Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menggayuh Malam Lailatul Qodar

Gerda Sukarno Prayudha • Jumat, 7 April 2023 | 22:03 WIB
Photo
Photo
Pada akhir pekan di bulan Ramadan kerap kita jumpai musala dan masjid yang semula penuh sesak dengan jemaah salat fardu (wajib) dan salat Tarawih mendadak surut. Kondisi ini berbanding terbalik dengan fenomena awal Ramadan yang jemaahnya begitu membeludak. Sampai-sampai untuk menampung luberan jemaah, dibuatkan tenda khusus di halaman musala maupun masjid.

Fenomena menyusutnya jemaah salat Tarawih ditengarai oleh kesibukan menjelang Lebaran yang kurang beberapa hari lagi. Orang-orang pada bergeser dari musala dan masjid ke pasar, ke mal, dan toko-toko, dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk persiapan menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Sudah tidak dapat dimungkiri momen Idul Fitri merupakan hari yang sangat monumental bagi kaum muslim seluruh penjuru dunia untuk menghormati dan merayakannya. Terkadang keinginan tersebut telah menurunkan aktivitas mulia kita, yaitu pengamalan ibadah yang semula aktif menjadi berkurang.

Perlu diketahui, menjelang akhir di bulan Ramadan adalah hari yang sangat utama dan bersejarah, seperti turunnya kitab suci Alquran dan datangnya malam Lailatul Qodar. Tidak hanya itu, pintu-pintu surga dibuka, bahkan pembebasan dari siksa api neraka bagi orang mukmin yang menjalankan ibadah yang sudah menjadi anjuran.

Hal ini sesuai yang disampaikan sahabat Salman Alfarisi meriwayatkan bulan Ramadan, ”Awalnya rahmat, pertengahannya maghfiroh, dan akhirnya pembebasan dari api neraka”.

Lantas ampunan dan pembebasan siksa dari api neraka tidak kemudian kita buat santai-santai begitu saja, melainkan tantangan untuk menjalankan ibadah-ibadah yang sudah menjadi anjuran, baik sunah maupun wajib. Kedatangan bulan Ramadan sudah dicatat sebagai orang yang beriman. Tentunya kepergiaannya akan menjadi penyesalan.

Di akhir Ramadan nanti, mari kita jadikan muhasabah atau evaluasi diri apa yang perlu diperbaiki dari sebelumnya agar ke depan lebih baik lagi. Bulan Ramadan yang penuh maghfiroh dan pembebasan dari siksa api neraka adalah bentuk pengasihan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beramal saleh, beriman, dan bertakwa kepada-Nya.

Beramal saleh artinya perbuatannya baik, sedangkan beriman berarti yakin dan percaya bahwa Allah SWT adalah Tuhan pencipta semesta alam dan Rasulullah SAW sebagai utusan. Kemudian, bertakwa adalah menjalankan segala sesuatu yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Tentunya ampunan ini dikhususkan kepada kaum mukmin yang sedang menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang difardukan.

Momentum yang sangat tepat untuk bermuhasabah dan introspeksi diri dengan kata lain tobat (tidak mengulangi segala sesuatu dari kesalahan). Tanpa perbedaan kasta, baik yang sedang menjabat sebagai wakil rakyat sampai rakyat biasa. Kemaksiatan yang bobotnya kecil maupun besar, pada bulan ini menjadi momen yang tepat untuk memperbaiki agar menjadi lebih baik. Hal ini sesuai hadis yang disabdakan Rasulullah SAW, ”Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang-orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka” (HR. Al Hakim).

Tentunya tidak mudah melakukan pertobatan yang menyangkut revolusi mental. Butuh proses panjang dan  kemauan kuat atau iktikad kuat dalam diri seseorang. Salah satu suplemen strateginya adalah menanamkan nilai-nilai positif (kebaikan). Strategi ini penting dilakukan untuk mencapai tujuan. Seperti yang disampaikan oleh Hamei dan Prahalad (1995), strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan.

Dari pengertian tersebut bisa ditarik benang merah bahwa menanamkan nilai-nilai maghfiroh, cukup dengan cara ibadah yang ringan-ringan, tidak perlu yang berat-berat, misalkan berzikir, beristigfar, bertasbih, membaca Alquran, salat sunah, bersedekah, dan tidak berbuat maksiat atau kejahatan. Tindakan ini tidak perlu diforsir atau ditarget banyak, tetapi sedikit demi sedikit yang terpenting kontinu atau istikamah. Hal ini sesuai yang disampaikan para ulama yang mashur, ”Al-Istiqomah khoiru min alfi karomah” yang artinya istikamah lebih baik daripada seribu karomah.

Akhir bulan yang disebut dengan pembebasan siksa dari api neraka bukan kemudian kita sudah tidak perlu aktivitas lagi karena sudah bersih dari dosa. Kita harus lebih semangat karena sudah terlatih dan kesan mendalam bahwa kita sebentar lagi akan berpisah dengan bulan Ramadan.

Perlu diketahui menjelang akhir bulan Ramadan terdapat hari bersejarah, yakni diturunkannya kitab suci Alquran. Momen istimewa berikutnya adalah malam Lailatul Qodar, malam lebih baik daripada seribu bulan. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Qodr ayat ke-1. ”Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada Lailatul Qodar”.  Ayat yang ke-3 artinya ”Lailatul Qodar itu lebih baik daripada seribu bulan”.

 Kapan malam yang istimewa ini datang? Banyak riwayat yang menjelaskan 10 malam ganjil terakhir. Hal ini sesuai yang diriwayatkan oleh Aisyah. ”Carilah Lailatul Qodar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan ini berarti tanggal 21, 23, 25, 27, 29 di bulan Ramadan.

Riwayat lain dari Ibnu Umar menyampaikan ”Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah SAW telah bermimpi melihat Lailatul Qodar pada tujuh hari yang terakhir di bulan Ramadaan”. Dan, Ibnu Umar juga meriwayatkan lagi ”Rasulullah SAW bersabda: ’Barang siapa yang berusaha menggapai Lailatul Qodar, hendaknya dia berusaha menggapai pada malam kedua puluh tujuh (HR Muslim, Ahmad, Abu Dawut, dan Tirmidzi)”.

Maksud dari tanggal kapan Lailatul Qodar diturunkan dapat ditarik kesimpulan, pada sepuluh terakhir bulan Ramadan, utamanya pada bilangan yang ganjil. Untuk menggayuh malam yang istimewa dan mustajabah, dianjurkan untuk tetap meningkatkan ibadah dan amal saleh.

Semoga kita sebagai umat muslim dapat menjumpai malam Lailatu Qodar dan selalu menjaga tali silaturahmi tanpa memandang agama suku dan ras. Dengan Ramadan bisa melahirkan ketenteraman, kedamaian, keamanan, serta memperkokoh spiritualitas yang ada pada diri kita masing-masing. (*)

 

*Dosen IAI Darussalam Blokagung, Tegalsari

 

 

  Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#tulisan #Nasih #lailautl qadar #artikel #refleksi #opini