Setelah lulus S1, kemudian dengan semangat 45, melangkahkan kaki dengan gagah untuk menuju ke jenjang berikutnya. Berhasil dilakukan dengan nyaris sempurna. Cum Laude.
Tapi ketika bertanya kembali, apa sebetulnya keahlianku, passion-ku? Dia tidak tahu jawabannya. Galau. Disalurkan dengan membuat konten di media sosial. Tidak tahunya, konten tersebut viral. Karena ternyata dia tidak sendiri. Banyak generasi muda zaman now berpikir hal yang sama. Apalagi karena mereka dikategorikan sebagai generasi yang masuk usia produktif. Tapi sampai saat ini, banyak di antara mereka yang belum masuk ke dunia kerja. Atau pun kalau sudah masuk ke dunia kerja, mereka merasa tidak sreg karena tidak sesuai dengan passion atau keinginan mereka.
Permasalahan tenaga kerja adalah adanya mismatch antara kebutuhan dan permintaan yang diakibatkan oleh adanya kesenjangan informasi tentang pelatihan, lowongan, dan skill yang dibutuhkan di dunia kerja.
Serta kurangnya koordinasi antara pemerintah dan swasta. Sehingga hal ini berdampak pada rendahnya produktivitas tenaga kerja. Indikatornya adalah low end service atau rendahnya transformasi struktural ke arah jasa keahlian, banyaknya proporsi tenaga kerja berkeahlian rendah, dan upah rendah.
Sehingga bagaimana caranya untuk mewujudkan tenaga kerja yang terampil kreatif, inovatif, dan adaptif, serta didukung dengan adanya pasar kerja yang fleksibel. Pertanyaannya, bagaimana ketersediaan pasar kerja di Indonesia?
Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, ada sembilan jenis pekerjaan yang diprediksi akan hilang pada tahun 2030. Yaitu jasa pengamanan, tenaga administrasi perkantoran, tenaga jasa transportasi, pertanian tradisional, tenaga produksi manufaktur, construction and extraction, sales, dan bidang terkait, dan social media manager. Karena sembilan jenis pekerjaan tersebut akan tergantikan dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat. Sehingga jenis usaha juga akan berubah. Bahkan di tiga negara maju yakni Amerika Serikat, Jerman, dan Australia, akan ada 6,1 juta pekerjaan yang akan hilang.
Lalu, apa yang lebih dibutuhkan untuk talent di masa depan? Di antaranya adalah digital marketing, block chain developer, market research, data scientist and analyst, biotechnology, software and game developer, artificial intelligence expert, analis big data, dan digital content.
Ini perlu perhatian yang sangat serius. Karena pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Yaitu 70 persen jumlah penduduk Indonesia masuk dalam kategori usia produktif (15 - 64 tahun). Jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan membawa dampak buruk terutama masalah sosial. Seperti kemiskinan, kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Bonus demografi memang tidak bisa dihindari, karena itu fakta yang dihadapi.
Karena itu, persiapan menuju generasi emas 2045 harus dilaksanakan sejak dini. Bagaimana generasi emas yang diharapkan? Yaitu generasi yang memiliki kecerdasan komprehensif (produktif dan inovatif), damai dalam interaksi sosialnya dan berkarakter kuat, sehat, menyehatkan dalam interaksi alamnya, serta berperadaban unggul.
Maka, untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing generasi muda, harus diciptakan pendidikan yang berkualitas mulai dari usia dini hingga menengah. Ada tiga strategi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing tersebut, yaitu; (1) pelibatan industri, (2) peningkatan relevansi dan daya saing pendidikan tinggi, dan (3) penguasaan adopsi teknologi dan menciptakan inovasi.
Dalam hal ini, stakeholder berperan sangat penting. Baik internal stakeholder, maupun eksternal stakeholder. Internal stakeholder seperti pemegang saham, manajemen, dan karyawan. Sementara eksternal stakeholder seperti konsumen, distributor, pemerintah, pers, kompetitor, dan lainnya. Baik internal maupun eksternal stakeholder, memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Tidak hanya sebagai penonton, tapi juga berperan sebagai ABG-CM yaitu Academic, Business, Government, Community, dan Media.
Apabila ini bisa berjalan dengan baik, maka saya yakin tidak akan menemukan lagi FYP (For Your Page/ beranda) tentang keluhan seorang magister di akun Tiktok saya. Mari bekerja sama. (*)
*) Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin