Pendidikan yang dimaksud adalah memberikan pemahaman, bahwa politik itu tidak sepenuhnya buruk. Begitu sebaliknya, para pimpinan parpol harus benar-benar amanah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Menurut pakar politik Prof. Miriam Budiarjo, politik adalah sebuah seni untuk memperebutkan kekuasaan. Kekuasaan yang diperjuangkan tidak boleh dengan menghalalkan berbagai cara. Sehingga memanfaatkan para masyarakat kalangan bawah untuk meraup suara.

Masyarakat hari ini harus mulai sadar, tidak berpendidikan tinggi bukan berarti tidak mau andil dalam politik. Justru masyarakat siapa pun, dengan latar belakang apa pun, harus melek politik. Kita tidak boleh apatis soal politik. Jika kita apatis, maka kekuasaan para penguasa tidak akan terkontrol oleh masyarakat. Sebagai negara demokrasi, maka rakyat harus yang berkuasa.

Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos. Demos artinya rakyat, kratos adalah kekuasaan. Maka demokrasi adalah kekuasaan berada di tangan rakyat. Rakyat kecil pun berhak menentukan atas kebijakan yang pemerintah daerah buat.

Becak akan menjadi saksi sejarah masyarakat Banyuwangi untuk mengantarkan para putra-putri terbaik untuk mewakili tukang becak dalam menyalurkan aspirasi. Becak tua yang terseok-seok berharap kepada para calon anggota DPRD yang jadi kelak, untuk tidak melupakan jasa-jasanya.

Masyarakat kalangan bawah tidak menuntut banyak. Hanya kesejahteraan yang diharapkan untuk warga Banyuwangi. Jika kita melihat beberapa hari lalu ada tukang becak mampu mengantarkan putrinya wisuda, dan mendapatkan predikat wisudawan terbaik, itu membuktikan bahwa tukang becak bisa mengantarkan kesuksesan tanpa harus dipandang sebelah mata. (*)

*) Peneliti Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Ampel, Surabaya. Editor : Ali Sodiqin
#Becak #pemilu 2024 #artikel #opini #caleg