Budaya mudik di Indonesia diyakini mulai menjamur secara masif antara tahun 1960 hingga 1980-an, ketika urbanisasi marak dilakukan. Saat ini, mudik sudah menjelma sebagai tradisi tahunan, fenomena sosial, bahkan gaya hidup yang sarat dengan nuansa hedonis. Perlu ada penggalian makna sebagai upaya transendensi agar tradisi ini dapat dihayati lebih khusyuk alih-alih profan.
Kampung Halaman
Tujuan mudik adalah kampung halaman. Seseorang boleh jadi sukses dan kaya raya di tanah rantau, akan tetapi sekali waktu dalam sebuah titik tertentu, ia tetap selalu merasa perlu untuk kembali pulang ke kampung halaman, walau hanya sesekali. Kampung halaman bukan melulu tentang orang-orang yang ada di dalamnya. Kampung halaman adalah tanah air, kenangan, kejadian-kejadian dan pertautan batin yang kompleks.
Ratusan ribu hingga jutaan orang rela mengeluarkan biaya mahal serta menghabiskan waktu dan tenaga besar untuk pulang ke kampung halaman. Ini disebabkan adanya perasaan memiliki. Daerahku, desaku, dan kampungku. Ikatan rasa kepemilikan inilah yang membuat budaya mudik akan terus ada.
Pulang ke kampung halaman, betapa pun membutuhkan effort yang besar, tetap diminati–bahkan dirayakan. Berkumpul bersama keluarga, bertemu kembali dengan kawan lama sembari menyusuri jalan-jalan di desa yang dipenuhi kenangan masa kecil menjadikan mudik sebagai solusi sekaligus upaya healing dari kepenatan hidup dan gebyar dunia yang menyilaukan. Secara fitrah, manusia selalu butuh pulang.
Hakikat Mudik
Dalam Islam, dikenal kalimat istirja’, yakni ucapan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali, begitu arti harfiahnya. Dalam QS. 2: 156, kalimat istirja’ disebut sebagai indikator bagi orang-orang sabar ketika mereka ditimpa musibah. Tradisi esoteris-tasawuf Islam selalu menganggap Allah sebagai tempat kembali, marja’. Allah adalah tujuan akhir perjalanan panjang manusia. Allah adalah tempat pulang setiap kali kita butuh untuk mengambil jeda dan jarak dari segala persoalan hidup yang datang. Allah adalah kampung halaman sejati. Kepada Allah kita kembali.
Saat hari raya tiba, lazim bagi kita saling mengucapkan doa ‘minal aidin wal faizin’. Aid merupakan kata berbahasa Arab yang berarti orang yang kembali (plural: aidin). Setelah sebulan berpuasa dan mengelola hawa nafsu, hari raya menjadi momentum untuk kembali ke fitrah suci manusia, yakni sebaik-baik makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari ruh-Nya (QS. 15: 29).
Sebab manusia, dalam hal ini Adam ‘alaihissalam, diciptakan melalui ruh Allah, maka ada ‘bagian’ Tuhan di dalam diri manusia. Sebagaimana dalam diri kita sebagai pemudik selalu bahagia dan merindukan kampung halaman karena merasa dalam diri kita ada bagian dari tanah air kita, seharusnya begitu pula kerinduan kita untuk senantiasa pulang dan kembali kepada Allah SWT, kampung halaman sejati kita.
Oleh karena itu, para sufi senantiasa mengajarkan kita untuk berakhlak dengan akhlak Allah, takhallaquu bi akhlaaqillah. Berakhlak dengan akhlak Allah berarti menjadi duta sifat-sifat jamaliyah-Nya, menjadi manusia yang saling menyayangi dan mengasihi sebab Allah bersifat ar-Rahman dan ar-Rahim. Ini merupakan sebagian upaya kita untuk kembali kepada Allah SWT, selain juga dengan menyerahkan segala urusan kepada-Nya seraya mengimani qadha dan qadar-Nya.
Jika kita mampu mentransendensikan mudik dengan makna-makna tersebut dan mengaktualisasikan dalam sendi kehidupan dan laku sosial, maka kita akan benar-benar menjadi aidin, pemudik sejati. Dengan begitu, kita akan memperoleh THR yang amat agung, yakni label faizin, termasuk sebagai orang-orang yang beruntung di sisi Allah Swt. Semoga. (*)
*) Muallim di Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Genteng, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin