Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Di Balik Tausiah (Pilu) Sang Pengamen Tua

Ali Sodiqin • Selasa, 31 Mei 2022 | 19:35 WIB
Photo
Photo
YANG sering berkendara umum pasti menemui pengamen. Namun pengamen kali ini tampaknya lain dari yang lain. Hanya modal perkusi made in sendiri, dia mencoba beradu nasib di bus ber-AC dengan sedikit penumpang. Lagu yang dinyanyikan lagu klasik dari penyanyi terkenal. Tapi apalah artinya lagu indah itu bagi pengamen tua yang kurang bisa membedakan tangga nada. Kita juga tidak bisa berharap artikulasi yang jelas dari kakek tua akibat gigi yang tinggal beberapa buah. Dia tampaknya menyanyi tulus. Suara parau nan fals seolah tenggelam oleh penampilan ekspresif, namun tetap lugas.

Tetapi bukan itu yang menarik. Tidak seperti pengamen pada umumnya. Setelah uang receh diterima, dia berdiri di sudut bus sambil mengucapkan sesuatu. Semula kalimat-kalimat yang diucapkan dengan artikulasi kurang jelas itu memang kurang menarik perhatian.

Perhatian saya tiba-tiba tertarik ketika terdengar kalimat “…….ini kisah Nadia yang ditinggal bergendak ria oleh ayahnya hingga ibunya menuntut cerai. Setelah bercerai ibunya menikah lagi dengan laki-laki lain. Tetapi setelah menikah kasih sayang kepada putri semata wayangnya rupanya berkurang. Akibatnya, saya yang harus merawat dengan penuh kasih sayang,” begitu pengamen tua itu bercerita.

Rupanya Dia sedang bertausiah. Sampailah pada kalimat akhir: “Saya berpesan kepada siapa saja yang punya anak kecil janganlah dibuang, tetapi rawatlah, berilah makan agar dia kelak menjadi orang berguna”.

Kalimat-kalimat yang diucapkan pengamen tua itu memang boleh kita anggap biasa saja. Tetapi kalimat itu sejatinya kalimat-kalimat penting yang mestinya jadi bahan renungan siapa saja. Kalimat itu bisa saja kita anggap trik seorang pengamen. Tetapi terlepas apa pun motivasinya, tetap saja menarik perhatian saya. Apalagi, kalimat itu diucapkan setelah dia menerima jasa ngamen, bukan sebelum aksi mengamen.

Bagi orang yang sering bergulat di dunia peradilan keluarga, kalimat-kalimat tausiah pengamen tua itu sangat menarik karena beberapa alasan.

Pertama, inti pesan yang disampaikan sejatinya sebuah potret kehidupan manusia pada umumnya. Kisah sebuah pasangan muda yang ketika berkeluarga tidak didasari oleh sebuah fondasi yang kuat selain hanya upaya menyalurkan hasrat biologis (seksual). Setiap pasangan muda yang menikah sering belum berpikir, bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang sakral. Perkawinan tidak sekadar penyaluran biologis secara halal, tetapi upaya membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Suami atau istri yang sudah menikah harus melihat pasangannya sebagai objek mencurahkan kasih sayang. Karena itu, wajib hukumnya seorang yang telah menikah menutup mata rapat kepada lain jenis selain istri atau suaminya yang dapat berakibat menduakan kasih sayang. Maka, persiapan sebelum menikah dalam menentukan pilihan calon, harus dilakukan secermat mungkin. Dalam fase ini, justru dianjurkan membuka mata selebar-lebarnya.

Kedua, problem akibat sebuah perceraian bisa berdampak luas. Sebuah perceraian bisa berdampak kepada salah satu pihak, mantan istri atau mantan suami. Bahkan, bisa kepada keduanya sekaligus. Seorang sering beranggapan, masalahnya akan selesai dengan menempuh perceraian. Padahal, perceraian yang dilakukan justru menjadi awal problem-problem besar berikutnya. Beberapa orang memang dapat survive setelah kemelut rumah tangganya berakhir dengan perceraian. Apalagi, setelah bercerai dan kebetulan belum mempunyai anak, lalu mendapatkan pasangan yang sesuai dengan impian hidupnya. Akan tetapi, betapa banyak yang setelah bercerai lalu terjebak kepada dunia peruntungan (gambling). Dia lalu menikah dan pernikahan itu juga didasari atas pertimbangan yang sumair. Contoh, dia menikah hanya sekadar malu karena sudah lama menyandang status janda atau duda. Pernikahan yang ditempuh hanya lebih karena pertimbangan sosial dari pada personal. Akibatnya, pernikahannya sering tidak dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Pada saat yang sama latar belakang kenapa dulu bercerai, juga sering menjadi bayang-bayang traumatik oleh pasangan barunya. Semisal dulu pernah bercerai karena selingkuh. Ketika ada problem itu harus mengingatkan peristiwa lama, biasanya pasangan barunya akan lebih mudah mengingat masa kelam itu. Saling tidak percaya pun lalu memicu perselisihan dan pertengkaran. Ujung-ujungnya juga bisa ditebak. Ketika masing-masing saling tidak bisa menerima pasangannya apa adanya, perceraian berikutnya pun biasanya akan terjadi. Dan, begitu seterusnya. Itulah sebabnya, mengapa seorang yang bercerai biasanya akan masuk dalam perangkap perceraian-perceraian berikutnya.

Ketiga, problem ikutan yang sering terjadi akibat perceraian yang paling nyata adalah anak. Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang penuh perselisihan dan pertengkaran memang tidak kondusif bagi tumbuh kembang mental anak. Tetapi perceraian yang dilakukan ayah ibunya, juga bukan satu-satunya jalan mujarab menghilangkan problem anak-anak. Seorang anak mungkin sangat beruntung ketika orang tuanya bercerai mendapatkan ayah tiri yang sangat penuh pengertian. Bermula dari penerimaan yang tulus kepada ibunya sang ayah tiri mau dengan tulus menerima kehadirannya yang bukan darah dagingnya.

Tetapi, tidak jarang seorang anak yang ditinggal bercerai oleh kedua orang tuanya harus menghadapi masa depan yang tidak pasti. Masih beruntung jika anak tersebut masih mempunyai seorang nenek atau kakek yang secara ekonomi bisa menggantikan posisi kedua orang tuanya. Bagi yang ditinggal bercerai dalam situasi sudah tidak mempunyai kakek atau nenek atau masih punya nenek atau kakek, tetapi dalam keadaan sudah tidak berdaya, tentu merupakan persoalan tersendiri.

Bagi anak-anak perkotaan (urban) sering harus berhadapan dengan kehidupan keras. Ancaman kekerasan sosial yang sering terjadi pada masyarakat urban, biasanya sering mengintai anak setiap saat, seperti kekerasan seksual, pedofilia, eksploitasi, atau kekerasan sosial lainnya. Keceriaan dan kasih sayang masa anak-anak yang tidak didapat, dapat menjadi pengalaman traumatik yang dapat berpotensi kepada mentalitas buruk kelak setelah dewasa.

Menurut psikolog Elizabeth Santosa (2018), anak yang bahagia sejak kecil, memiliki peluang lebih besar untuk menjadi individu yang memiliki emosi positif dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi di masa dewasa. Dia juga menambahkan, bahwa ada empat hal penting yang harus orang tua penuhi untuk mencapai itu. Pertama, perhatikan jam tidur anak. Kedua, berikan cinta tanpa syarat. Ketiga, dukung kompetensi anak. Keempat, pastikan anak makan tepat waktu dan berikan mereka makanan yang bergizi.

Lantas, bagaimana jika prasyarat sebagaimana di atas terjadi sebaliknya? Risiko dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan, sebagaimana ditulis oleh Devita Retno biasanya lebih besar pada anak-anak yang kurang mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari orang tua. Macam-macam kekerasan pada anak bisa saja terjadi ketika pengawasan orang tua longgar atau justru berasal dari orang tua.

Berdasar berbagai penelitian, ekspose anak terhadap kekerasan yang berulang disaksikan dapat memberikan dampak kekerasan pada anak yang mengganggu perkembangan otaknya. Struktur otak yang spesifik seperti amygdalahippocampus, dan korteks prefrontal akan langsung dipengaruhi oleh stress. Sedangkan fungsi eksekutif seperti perencanaan, ingatan, pemusatan perhatian, kontrol impuls dan memproses informasi untuk membuat keputusan dapat menjadi tidak stabil.

Secara teori, anak yang mengalami ‘situasi buruk’ akibat ditinggal bercerai oleh kedua orang tuanya sangat berpotensi, sebagaimana dikemukakan para psikolog di atas. Kalau sudah demikian masih optimistis kah kita terhadap generasi kita jika kita menyaksikan angka perceraian di pengadilan agama sampai saat ini, tidak pernah menunjukkan angka penurunan?

Terhadap fenomena demikian, semua pihak, terutama para pemangku kepentingan, perlu segera melakukan langkah untuk meminimalkan perceraian sekaligus menutup semua potensi yang mengakibatkan perceraian. Hal ini perlu segera mendapat perhatian, sebelum dampak kronis akibat perceraian menjadi akut, yaitu kemunculan ‘generasi-generasi suram’ akibat lahir dari keluarga-keluarga bermasalah. (*) Editor : Ali Sodiqin
#pengamen #kolom. opini #artikel #refleksi #pendapat