Sebenarnya, kita tidak boleh serta-merta menyalahkan hujan yang menyebabkan terjadinya bencana. Apalagi timbul suatu pola pikir yang mengantarkan kepada keegoisan. Lebih dari itu, yang kita pikirkan ialah adanya sikap refleksi dari sikap kita terhadap lingkungan. Toh, banjir juga tidak luput disebabkan oleh kita semua, yang sering bersikap apatis terhadap lingkungan setempat.
Di tengah berbagai kesibukan, saya sebagai warga Banyuwangi turut memantau kondisi saat ini. Melihat keterlibatan beberapa pihak terkait aktivitas pencegahan banjir melalui kegiatan Susur Sungai Kalilo (Susuka) yang berada di jantung kota, membuat kita sama-sama menaruh harap agar Bumi Blambangan alpa dari bencana banjir lagi.
Setidaknya, dengan adanya tim ekspedisi Susuka merupakan terapi rangsangan awal, sebagai bentuk ikhtiar untuk meminimalisasi terjadinya banjir.
Dari berbagai informasi, kegiatan Susuka menghasilkan beberapa poin penting yang dirasa perlu diperhatikan bersama dan dihadapi secara berkala. Di antaranya ditemukannya permukiman warga yang sangat mendekati bibir sungai. Ada juga temuan sedimentasi, tangkis sungai yang perlu ditinggikan, serta masih ditemukannya kebanyakan warga yang membuang sampah di sungai.
Kasus sampah merupakan permasalahan yang masih kerap terjadi sampai saat ini. Dalam ekspedisi Susuka pun tampaknya demikian. Adanya tindakan masyarakat masih dirasa minim dengan tidak membuang sampah di sekitar sungai. Padahal, adanya sosialisasi dan peringatan larangan pembuangan sampah sudah dilakukan dengan berbagai program.
Bahkan di lingkungan pesantren pun, adanya sampah merupakan problem tersendiri yang tak kunjung selesai. Barangkali, mengenai permasalahan sampah yang menyebabkan banjir tentu bukanlah merupakan pembahasan yang baru. Saya rasa, terkait hal ini memang perlu setiap waktu untuk diupayakan, agar bagaimana nanti terhindar dari bencana banjir yang disebabkan oleh berbagai permasalahan tadi. Termasuk di antaranya kasus sampah tersebut.
Namun yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ialah pemerataan kegiatan pencegahan banjir terhadap kecamatan. Atau bahkan per dusun dari ujung utara sampai ujung selatan Banyuwangi, juga dirasa perlu dievaluasi. Saya kira, hal tadi juga harus dipertimbangkan. Karena kawasan rawan banjir juga tidak terjadi di aliran sungai Kalilo saja.
Tidak kalah penting, yang menjadi penentu semua aktivitas (dalam hal ini Susur Sungai Kalilo dalam upaya ihtiar awal mencegah banjir) ialah harus ada kesadaran dalam diri lapisan masyarakat setempat. Bagaimana nanti, sikap masyarakat kita selalu sadar untuk menjaga lingkungan dengan totalitas. Setidaknya dengan tidak membuang sampah di sungai.
Karena saya rasa, adanya kesadaran masyarakat sangat diharapkan. Percuma saja nanti bila sudah bersusah dan berupaya dalam mencegah terjadinya banjir, namun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan (kurang peka rasa) masih tidak dilakukan secara maksimal. Atau yang dikhawatirkan, masyarakat kita masih bersikap masa bodoh. Ini yang harus lebih diintensifkan dan perlu diupayakan sesudah program susur sungai selesai.
Kita sangat paham, bila mengaitkan permasalahan dengan kesadaran per individu itu agak susah untuk dilaksanakan. Setidaknya, kita harus benar-benar mengupayakan. Lebih-lebih kita bisa mencontohkan kepada para oknum yang sering bersikap apatis terhadap lingkungan.
Kita meyakini, andai semua masyarakat mempunyai kesadaran penuh untuk senantiasa menjaga sekaligus melestarikan lingkungan hidup, kemungkinan besarnya kita akan terhindar dari bencana banjir dan sebagainya. Ya, kita hanya bisa berandai-andai. Selebihnya kembali kepada kesadaran masyarakat yang menentukan segalanya. (*)
*) Santri Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo. The King of SLC Community. Editor : Ali Sodiqin