Nah, sebenarnya bagaimana kaitan tanaman tebu dengan terjadinya banjir? Mari kita ulas bersama.
Menurut General Manager Ijen Geopark Abdillah Baaras, terjadinya banjir di Kecamatan Kalibaru beberapa waktu lalu akibat adanya alih fungsi lahan. Dari lahan tanaman yang berfungsi sebagai penaung, berubah menjadi lahan tebu.
Usut punya usut, sekitar 10 atau 15 tahun Kecamatan Kalibaru merupakan lahan agroforestri, yakni hutan perkebunan. Contoh tanaman yang ditanam seperti durian, kakao, kopi, dan tanaman-tanaman lain yang memiliki akar tunjang. ”Tanaman tersebut berfungsi sebagai penaung dan pemecah butiran hujan,” ujarnya.
Namun, kini terdapat peralihan jenis pohon yang ditanam yakni tanaman tebu. Parahnya lagi, perkebunan tebu sedang memasuki musim panen. Maka, tak heran banjir dapat terjadi. Sebab, tidak ada pohon yang berperan sebagai pemecah air hujan.
Sekadar diketahui, selain berfungsi sebagai penyerap air, tanaman berperan dalam pemecah butiran air hujan. Daun-daun di pohon yang tinggi berfungsi memecah butiran air. ”Bukti dari air hujan berukuran cukup besar adalah ketika rumah yang ditutupi oleh seng atau kanopi pasti terdengar keras ketika hujan turun,” kata Abdillah.
Dia menjelaskan, ketika ada pohon yang tinggi dan daunnya bertingkat-tingkat itu memiliki peran besar dalam memecahkan butiran air yang berukuran besar menjadi lebih kecil. Sehingga, ketika sampai di tanah menjadi butiran air hujan paling kecil yang langsung diserap oleh tanah.
Dari penjelasan Abdillah dapat diketahui jika tebu tidak memiliki fungsi seperti tanaman yang berfungsi sebagai penaung. Sebab, tebu tergolong dalam tanaman rerumputan dan tidak cocok menjadi tanaman penaung sebab dianggap kurang kuat. Hal tersebut terjadi karena bentuk dari tanaman tebu yang tegap dan bentuk daun yang tidak bertingkat seperti tanaman penaung pada umumnya.
Hal senada diungkapkan oleh dosen Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Putri Istianingrum. Dia menjelaskan, berdasar ilmu bidang pertanian, tanaman tebu dianggap kurang cocok jika ditanam di dataran tinggi. ”Kalau di dataran tinggi lebih cocok untuk ditanami pohon yang memiliki akar kuat seperti akar tunggang. Sedangkan tebu memiliki akar serabut,” pungkasnya. (cw4/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono