Fokus pemerintah adalah pencegahan stunting. Ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal. Dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
Kondisi tubuh anak yang pendek sering dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari orang tuanya. Sehingga masyarakat sering beranggapan, bahwa itu adalah takdir dan hanya menerima tanpa usaha untuk mencegahnya. Padahal sebenarnya, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya, bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Bisa dikatakan bahwa, stunting merupakan masalah yang bisa dicegah.
Menurut mantan Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting. Yaitu perbaikan pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.
Pola makan. Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta sering tidak beragam. Sehingga perlu mengenalkan dan membiasakan dalam kehidupan sehari-hari pada istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang. Istilah ini digambarkan dalam satu porsi makan, berisi setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengah lagi diisi dengan sumber protein (nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat. Karena pada masa pertumbuhan anak-anak, dianjurkan harus memperbanyak sumber protein, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.
Pola asuh. Bahwa stunting juga dipengaruhi aspek perilaku. Terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktik pemberian makan bayi dan balita. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga. Hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin.
Sanitasi dan Akses Air Bersih. Termasuk dalam hal ini adalah akses sanitasi dan air bersih yang rendah, bisa mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi, salah satunya diare. Diare dapat menyebabkan anak tidak mempunyai nafsu makan. Sehingga terjadi kekurangan jumlah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, yang dapat menyebabkan gizi kurang. Jadi terdapat interaksi antara infeksi dan konsumsi makanan yang kurang, merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Untuk itu, perlu upaya meningkatkan akses sanitasi dan air bersih, dengan cara membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.
Peran Catin
Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (ibu) dalam mengatur kesehatan dan gizi keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi ibu dan anaknya.
Calon pengantin (Catin) merupakan salah satu sasaran yang turut dapat perhatian dalam pengentasan stunting. Para catin merupakan pasangan usia subur yang akan mendapatkan keturunan. Sehingga diharapkan keturunan yang diperoleh sehat jasmani, memiliki kecerdasan tinggi, dan tidak stunting (pendek). Tidak hanya persiapan menjadi calon ibu, menjadi calon ayah juga berperan dalam 1000 HPK untuk mencegah stunting.
Dalam pencegahan stunting, khususnya intervensi sensitif gizi sangat perlu mengubah perilaku catin. Perubahan diawali dengan peningkatan pengetahuan tentang makanan sehat dan bergizi pada seluruh daur kehidupan. Dimulai dari sebelum kehamilan. Status gizi masa pranikah (prakonsepsi) sering terlupakan. Alternatif untuk memperhatikan gizi prakonsepsi merupakan suatu strategi untuk mempersiapkan status gizi calon ibu, sehingga tercapainya keluarga yang sehat dan keturunan yang berkualitas. Tidak hanya itu, perlu perencanaan dan penanganan tepat untuk mempersiapkan keturunan yang berkualitas.
Hal ini diperkuat dengan beberapa hasil penelitian, bahwa status gizi anak dapat disebabkan oleh karakteristik orang tua seperti ukuran antropometri ibu dan ayah, tinggi badan orang tua memungkinkan anak memiliki risiko gagal pertumbuhan, serta mengalami underweight. Serta kondisi KEK pada wanita sebelum hamil juga dapat mempengaruhi risiko terjadinya stunting. Komposisi tubuh ibu dan pola makan mempengaruhi keturunan pertama dan kedua.
Upaya Catin
Salah satu upaya pencegahan stunting adalah mengatur pola makan yang baik. Khususnya dalam mempersiapkan kehamilan. Agar menghasilkan keturunan yang berkualitas. Karena mereka yang akan melahirkan sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Catin juga perlu belajar gizi yang baik dalam mengonsumsi makanan selama masa kehamilan, menyusui, dan masa selanjutnya.
Makanan menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kondisi kesuburan seseorang. Contoh asupan nutrisinya yaitu ikan, produk olahan susu, protein hewani dan nabati, buah-buahan, hingga makanan kaya kandungan Zinc.
Untuk mencegah stunting, catin wajib memiliki kesehatan lahir dan batin, memahami informasi yang benar tentang kapan akan memiliki anak. Termasuk jumlah anak dan jarak kelahirannya, serta pola asuh yang tepat. Menentukan kapan akan punya anak, jumlah anak, dan jarak kelahirannya, adalah hak dan tanggung jawab setiap catin.
Peran catin wanita juga menjadi faktor, saat hamil esok, perlu disiapkan sikap untuk rutin cek kesehatan, sekaligus memeriksa status gizi sebelum dan saat hamil. Serta memahami pola asuh yang tepat, supaya bisa melahirkan generasi bebas stunting.
Upaya pencegahan stunting bagi catin pria adalah dengan meningkatkan pengetahuan yang memadai sehingga akan mempengaruhi sikap positif terhadap IMD, durasi menyusui, dan menyusui secara eksklusif. Mereka akan memberikan pertimbangan, dukungan sosial, pengasuhan anak dalam keluarga.
Melalui persiapan sejak awal, catin membantu mewujudkan generasi anak sehat bebas stunting, ingat entaskan stunting itu penting! (*)
*) Dosen S1 Gizi Stikes Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin