Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Realita Menjadi Anak Kos

Ali Sodiqin • Senin, 24 April 2023 | 22:04 WIB
Oleh: Nur Diana Sari*
Oleh: Nur Diana Sari*
BAGIKU, menjadi anak kos adalah suatu pengalaman baru. Kita dilatih tinggal sendiri di lingkungan berbeda. Orang yang belum merasakan menjadi anak kos, pasti berpandangan bahwa hal yang menyenangkan dan memiliki suatu kehidupan yang bebas. Bebas aturan rumah seperti bangun harus pagi, membantu bersihkan rumah, mengepel, mencuci baju, mencuci piring, dan lain-lain.

Saat tinggal bersama orang tua, tentu ada aturan jam malam. Hal ini tidak menyenangkan karena anak muda pasti ingin punya waktu nongkrong, holiday, healing, dan piknik atau camping, bersama teman. Saat tinggal dengan orang tua, pasti hal itu sulit. Orang tua (ortu) tidak memberi izin karena khawatir terjadi hal buruk yang tidak diinginkan. Ortu merasa anaknya masih terlalu dini tinggal sendirian.

Kuliah adalah kesempatan emas di mana kita bisa melakukan hal yang sebelumnya belum sempat dilakukan. Bagi anak muda yang akan nge-kos, tidak adanya jam malam adalah hal yang cukup lama ditunggu, apalagi kaum strich parents. Ketika menjadi anak kos, kita akan mudah bebas melakukan apa saja tanpa harus memikirkan marahnya orang tua. Ortu memang bisa mengawasi dari kejauhan, namun tak seketat saat berada di rumah.

Menjadi anak kos memiliki sisi buruk. Karena itu, kita pastinya sudah siap belajar mandiri secara keseluruhan. Mulai mengatur keuangan setiap satu bulan, menyiapkan makanan sendiri, dan melakukan hal yang lain sendiri. Bahkan ketika sakit, kita juga yang harus merawat diri sendiri.

Tetapi menjadi anak kos juga memiliki sisi baik. Seperti melatih kemandirian, serta belajar bertanggung jawab. Kita sudah sepenuhnya percaya bahwa kita bisa bertanggung jawab akan suatu hal dalam diri kita. Yang cukup berat saat ini adalah menyiapkan makan. Saat nge-kos kita harus menyiapkan makanan, serta memasak lauk sendiri, atau bisa juga beli di warung.

Nge-kos juga bisa melatih berhemat. Memasak lauk adalah salah satunya. Sebenarnya bisa beli di warung, tetapi jika membeli makanan setiap hari, keuangan kita akan cepat habis. Karena itu, anak kos sudah seharusnya sudah bisa memasak nasi dan lauk supaya lebih hemat. Ada anak kos yang memilih membeli makan di luar atau menimbun makanan instan.

Mengatur keuangan juga cukup sulit. Kita harus bisa membagi uang makan, uang kebutuhan sehari-hari, uang kuliah, serta kebutuhan lain agar cukup dalam sebulan. Terkadang ortu sudah memberikan lebih atau kurang. Tetapi kita harus bisa mengontrol serta mengelola keuangan dengan baik dan tepat penggunaannya.

Anak muda lebih suka belanja di situs online. Karena lebih mudah dan harganya terjangkau. Selain itu, bisa menghemat waktu, tenaga, serta langsung bisa melihat di ponsel. Ada banyak promo menarik, gratis ongkir. Itulah yang dipilih anak kos untuk menghemat pengeluaran. Namun, menjadi anak kos juga harus memiliki kesadaran untuk tidak boros membeli barang, apalagi barang yang kurang penting.

Anak kos juga bisa membuktikan tanggung jawab atas kepercayaan ortu. Meskipun ortu tidak bisa mengawasi langsung, kita jangan mengecewakan. Ortu rela anaknya tinggal jauh demi kebaikan anak itu sendiri. Tinggal di kos karena ingin berkuliah, maka tidak boleh bermain-main. Ortu sudah mengeluarkan banyak uang dan memberi harapan. Bahwa anaknya akan sukses dan membanggakan. Doa-doa yang selalu diberikan semi kelancaran anaknya. Kekhawatiran ortu pasti ada, maka jangan sampai menyakiti hati atau membuat mereka sedih.

Saat kita tidak bisa mengatur makanan yang dikonsumsi, dampaknya akan rentan sakit. Apalagi anak kos akan memilih mi instan sebagai solusinya, harga murah dan membuat kenyang. Namun mengonsumsi mi instan dalam jumlah banyak, sangat tidak dianjurkan. Jika dikonsumsi terus menerus, akan memicu berbagai masalah kesehatan.

Memilih kos harus diperhatikan segala aspek. Salah pergaulan karena lingkungan kos yang buruk, juga termasuk dampaknya. Jangan sering pulang malam dan hidup mengikuti gaya hidup teman. Jika terjadi pergaulan bebas, bisa merusak masa depan diri sendiri. Maka hati-hati memilih kos maupun memilih teman.

Karena itu, harus pintar memilih kos yang baik dan nyaman. Hidup sendiri di lingkungan yang berbeda, bukanlah hal yang sepele. Butuh keberanian dan tekad. Semua hal yang akan datang, butuh dipikirkan sejak jauh hari. Supaya tidak menyesal ketika sudah telanjur dirasakan. Dan jangan sampai mengecewakan kepercayaan dan harapan ortu. (*)

*) Siswa MAN 2 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #opini #Anak Kos