Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Saat Kehidupan Menjadi Penuh Simulakra

Ali Sodiqin • Kamis, 17 November 2022 | 14:04 WIB
M. Iswahyudi, Dosen Untag 1945 Banyuwangi.
M. Iswahyudi, Dosen Untag 1945 Banyuwangi.
SAAT ini di sekitar kita, banyak kita dapati anak-anak, pemuda-pemudi, bapak-bapak, dan emak-emak, menghabiskan waktu sepanjang hari dan malam untuk memainkan gadget (gawai). Gadget ibaratnya adalah sebuah kekasih yang akan merasa sangat kehilangan jika melewatkan waktu sedetik pun tanpanya. Mungkin era telah berubah. Sosialisasi berubah menjadi sosialita. Internet pun menjadi kebutuhan pokok, setara atau bahkan lebih diperlukan daripada beras.

Ini adalah sebuah penyakit, yang gejala atau tanda-tandanya dapat kita temui dengan gejala berikut.

Pertama, Phantom Ringing Syndrome atau merasa bahwa gadget kita sedang berbunyi, bergetar, ada yang menghubungi padahal tidak.

Kedua, Nomophobia, kependekan dari no mobile phobia atau perasaan takut, resah apabila lupa membawa gadget atau jika gadget tiba-tiba baterai low dan kehabisan baterai.

Ketiga, Cybersickness adalah merasa pusing setelah melakukan interaksi melalui gadget.

Keempat, Facebook Depression atau merasa bahwa kehidupan pribadi lebih menyedihkan daripada kehidupan orang lain (rumput tetangga lebih hijau) karena posting pada Facebook menunjukkan kebahagiaan dan kesuksesan, bukan kesedihan.

Kelima, Internet Addiction Disorder atau Problemic Internet Use diartikan sebagai kecanduan yang berlebihan terhadap gadget untuk memainkan game online dan social media.

Keenam, The Google Effect diartikan sebagai rasa malas untuk mengingat atau belajar karena yakin bahwa ‘Mbah Google’ akan menyelesaikan setiap masalah yang ada dengan memasukkan kata kunci dan klik search.

Dari beberapa gejala yang telah disebutkan, menunjukkan bahwa ‘citra’ telah menggantikan ‘realitas’ yang sebenarnya. Masyarakat meyakini, bahwa membuat unggahan pada sosial media adalah keharusan untuk menjadi eksis didunia. Setelah terunggah, kemudian berharap agar para ‘netizen’ dapat melihat dan menjadi saksi keberadaan seseorang.

Melalui sosial media, banyak mendatangkan teman, namun banyak pula mendatangkan permusuhan. Politisi cerdas yang mampu memahami peran sosial media ini melalui kekuatan citra, akan mampu memikat hati para pemilihnya.

Mengutip apa yang dikatakan Baudrillard, bahwa saat ini kita hidup di dalam dunia yang penuh pencitraan, di mana citra menjadi realitas itu sendiri. Bahkan menggantikan realitas yang sebenarnya. Citra yang menggantikan realitas sebenarnya, bahkan terpisah atau tidak memiliki koneksitas dari realitas inilah yang oleh Baudrillard disebut sebagai Simulakra.

Simulakra, tidak serta merta ada. Namun adanya Simulakra melalui beberapa tahap yang disebut sebagai simulation.

Tahap pertama, sebuah citra adalah refleksi realitas yang sebenarnya, jadi seperti kita melihat pada cermin apa yang kita lihat pada cermin adalah realitas adanya.

Tahap kedua, citra mulai menjadi topeng dan mengubah realitas. Jika diibaratkan, hal ini sama ketika kita selfie menggunakan filter tertentu, yang dengan filter itu foto akan menjadi lebih putih, jerawat akan menjadi halus dan kerutan akan menjadi mulus. Maka, wajar ketika dua orang kenalan di sosial media, lalu mereka bertemu banyak yang mengatakan kok gak seperti yang ada di profilnya ya?

Tahap berikutnya, yang lebih parah ketika citra telah menjadi topeng atas realitas yang sudah tidak ada lagi. Pada tahapan ini citra telah menggantikan kekosongan-kekosongan yang tidak lagi dapat disediakan oleh realitas. Misalnya seseorang yang berusaha mengubah lekuk tubuhnya menjadi ‘barbie’, padahal realitas yang seperti itu jelas tidak ada.

Yang paling parah dan merupakan tahap terakhir adalah di mana sebuah citra sudah tidak memiliki koneksi sama sekali dengan realitas. Namun telah menjadi realitas murni itu sendiri. Pokemon Go misalnya, yang tidak memiliki koneksi apa pun dengan realitas nyata, namun telah menjadi realitas itu sendiri. Bahkan menjadi realitas yang mengganggu privasi hingga keamanan nasional yang sangat nyata melebihi realitas fisik.

Simulakra menjadi realitas yang menggantikan realitas kontradiktif yang sebenarnya. Simulakra diciptakan dengan tujuan berbeda sesuai dengan tahapnya. Simulakra tahap pertama bertujuan untuk menggantikan realitas yang hilang dengan optimisme. Simulakra kedua bertujuan untuk membangunkan kesadaran mengenai kebebasan. Simulakra tahap ketiga dan keempat bertujuan untuk memunculkan citra ‘baru’ yang tidak mewakili realitas fisik apa pun.

Semua gejala yang telah disampaikan di awal adalah bukti nyata bahwa gawai, internet telah menjadi hyper reality. Kita lebih banyak menghabiskan waktu bercengkrama dengan teman di WhatsApp Grup, Telegram, Facebook, Instagram, Tiktok dan game online. Karena bagi kita itulah yang kini menjadi realitas yang jauh lebih nyata dibandingkan dengan realitas fisik yang kita temui sehari-hari.

Akhirnya, setelah mengungkapkan paparan simulakra di atas, saya mengajak untuk lebih bijak dalam menggunakan dan memanfaatkan gadget. Mengutamakan ‘citizen’ (warga kota) daripada ‘netizen’ (warga dunia maya). Melebih akrabkan dengan yang dekat dan bukan menjauhkan yang dekat. Jadilah diri sendiri (realitas) bukan menjadi orang lain (citra), bertindak seperti apa adanya bukan ada apanya dan fokuskan hanya untuk mencari ridho-Nya bukan mencari pujian makhluknya. (*)

*) Dosen Untag 1945 Banyuwangi.   Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #Simulakra #Untag