Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perokok yang Masih Hidup Belum Tentu Sehat

Ali Sodiqin • Kamis, 25 Mei 2023 | 01:36 WIB
Resty Fika Ariyanti
Resty Fika Ariyanti
TAHUKAH Anda, jika pemilik perusahaan rokok besar seperti pemilik PT Gudang Garam, direktur PT HM Sampoerna, dan pemilik perusahaan rokok Djarum tidak merokok? Begitu berbahayakah rokok sehingga pemilik perusahaan rokok saja tidak mau mengonsumsinya?

Menurut Kementerian Kesehatan, perokok dewasa di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 69,1 juta orang. Jumlah ini meningkat jika dibanding tahun 2011 yang mencapai 60,3 juta perokok aktif.

Sebagian perokok aktif mulai merokok karena mencoba dan akhirnya terbiasa. Bagi sebagian remaja menganggap bahwa merokok adalah hal yang keren. Padahal, merokok tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang di sekitar.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan, pada tahun 2022 pemerintah telah menaikkan tarif cukai rokok serta menaikkan harga rokok dan produk olahan tembakau, seperti rokok elektrik. Usaha pengurangan jumlah perokok dilakukan juga dengan cara memberi peringatan di setiap bungkus rokok dan mengurangi jumlah smoking area.

Perokok pasif lebih rentan terhadap bahaya asap rokok daripada perokok aktif. Menurut Kementerian Kesehatan, hal ini terjadi karena perokok aktif hanya menghirup sebagian kecil asap rokok, sedangkan sisa asap dihirup oleh perokok pasif. Asap rokok sangat berbahaya, khususnya untuk ibu hamil dan balita.

Masih menurut Kementerian Kesehatan, dampak buruk rokok bagi perokok aktif dan perokok aktif yaitu penyakit paru-paru kronis, merusak gigi, dan menyebabkan bau mulut. Merokok juga menyebabkan stroke dan serangan jantung, tulang mudah patah, gangguan pada mata. Bahkan, merokok bisa juga menyebabkan kanker leher rahim dan keguguran pada wanita, serta menyebabkan kerontokan rambut.

Selain asap rokok, residu rokok juga berbahaya. Residu rokok yang tertinggal di sofa, baju, rambut, maupun tempat lainnya akan membentuk karsinogen jika bereaksi dengan asam nitrat di udara, sehingga bisa menimbulkan kanker.

Salah satu inovasi rokok yaitu penggunaan rokok elektrik. Dengan adanya berbagai aroma dan rasa, rokok elektrik menjadi salah satu opsi perokok untuk mengurangi candu pada rokok konvensional. Rokok elektrik diharapkan menjadi salah satu opsi merokok yang sehat tanpa api, tanpa asap, dan tanpa abu.

Namun kenyataannya, rokok elektrik sama berbahaya dengan rokok konvensional. Meskipun sebagian rokok elektrik diklaim tidak mengandung tembakau, ternyata rokok elektrik juga dapat memicu berbagai penyakit, khususnya gangguan paru-paru.

Perokok yang masih hidup bukan berarti mereka sehat. Berbagai penyakit bisa menyerang perokok kapan saja. Karena merokok dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang buruk.

Vape (rokok elektrik) umumnya dianggap lebih aman karena tidak menghasilkan asap yang mengandung banyak zat berbahaya seperti tar, karbon monoksida, dan nitrogen oksida yang ditemukan dalam asap rokok. Meskipun terdapat kurangnya data ilmiah yang kokoh dan konsisten terkait dampak jangka panjang rokok elektrik, tetap ada kemungkinan bahwa rokok elektrik dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, iritasi, dan masalah pernapasan lainnya.

Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa rokok elektrik memiliki kandungan nikotin yang sama, atau bahkan lebih tinggi dibanding rokok.

Dr. Mike Knapton, dari British Heart Foundation, menyebutkan, berhenti merokok yaitu langkah yang paling perlu yang bisa diambil untuk tingkatkan kesehatan jantung. Tetapi, berpindah ke rokok elektrik untuk berhenti merokok, juga akan meletakkan Anda pada dampak kesehatan periode panjang yang juga merugikan.

Beberapa perokok memiliki pemikiran negatif terkait opsi berhenti merokok. Mereka berpikir bahwa berhenti merokok bukanlah opsi yang dapat mereka jalankan karena mereka sudah kecanduan. Ada juga yang berpikiran bahwa mereka tidak akan bisa menahan penderitaan atau rasa sakit yang harus mereka alami saat mencoba berhenti merokok. Mereka beranggapan bahwa keputusan untuk berhenti merokok tidak ada gunanya, karena tidak dapat menghilangkan keinginan untuk merokok.

Pemikiran-pemikiran negatif inilah yang harus dihilangkan oleh perokok saat ingin berhenti merokok. Mereka harus berpikiran positif. Memiliki alasan yang kuat untuk berhenti merokok, dan memiliki niat atau dorongan dari dalam diri sendiri. (*)

*) Mahasiswa asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #rokok