Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fenonema Bocil Bermotor Bersahabat dengan Setan Gepeng

Ali Sodiqin • Kamis, 16 Juni 2022 | 14:36 WIB
Photo
Photo
SUDAH banyak kita saksikan perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini. Dahulu, banyak kita temukan para bocah yang gemar sekali bermain permainan tradisional. Mereka berkumpul penuh canda tawa antusias dalam permainan. Kelereng, gobak sodor, petak umpet, dan yang tak kalah menarik bagi bocah perempuan yakni berlagak layaknya seorang koki andal dengan perabot rumah tangga milik sang ibunda.

Dahulu, jarang kita temukan anak-anak kecil yang betah berdiam diri di dalam rumah. Pulang sekolah, mulai dari melepas seragam sembarangan dan melempar tas miliknya begitu saja. Setelah itu mereka hilang mulai beraksi dengan permainan kegemaran mereka masing-masing. Para generasi yang pernah merasakan hal demikian pasti tertawa kecil ketika mengingat kekonyolan masa kecil mereka. Benar begitu bukan?

Coba bandingkan dengan fenomena yang kita temukan saat ini. Di era yang serba canggih ini. Bocil bahasa kepanjangan dari bocah kecil. Ada yang belum mengetahui istilah ini atau sudah mengetahui sebelumnya. Perilaku bocil saat ini sangat bertolak belakang dengan kegemaran bocil era dahulu. Jika dahulu bocil mainannya karet, sekarang sukanya internet. Jika dahulu bocil gemar bersepeda dengan riang gembira, sekarang berlomba-lomba memamerkan mesin beroda dua yang mereka ubah dengan sedemikian rupa. Lalu bergaya bak pembalap yang sebenarnya.

Tak jarang bukan, kita melihat bocil yang masih di bawah umur sudah mampu mengoperasikan sepeda motor milik orang tuanya. Berboncengan dengan rekan yang sama bocilnya. Bahkan tak hanya berdua, tetapi berboncengan tiga atau empat sekaligus dalam satu sepeda motor. Mereka mondar-mandir berkeliling jalan raya dan sangat ngawur dalam berlalu lintas. Akibatnya banyak sekali tragedi kecelakaan dengan bocil sebagai korbannya. Miris.

Laporan yang dihimpun dari Korlantas Polri sejak 1 Januari hingga 17 Februari 2022 mencatat, terdapat 15.265 kasus kecelakaan. Penyumbang kecelakaan terbesar adalah pengendara motor sebanyak 73 persen.

Belum lagi dengan fenomena bocil yang bersahabat dengan setan gepeng. Pernah tahu istilah setan gepeng? Setan gepeng adalah istilah lain dari gawai. Mengapa disebut setan gepeng? Pengertian setan dalam Bahasa Jawa adalah hantu atau sebut saja pengganggu dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, setan adalah makhluk dalam agama Samawi yang menggoda manusia untuk berbuat jahat. Disebut setan karena jika kita terlalu terlena dengan gawai, maka semua kegiatan kita akan terbengkalai tak kunjung terselesaikan. Maka dari itu gawai disebut setan. Dan istilah gepeng diambil dari bentuk gawai yang pipih (gepeng). Jadilah frase setan gepeng sebagai sebutan gawai.

Bocil saat ini menjadi sahabat si setan gepeng. Mungkin sudah tak asing lagi tulisan yang membahas tentang fenomena ini. Di mana pun tempatnya dan kapan pun itu, pasti bocil tak lepas dari setan gepeng. Tangan mereka dengan setia menggenggam benda pipih penuh manfaat dan mudhorot itu. Hingga berkendara pun, mereka masih sempat bercengkrama dengannya.

Tak hanya bocil, bahkan orang dewasa juga banyak yang melakukan hal demikian. Lantas, siapa yang kita benarkan atau kita salahkan? Bukankah bisa saja si bocil melakukan hal-hal negatif tersebut karena meniru gaya hidup orang dewasa di sekitarnya? Pembaca yang satu frekuensi dengan penulis, pasti akan mengangguk membaca tulisan ini.

Memang benar, teknologi yang semakin canggih membuat kita semakin mudah melakukan segala hal. Mudah mendapatkan informasi dari mana saja. Namun, jika kita sebagai pengonsumsi tidak dapat mengendalikan diri sendiri, maka kita akan terjerumus dalam keniscayaan. Seperti adanya gawai yang semakin hari semakin banyak tipenya. Nah, jika kita menuruti hawa nafsu dan rasa gengsi, maka dengan mudah kita mengikuti trend yang ada. Setiap muncul gawai keluaran terbaru, nafsu terus memaksa kita untuk segera memilikinya tanpa memikirkan masih ada kebutuhan yang lebih penting untuk dipenuhi.

Sama halnya dengan penggunaan gawai tanpa mengenal batas waktu dan tak mengenal tempat. Hingga di atas kendaraan roda dua pun, masih menggunakannya tanpa memperhatikan jalanan yang ramai. Dan hal tersebut juga banyak dilakukan oleh anak-anak.

Jika kita analisis bersama penyebab terjadinya fenomena bocil beroda dua yang menyeruak di segala penjuru pasti tak lepas dari kurangnya pengawasan orang tua. Semakin berkembangnya teknologi, membuat orang tua harus lebih mengawasi anaknya dalam pergaulan. Jangan sampai anak di bawah umur melakukan hal yang belum saatnya mereka lakukan. Seperti mengendarai sepeda motor sebelum cukup umur. Bahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja, mereka belum punya. Tapi sudah berani beraksi layaknya orang dewasa.

Salah satunya kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, karena orang tua yang selalu sibuk bekerja, sampai lalai mengawasi anaknya. Peran orang tua sangat penting dalam pembentukan sikap dan kepribadian anak. Orang tua berperan sebagai pembentuk karakter, pola pikir, dan kepribadian anak. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat di mana anak-anaknya pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Walaupun di dalam keluarga tidak terdapat rumusan kurikulum dan program resmi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, akan tetapi sifat pembelajaran di dalam keluarga sangat potensial dan mendasar.

Tanpa pengawasan yang baik dari orang tua, anak akan dengan mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Tidak hanya menirukan gaya tampilan orang dewasa. Namun, lebih berbahaya lagi jika mereka meniru perbuatan negatif yang mereka lihat. Jika sudah terjadi demikian, siapa yang mengalami kerugian kalau bukan keluarga si bocil dan masyarakat di sekitarnya? (*) Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #opini #persfektif