Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Peran Ulama dalam Pertempuran 10 November 1945

Ali Sodiqin • Kamis, 10 November 2022 | 14:33 WIB
HELIA IHROMI, Guru Bahasa Inggris MTsN 2 Banyuwangi.
HELIA IHROMI, Guru Bahasa Inggris MTsN 2 Banyuwangi.
HARI pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November oleh bangsa Indonesia. Ppada pertempuran 10 November 1945, arek-arek Surabaya berjuang mengusir penjajah yang ingin menguasai NKRI. Pertempuran ini tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh para ulama.

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) lahir ketika Pengurus Besar NU mengundang seluruh konsul NU rapat pada 21 Oktober 1945. Salah satu poin penting dari resolusi tersebut adalah kewajiban mengikuti perang bagi seluruh umat Islam yang berada pada jarak 94 kilometer dari medan pertempuran.

Wacana yang dibawa oleh Resolusi Jihad tersebut akhirnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Teks Resolusi Jihad dikirimkan kepada Presiden Sukarno dan Jenderal Sudirman. Keluarnya Resolusi Jihad tersebut tak terlepas dari permohonan Presiden Sukarno pada 17 September 1945, yang memohon fatwa hukum kepada ulama. Karena NU merupakan organisasi Islam yang terbesar kala itu, maka Presiden Sukarno meminta fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH Hasyim Asyari.

Dalam konteks Pertempuran 10 November 1945, Resolusi Jihad disebarkan oleh Bung Tomo melalui pidato-pidatonya. Wacana Resolusi Jihad sampai kepada Bung Tomo dengan berbagai cara. Bung Tomo merupakan seorang yang dekat dengan kalangan NU, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan putranya, KH. Wahid Hasyim.

Beberapa hari sebelum insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Bung Tomo diberi secarik kertas berisi fatwa Jihad melawan Belanda oleh KH. Hasyim Asy’ari. Secarik kertas tersebut diberikan ketika ia berkunjung ke pesantren untuk menemui para kiai dan memohon doa. Resolusi jihad inilah yang membakar semangat juang Arek-arek Surabaya pada 10 November 1945. Sehingga kaum santri dan rakyat bersatu mengusir tentara sekutu dari Kota Pahlawan.
Hal sama juga dilakukan tokoh-tokoh Jatim untuk menghadap KH Hasyim Asyari. Mereka meminta fatwa untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Kiai Hasyim, dideklarasikan perang kemerdekaan sebagai jihad. Dalam resolusi jihad, Kiai Hasyim meminta pemerintah untuk segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali. Fatwa atau Resolusi Jihad Hasyim berisi lima butir.

Butir Pertama: kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan.

Butir kedua: Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong.

Butir ketiga: musuh Republik Indonesia yaitu Belanda, yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris, pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.

Butir keempat: umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Butir kelima: kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilo meter, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang
Resolusi Jihad itu mengguncang Surabaya. Rakyat menyambut suka cita seruan jihad yang disiarkan melalui pengeras suara musala dan masjid. Kala itu arek-arek Surabaya telah meraih kemenangan dari sisa-sisa tentara Jepang. Sejak disebarkan 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Surabaya. Sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Belanda yang membonceng pasukan sekutu.

Selanjutnya, Resolusi Jihad memicu perang rakyat selama 4 hari di Surabaya. Yakni 26-29 Oktober 1945. Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh pada 30 Oktober 1945. Resolusi Jihad, mempunyai dampak besar di Jatim. Di lain sisi, terbunuhnya Jenderal Mallaby memicu kemarahan tentara sekutu. Pada 9 November 1945, mereka mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya sebelum pukul 06.00. Namun, rakyat menolak sehingga pertempuran kembali meletus.

Pertempuran besar 10 November 1945 di Surabaya, benar-benar di luar perkiraan sekutu. Pemimpin sekutu mengira Surabaya bakal takluk dalam tiga hari. Namun, pertempuran sengit itu berlangsung hingga 100 hari. Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Sedangkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional untuk mengenang jasa kaum santri yang terlibat perang melawan kolonialisme.

Ada beberapa catatan penting sebagai refleksi bersama tentang makna Hari Pahlawan. Pertempuran dahsyat 10 November 1945 itu tak bisa lepas dari kejadian-kejadian sebelumnya. Salah satu isi Resolusi Jihad NU adalah mewajibkan bagi umat Islam, untuk mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan sekutunya yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

Fatwa Resolusi Jihad tersebut, merupakan wujud kecintaan ulama terhadap bangsa ini sekaligus sebagai bentuk komitmen para ulama dan para santri untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang dideklarasikan tiga bulan sebelumnya. 10 November 1945 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya rakyat Surabaya.

Untuk itu, momentum Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad harus jadikan refleksi bersama untuk menanamkan rasa nasionalisme pada anak bangsa. Itulah peran signifikan yang dilakukan oleh ulama dalam mewujudkan cita-cita mempertahankan kemerdekaan. (*)

*) Guru Bahasa Inggris MTsN 2 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#10 November #artikel #opini #Hari Pahlawan #Ulama