Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Enam Langkah Menggapai Cinta Allah

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Juli 2022 | 00:00 WIB
Aziz Raviky Augustara
Aziz Raviky Augustara
SETIAP manusia memiliki rasa cinta, terlebih cinta kepada Tuhan Yang Mahamencintai. Karena seseorang yang tidak memiliki rasa cinta, maka orang tersebut dianggap abnormal. Sebaliknya, jika seseorang yang cinta berlebihan itu tidak diperbolehkan kecuali cinta kepada Allah, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Kita sebagai muslim jika ditanya, “apakah engkau mencintai Allah” pasti jawabannya iya. Cinta memang mudah diucapkan, tapi terkadang sulit dalam mewujudkan. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang tulus dan ikhlas. Terlebih cinta Allah, penuh cobaan dan ujian untuk meraihnya.

Seperti halnya Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan segalanya. Tak heran, Allah sendiri menyebutnya sebagai khalilullah (kekasih Allah).

Menurut Asfari MS dan Otto Sukatno CR dalam buku Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, seorang tokoh sufi yang merintis konsep cinta Ilahi adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Rabi’ah al-Adawiyah (713/717-801 M) adalah figur sufi perempuan dari Bashrah, Irak, yang hingga akhir hayatnya tidak menikah. Menurutnya pernikahan adalah rintangan dan halangan untuk mencintai Tuhan. Terkait hal ini beliau bermunajat “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku kepada-Mu”.

Tentu pernyataan ini harus dilihat dari konteksnya. Selain dari faktor ketinggian maqam beliau yang telah mencapai derajat ma’rifat kepada Allah SWT. Inilah yang menjadi salah satu bukti, Rabi’ah sangat mencintai Tuhannya.

Suatu ketika, Amir Abbasiyah di Basrah, Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi pernah melamar beliau dengan menawarkan mahar 100.000 Dinar. Lamaran itu juga diperkuat dengan menuliskan surat kepada Rabi’ah bahwa ia memiliki gaji 10.000 dinar per bulan. Tetapi beliau menolak dan menuliskan surat kepada Amir “hal itu tidaklah menyenangkanku, kamu akan menjadi budakku dan semua yang kau miliki akan menjadi milikku, atau kamu akan memalingkan aku dari Tuhan sebuah pertemuan abadi”.

Lora Ismael Amin dalam bukunya Catatan dari Tarim, menceritakan sebuah kisah dan fenomena menarik tentang cinta. Suatu ketika, Habib Ali Al-Jufri pernah ditanya mahasiswa Kairo. “Cinta itu halal ataukah haram?” Habib Ali menjawab “Cinta itu wajib. Cinta itu kewajiban hati. Mengapa? Karena orang yang tidak memiliki cinta maka dia bukan manusia.”

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan tolok ukur sekaligus pertanda bahwa diri kita ini benar-benar mencintai Allah:

Pertama, tidak benci dan tidak takut mati. Bila seseorang yang mencintai kekasihnya, pasti ia amat berharap dan selalu merindukannya. Begitu pula jika ia mencintai Allah, maka ia akan senantiasa ingin bertemu dengan kekasihnya, yaitu Allah SWT melalui proses kematian. Seperti halnya Nabi Ibrahim ketika bertemu Izrail guna mencabut nyawanya. Pada awalnya, Nabi Ibrahim tidak mau karena mengetahui bahwa dirinya memiliki dosa. Tetapi ketika Izrail mengatakan “Allah ingin bertemu denganmu”, maka Nabi Ibrahim pun bersedia menyerahkan nyawanya, demi untuk bertemu dengan Sang Kekasih, Allah SWT.

Kedua, mendahulukan yang dicintai oleh Allah daripada apa yang ia cintai. Ketika seseorang hendak melakukan suatu perbuatan, maka harus merenungi terlebih dahulu. Perbuatan mana yang diridoi oleh Allah atau yang tidak diridoi oleh Allah. Bagi orang yang mencintai Allah, pasti memilih perbuatan yang diridoi oleh-Nya. Meskipun perbuatan tersebut bertolak belakang dengan keinginannya, karena ia tahu balasannya adalah surga. Seperti Rabiah al-Adawiyah, beliau memilih tidak menikah selama hidupnya karena beliau lebih mencintai Allah daripada makhluk-Nya.

Ketiga, selalu berzikir kepada Allah. Lisannya selalu basah dengan zikir dan mengingat betapa luasnya kekuasaan Allah. Mencintai Alquran dan Rasulullah Muhammad SAW. Rabi’ah al-Adawiyah sering melakukan ini. Setiap hari beliau berzikir. Bahkan ketika tidur pun hatinya tetap berzikir kepada Allah. Seorang ulama mengatakan, wali yang hatinya sepi dari zikir maka ia telah melakukan sebuah kesalahan (dosa).

Keempat, senang menyendiri untuk tafakur, munajat, membaca Alquran dan salat tahajud. Jika seseorang dipenuhi cinta kepada Allah, maka ia membangun komunikasi batin melalui media berpikir dan merenung (al-tafakur wa tadabbur). Yaitu berpikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, baik yang terhampar di alam semesta (ayat al-kauniyah), maupun tersurat di Alquran (ayat al-qauliyah). Ia juga tidak lupa salat di tengah malam (tahajud). Hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau setiap malam selalu bermunajat kepada Allah dan melakukan salat tahajud hingga kakinya bengkak. Sehingga istri tercintanya, Aisyah mengkhawatirkan. Aisyah sempat bertanya “Ya Rasulullah, Engkau telah dijamin sebagai seorang yang terjaga dari kesalahan (ma’shum), mengapa engkau masih melakukan salat malam?” Nabi SAW pun menjawab, “afala akunu ‘abdan syakura”. Tidakkah aku sebagai hamba yang bersyukur? Di sini terlihat secara eksplisit cinta Nabi SAW kepada Tuhannya.

Kelima, rela berkorban untuk yang dicintai. Mencintai Allah akan melahirkan sikap rela berkorban, karena itu konsekuensi dari rasa cinta kepada sesuatu. Contoh pengorbanan Shuhaib yang rela meninggalkan harta demi hijrah bersama Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Contoh lainnya, cinta Nabi Ibrahim kepada Tuhannya. Ketika baru mereguk kebahagiaan dengan dikaruniai seorang putra, Allah memerintahkan mengasingkan putranya tersebut untuk disembelih. Dengan tulus dan ikhlas, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu sebagai bukti cintanya kepada Kekasihnya.

Keenam, merahasiakan cintanya. Kebenaran cinta kepada seseorang itu tidak harus dikatakan. Seperti halnya, cinta Sayyidina Ali kepada Sayyidah Fatimah. Beliau tidak mengungkapkan cintanya kepada istrinya hingga menikah. Begitu juga dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah itu tidak harus dengan mengungkapkan dan menceritakan. Cinta tidak harus diukur dengan manisnya kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan amal nyata. Bahkan, cinta yang diobral dan diceritakan kepada orang lain pertanda ia masih ragu akan cinta itu sendiri. Apalagi cinta kepada Allah, maka akan mendatangkan penyakit hati yakni riya’. Cinta kepada Allah harus dijaga di dalam hati dan dinyatakan dalam realisasi takwa yang sebenarnya.

Di tengah terpaan perilaku dan sifat hedonis masyarakat modern, sangat urgen menggugah hati kita untuk kembali menggapai cinta Illahi. Menggugah jiwa individu dan masyarakat untuk mencintai Allah, melebihi segala apa yang ada di dunia.

KH Ahmad Baha’uddin Nursalim (Gus Baha’) menekankan pentingnya mencintai Allah. Karena dengan mencintai-Nya, itu menjadi bukti bahwa kita adalah makhluk-Nya yang pandai bersyukur. Bersyukur atau berterima kasih kepada manusia dan sekaligus kepada Tuhannya.

Setelah kita mengetahui poin-poin tersebut, mungkin kita menganggapnya berat. Tetapi sebenarnya itulah implementasi dari iman. Sebagai Mukmin, kita harus berupaya mengaplikasikan semaksimal mungkin poin-poin tersebut dalam kehidupan nyata, meskipun hanya sebagian.

Cinta kepada Allah adalah realisasi keimanan yang menjadi hak Allah. Apabila akar iman telah menghujam kuat dalam hati, maka ia akan berpengaruh dalam jiwa dan seluruh aspek kehidupan manusia. Itulah yang kita harapkan. Marilah kita mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena seseorang yang mencintai sesamanya kelak di akhirat akan bersama-sama. (*)

*) Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#artikel #Cinta Allah #refleksi #opini