Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dimensi Mistik dalam Islam

Ali Sodiqin • Sabtu, 5 November 2022 | 19:48 WIB
Ali Mursyid Azisi, Pengurus Asosiasi Penulis-Peneliti Islam Nusantara Se-Indonesia PW LTNNU Jatim.
Ali Mursyid Azisi, Pengurus Asosiasi Penulis-Peneliti Islam Nusantara Se-Indonesia PW LTNNU Jatim.
DALAM dunia sufi (Tasawuf), nama mistik yang biasa dipakai dalam Islam banyak yang bertanya, apa yang ada di balik kata mistik tersebut. Banyak yang menyebutkan, mistik itu selalu berkaitan dengan hal yang sifatnya misterius dan sulit dijangkau jika dengan mengandalkan akal rasional. Bahkan dengan cara intelektualitas tidak cukup untuk mengetahui hal mistik tersebut.

Kata mistik berasal dari Bahasa Yunani yakni myein yang artinya menutup mata. Mistik kini disebut sebagai arus yang besar tingkat kerohanian yang mengalir dalam tiap agama. Jika diartikan secara umum, mistik juga dikatakan sebagai kesadaran diri manusia terhadap hal yang Mahatunggal yang bisa juga disebut dengan nihil, cahaya, kearifan, cinta, penuh kasih sayang. Dengan kata lain, adanya hubungan dengan Tuhan di sini yaitu adanya sambungan/ hubungan cinta yang tidak terucap. (Muzairi, Dimensi Perjalanan Mistik, 53).

Tetapi, definisi seperti ini hanya sebagai petunjuk bagi manusia biasa saja. Tujuan utamanya adalah bersatunya antara manusia dengan Ilahi (the transcendent realm). Dalam hal ini juga diperlukan pengalaman seseorang, baik melalui pikiran, maupun indera yang berkaitan dengan pengalaman rohani seseorang. Ketika seseorang membebaskan dirinya dari sifat keduniawian atau dalam Islam disebut zuhud, maka cahaya yang dalam hatinya semakin terang. Yang biasa disebut para sufi dengan menggosok cermin jiwanya sampai mengkilap.

Seorang psikolog dan sufistik Al-Ghazali pernah mengalami pengamalan puncak dari spiritual dengan motivasi yang disebut al-ma’rifah. Menurutnya, al ma’rifah adalah cahaya illahi yang ditumpahkan pada hati (kalbu) yang bersih dan suci yang dikehendaki-Nya. Jika ma’rifah ini dirasakan seseorang, orang tersebut akan mengalami penyaksian musyahadah dan penyingkapan kasyaf terhadap ilmu yang sifatnya hakiki. Untuk memperoleh ma’rifah, perlu adanya penajaman zauq atau cita rasa sesudah penyucian diri dilakukan (tazkiyah al-nafs) dan juga riyadlah atau latihan.

Sementara itu, sufi psikolog Abu Yazid al-Busthami juga mengalami puncak dari pengalaman spiritual yang beda dengan Al Ghazali. Abu Yazid mengalami pengalaman spiritual ini dengan menggunakan motivasi al-ittihad. Ittihad pada hakikatnya merupakan mystical union persatuan dari mistis. Di mana seorang sufi sudah mengalami peningkatan derajat kema’rifahannya melihat Tuhan, yang di situ hanya dengan melalui mata batin yang bersumber dari hati sanubari yang bersih dan suci. Al-Busthami sering dalam kondisi ini mengalami theopatical atammering.

Husein ibn Mansur al-Hallaj juga mengalami pengalaman mistik. Namun pengalaman mistik yang dialami Husein ibn Mansur ini berbeda dengan kedua tokoh sufi tersebut. Husein ibn Mansur mengalami al hulul. Beliau mengisyaratkan, hulul itu pada manusia dan Tuhannya yang memiliki keterkaitan lahut wa nusul. Yaitu yang dimaksud adalah Tuhan akan merasuk pada jasad manusia yang tergolong istimewa, seperti halnya para imam dan Nabi.

Dengan dirasuki Tuhan inilah, manusia mendapat kasab dengan sifat yang uluhiyah. Salah seorang tokoh sufisme yang juga mengalami pengalaman mistik semacam itu adalah Ibnu Arabi. Karyanya berjudul Risalah al-Anwar fi ma Yumnah Shahib al-Khalwa min al-Anshar menceritakan apa yang dialami beliau selama menerapkan zikir secara terus menerus dan intensif.

Pemahaman berbeda dari pengalaman mistik karena bersumber dari beberapa kajian yang beda pula antara agama, psikologi, dan tasawuf. Maka dari itu, dalam hal ini menggunakan istilah pengalaman religius karena adanya beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, dari pengalaman religi yang dihasilkan bukanlah terjadi dalam proses yang tidak sadar, melainkan hal tersebut menggunakan metode atau sebuah usaha dengan cara yang sadar baik itu dengan dzikir dan hal yang lainnya yang disiti bertujuan untuk mendekatkan kepada-Nya. Kemudian dikenal sebagai jenjang menuju yang Esa, yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat, Ma’rifat.

Kedua, dalam studi kajian dunia tasawuf yang akan mendapatkan pengalaman seperti itu hanyalah orang-orang tertentu. Yang merupakan orang pilihan yang bersih hatinya, baik akhlaknya, dan tinggi ilmunya. Yaitu kalangan Nabi, ulama, wali, dan juga para sufi. Dalam psikologi Islam, pengalaman religius dianggap sebagai ungkapan rasa religiusitas yang sudah tertanam di relung hati setiap insan.

Pengenalan diri yang terdapat dalam dunia tasawuf bisa dicapai dengan melakukan riyadhah al-nafs dan riyadha i-nafs. Keduanya tidak dapat dilakukan kecuali jiwa manusia telah mengalami penyucian. Al-Sarri al-Saqati berpendapat, seseorang yang telah mencapai maqom ma’rifat sebaiknya mampu mengendalikan diri.

Suhrawardi berpendapat, tiap cahaya itu memiliki beberapa tingkat intensitas dalam penampakannya. Hal tersebut sangat bergantung dengan seberapa dekat ia dengan cahaya segala cahaya yang disebut dengan nur al-anwar.  Yang mana merupakan pusat dan sumber dari segala cahaya. Dikatakan paling sempurna cahaya tersebut, jika semakin dekat dengan nur al-anwar. Yang kemudian dikatakan paling sempurna cahaya yang paling dekat dengan nur al-anwar tersebut, dan juga sebaliknya.

Dunia sufi dalam melakukan konsentrasi pikiran terhadap objek dan juga dalam membebaskan jiwa terhadap hal yang terbatas, dilakukan dengan cara meditasi yang hampir sama dengan meditasi dalam ajaran Buddha.  Meditasi yang dimaksud ialah sufi meditation yang dalam bahasa Arab disebut muraqabah. Kontemplasi atau muraqabah dilaksanakan dengan posisi duduk dan memejamkan mata. Jika semakin sering pelaku melaksanakan amal semacam ini, semakin mudah pula ia merasakan keadaan khusyuk (trance).

Tokoh psikologi Carl Gustav Jung berpendapat, pengalaman religius itu dialami secara tidak sadar oleh manusia. Ini bermula dari teori yang dikenal dengan pemikiran alam bawah sadar yang kolektif (collective unconsciousness mind). Ajaran agama Kristen setelah melalui masa pemurnian secara lama maka disebut dengan via purgative, dan orang yang mencari atau pencari bisal mencapai tempat orang tersebut diberkati, kearifan, dan juga cinta. Dari hal semacam itu, baru dapat mencapai suatu pencarian mistik yang  disebut unio mystica.

Hal tersebut juga diungkapkan bahkan juga diyakini sebagai kolaborasi cinta yang disebut dengan visio beatifika. Yaitu di mana tempatnya jiwa dapat menyaksikan apa yang tidak dapat dijangkau panca indera manusia. Yang juga diliputi dengan yang disebut dengan cahaya Tuhan. Seperti itulah gambaran penyingkapan cadar ketidaktahuan, yang dimaksud adalah ciri-ciri dasar dari Tuhan dan juga makhluknya yang tertutupi yang disebut cadar ketidaktahuan. (*)

*) Pengurus Asosiasi Penulis-Peneliti Islam Nusantara Se-Indonesia. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #Tasawuf #artikel #islam #opini #Mistik