Perlu kita tahu bahwa definisi rumah itu bukan bangunan tempat tinggal saja. Namun rumah dapat pula dimaknai bisa saja kegiatan, kawan, tempat, game, pacar, atau bahkan olahraga. Dalam hal ini, rumah bermakna tempat nyaman bagi kita untuk beraktivitas dan melakukan banyak hal atau tempat kita diam dan tidak melakukan apa-apa.
Banyak sekali sesuatu yang bisa kita jadikan ‘rumah’ contohnya olahraga. Ketika kita lagi bersedih dan entah mau ke mana lagi kita menghibur diri, berolahraga adalah salah satu tempat dan kegiatan terbaik untuk kita bergembira atau berbahagia menghilangkan stress dan kesedihan.
Tempat yang paling menyenangkan untuk beristirahat adalah di rumah. Istirahat yang paling baik adalah tidur dan tidur di rumah adalah paling baik bagi anak sekolah. Kenapa? Anak sekolah dapat terpantau oleh orang tuanya kapan tidur dan bangun, serta aktivitas lainnya. Tentu sedikit berbeda dengan anak sekolah yang tinggal di tempat indekos. Namun demikian, pilihlah tempat indekos dengan pemilik indekos yang dapat dianggap sebagai orang tua sendiri
Keluarga merupakan tempat anak untuk berlindung, membagi kasih sayang dan cinta, serta memberikan kenyamanan. Apabila terjadi suatu keadaan keluarga yang berbanding terbalik dari hal itu tentu menyedihkan. Bahkan banyak informasi yang sampai pada kita, terkadang keluarga malah menjadi sumber kekerasan dan kesengsaraan bagi anak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Miller dan Perri, bahwa hal yang benar, keluarga adalah tempat yang aman untuk mengasuh. Namun, di sisi lain hal yang benar juga bahwa tindak perlakuan salah terhadap anak juga telah banyak terjadi di dalam rumah.
Berdasar data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada tahun 2020, tanggal 1 Januari sampai 19 Juni 2020, telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak. Di antaranya 852 kasus kekerasan fisik, 768 psikis. Sebuah harian nasional juga menerbitkan berita, kekerasan anak yang terjadi pada keluarga dilakukan oleh orang tua sebanyak 510 kasus dan kekerasan anak yang dilakukan oleh saudara sebanyak 226 kasus. Beberapa penyebab terjadinya kekerasan anak di lingkungan keluarga adalah ekonomi, masalah keluarga, perceraian, kelahiran anak di luar nikah, jiwa atau psikologis, serta tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan religi yang memadai.
Contohnya ada suatu keluarga yang mengalami masalah yang berat dan kedua orang tua saling berdebat hingga suaranya sampai ke tetangga. Si anak yang tidak mau kedua orang tuanya bertengkar ia pun melerai keduanya. Si anak yang tidak punya tenaga, mendapatkan beberapa pukulan dan tendangan dari ayahnya. Ia yang tak berdaya pun pingsan.
Perlakuan kekerasan terhadap anak mengakibatkan efek negatif jangka panjang. Dampak umum dari kekerasan terhadap anak dapat mengakibatkan gangguan mental saat dewasa, rentan terhadap depresi, traumatis, mengganggu proses tumbuh kembang, mengganggu perkembangan kecerdasan anak, masalah pada perkembangan emosional, ketidakmampuan memecahkan masalah hingga menjadi pelaku kekerasan.
Sebagai umat yang beragama, rumah yang baik bagi pendidikan anak juga memenuhi fungsi ibadah. Anak dapat beribadah dengan baik. Di rumah yang baik juga akan tumbuh nilai-nilai religius bagi anak. Nilai keimanan dan ketakwaan sejatinya berawal dari lingkungan rumah tangga. Oleh sebab itu, di rumah harus memiliki tempat atau lokasi ibadah yang baik dan nyaman. Rumah juga dapat menjadi tempat belajar bagi anak, anak bisa belajar leluasa di rumah yang menjadikan orang tua sebagai guru. Karena orang tua adalah guru pertama bagi anak dan menjadi contoh terbaik bagi anak.
Mungkin hal yang paling diinginkan dan diidam-idamkan bagi seorang anak broken home adalah kebersamaan bersama orang tua, merasakan hangatnya rumah yang penuh dengan canda tawa. Melihat seorang anak yang berkumpul, bercanda tawa, dekat dengan orang tuanya, berbagi cerita, menangis bersama, tertawa bersama hal tersebut dapat menyakiti hati seseorang anak. Maka dari itu menjadi anak broken home adalah cobaan yang sangat berat bagi anak tersebut. Harapan terbesar dari anak broken suatu saat nanti akan berkeinginan membuat keluarga yang nyaman, harmonis, dan tempat kembalinya si anak tersebut atau bisa dibilang rumah yang ramah. (*)
*) Siswa MAN 1 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin