Tapi, Indonesia ternyata juga merupakan penyumbang sampah terbesar kedua di dunia. Padahal, kita punya Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008, tentang tata cara pengolahan sampah di Indonesia.
Sampah tetap membeludak. Contoh dalam satu desa ada 10 rumah, dan setiap rumah menghasilkan 1 kilogram (kg) sampah per hari. Maka, satu desa menambah sampah 10 kg per hari. Jika dalam satu kota ada 10 desa, maka menjadi 100 kg per hari. Dalam sepekan, sampah itu menjadi beberapa ton memenuhi tempat pembuangan sampah akhir (TPSA). Sampai proses terakhir, yaitu dengan penghancuran melalui proses pembakaran.
John Dalton telah mendedikasikan bahwa tidak ada hasil pembakaran yang sempurna. Mereka akan termodifikasi dalam suatu gas baru yakni karbonmonoksida. Gas ini sangat berbahaya bukan hanya bagi kesehatan manusia, tapi bagi semua makhluk hidup.
Pertama, gas ini mengandung senyawa mematikan. Beribu kasus kebakaran banyak memakan korban jiwa. Karbonmonoksida bisa menyebar ke mana pun tanpa penghalang. Kesehatan masyarakat di pinggir kota ditangguhkan, radiasi proses ini sangat besar, juga asap yang dihasilkan hitam pekat. Sangat mematikan bagi manusia. Anak dalam kandungan sangat mungkin mengalami cacat mental dan fisik. Maka sampah pun berakibat pada generasi muda bangsa bukan?
Kedua, karbonmonoksida merusak seluruh daur kehidupan. Karbonmonoksida yang bercampur dalam proses kondensasi dalam proses daur hujan, akan memperlambat turunnya air ke bumi, karena kadar keasamannya yang sangat pekat. Maka proses fotosintesis terganggu, proses daur air terganggu, dan terlebih jika sampai air dengan keasaman tinggi itu turun, akan terjadi hujan asam yang membuat masalah lebih rumit. Hujan asam akan menghancurkan segalanya, sifatnya korosif, zat kimianya berbahaya.
Ketiga, karbon ini mengikis lapisan pelindung bumi di atmosfer. Membuat radiasi matahari semakin gencar masuk. Sel-sel kulit tubuh pun terancam. Lagi-lagi, dampaknya pada masalah global yang menyeluruh.
Jangan lupakan masalah turun-menurun di negeri ini yang pokok masalahnya adalah sampah. Yakni, banjir yang juga disertai ancaman penyakit. Kotoran dalam sampah bercampur air yang meluap, bersentuhan langsung dengan kulit manusia. Menghambat pendidikan, menenggelamkan harta benda, penyakit yang terus tumbuh, dan masih banyak lagi. Kembali lagi ini karena sampah dari manusia sendiri.
Maka jika hal ini terus terulang, manusia akan menghadapi kepunahan. Hal ini akan menjadi tragedi modern. Manusia musnah karena kelakuan sendiri. Tentu ini bisa terjadi.
Saat ini Indonesia memiliki 154 kabupaten/kota, sampah terkumpul di TPA yang terdaftar sebesar 18,2 juta ton per tahun. Sampah yang terkelola dengan baik hanya 72,9 persen atau sekitar 13,2 juta ton.
Maka, tidak perlu menghitung berapa kali pembakaran terbuka dilakukan dalam proses pemusnahan sampah. Yang pasti, ini adalah masalah nasional yang sifatnya internasional. Masalah negeri yang berdampak pada dunia.
Lalu, bagaimana agar sampah tidak membengkak volumenya? Atau, bagaimana pengolahan sampah terbaik agar tak terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari. Teknologi China sudah menjawabnya. Mereka memiliki pengolahan terbaik atas sampah di dunia. Mereka mengolah ribuan ton sampah menjadi sumber energi. Sampah itu dijadikan energi listrik yang kemudian dialokasikan untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. Ini tentu lebih baik, daripada harus menghasilkan asap yang akhirnya membunuh diri sendiri.
Sementara itu, Inggris menggunakan teknologi pemisahan sampah plastik dan organik. Selanjutnya yang bersifat daur ulang pun di-recycle. Sampah yang bersifat organik dialokasikan pada pupuk organik.
Maka masalah kita kembali mengerucut pada masalah sumber daya manusia (SDM). Karena sejatinya pencipta teknologi adalah manusia, dan kembali lagi, manusia pula yang menikmati teknologi tersebut.
Sebenarnya, Indonesia telah menerapkan pengolahan sampah seperti Inggris, tapi tak pernah berjalan sesuai yang diharapkan. Tak ada kesadaran atas sampah. Mana ada yang menghiraukan warna tong sampah yang diberikan pemerintah?
Asalkan dengan teknologi dan kesadaran yang sama baiknya, alam dan manusia bisa kembali bersatu. Karena besok lusa, jika masalah sudah terjadi di titik tertingginya, tak ada yang bisa disalahkan. Begitu juga tak ada yang mau disalahkan. (*)
*) Siswi MA Al Amiriyyah Blokagung Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin