SITUBONDO adalah Kota Santri. Daerah dengan pondok pesantren mengitari. Di ujung Situbondo ada pondok pesantren besar yang menggema di belahan bumi Nusantara. Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo namanya. Didirikan awal kali oleh Kiai Syamsul Arifin. Dilanjutkan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Berlanjut pada Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin. Dan, kini berlabuh pada Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy.
Sekitar tahun 2015, lahir komunitas Jam’iyah Pengajian Shalawat Bhenning. Di mulai antar tetangga di lingkungan pondok. Lalu berkembang ke desa-desa yang kemudian membesar menjadi kelompok pengajian besar yang bernama Jam’iyah Shalawat Bhenning Nusantara. Ketika mengikuti pengajiannya ada getar hati. Ada getar jiwa ditarik kepada Ilahi Robbi. Ada getar jiwa dekat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Ikatan emosi hati menagis ketika lantunan shalawat nabi terbacakan bersama dengan kebeningan hati seluruh jamaah. Di komando sang murabbi Kyai Azaim Ibrahimy hati dituntun. Hati digerakkan untuk ketemu banginda nabi. Kemerduan suara , keheningan suasana, terkohesi hati kepada hati kanjeng nabi.
Dengan merekatkan pegang tangan antar jamaah yang dikuti dengan bacaan bismillah-bismillah- bismillah yang dikuti dengan lirik-lirik nada Islami, semakin menguatkan diri dalam kebersamaan antar jamaah. Pujian kepada Kanjeng Nabi tidak terputus dalam ruang acara. Selalu ada ilir-ilir syair nada ke Kanjeng Nabi. Identitas diri tumpah ruah menjadi satu hati yakni kebersamaan. Kebersamaan dalam berislam, kebersamaan dalam berkhidmat dengan tujuan kebaikan hidup.
Mengharap keridaan ilahi rabbi menjadi ukuran hati jamaah. Tidak ada skat pembeda status sosial, semuanya menjadi lebur hati penuh kesejukan dan keindahan hati. Hati harus lurus sebening mata hati. Kebeningan hati dibangun di pengajian bhenning. Hati yang kotor dicuci dengan alunan nada nada suci. Ada lagu purnama sebagai simbol hadirnya cahaya dan nur Kanjeng Nabi. Sifat dan tabiat kanjeng nabi diilustrasikan sebagai jalan kebenaran kehidupan. Hidup harus benar dan lurus dengan arahan titah kanjeng nabi.
Makna spiritual sangat jelas dipengajian jam’iyah Sholawat Bhening. Di dalamnya diajarkan sikap-sikap batin. Diajarkan oleh sang murabi Kiai Azaim hidup harus ikhlas. Hidup harus sejalan dengan jalan lurus Kanjeng Nabi. Amal kebaikan harus dibangun dan dilaksanakan. Kehidupan dunia sebagai jalan menuju akhirat. Kiai Azaim selalu mengajarkan agar jamaah Pengajian Bhenning harus toleran. Menghargai sesama. Tidak boleh ada egoisme hidup. Tidak boleh ada kesombongan hidup. Yang harus ada adalah sikap qonaah hidup.
Mengikuti dan ngaji hati bersama Pengajian Bhenning menjadikan sikap hati lebih sejuk dan rendah hati. Yang dibangun adalah mental hati. Hati harus cerdas sipiritual juga harus cerdas sosial. Tidak ada yang namanya kesombongan hidup. Bangunan hati dibangun dengan ritma gerak nada hati. Istiqomah dalam hidup menjadi tujuan hakiki yang terpatri dipengajian bhenning.
Pemuda pemudi yang biasanya nongkrong di pinggir jalan dengan gosip-gosip kekinian dan bergerombol bicara kebarat-ketimur semakin hari tidak ditemukan di jalan-jalan Kota Situbondo. Ketika ada pengajian Bhenning semuanya pada berlari, hati hadir di pengajian.
Ada suasana baru di Kota Santri Situbondo. Tat kala ada Pengajian Bhenning semuanya tumpah di areal pengajian. Semuanya ingin ngaji hati bersama murabbi Kiai Azaim. Daya pikat dan daya tarik hati Kiai Azaim menjadi magnet tinggi yang luar biasa. Ketika Kiai Azaim meberikan tausiah ibadah semua diam. Semua mendengarkan dan mengikutinya.
Bertambah sejuk tat kala kiai serius bertausiah, ada jeda yang terukur yang diiisi dengan lagu lagu Bhenning. Purnama dan bismillah menjadi syair yang favorit tatkala dilantunkan. Semuanya larut hati mengikutinya.
Renung hati bertambah bermakna seketika itu juga hati bergetar larut dalam kesejukan hati. Ibadah hati bertambah terarah kepada jalan-jalan kebenaran. Kepada jalan-jalan kehidupan yang humanis dan bertatakrama. Tuntutan dan ajaran murabbi Kiai Azaim yang membawa pesan–pesan nabi tersalurkan menjadi ibadah ruhaniah yang dalam sebagai jalan hidup. Menuju hidup abadi di akhirat nanti.
Kerasnya hati terbongkar dengan sendirinya menjadi belahan kesejukan hati. Sungguh luar biasa makna yang didapat di pengajian Bhenning. Ukuran hidup di dunia yang serba materi menjadi sirna dengan kebeningan hati. Hati yang biasanya keras. Yang biasanya angkuh luluh menjadi ceceran kesejukan dan kelembutan hati. Kelembutan hati kiai azaim yang tertausiah di pengajian Bhenning menambah khasanah pembelajarn hidup bagi jamaahnya. Bahwa hidup di dunia adalah sarana dan atau jalan menuju kehidupan yang sesungguhnya dan selamanya yakni di akhirat nanti.
Semoga dengan berkhidmat hadir di setiap pengajian Bhenning menjadikan kehidupan kita semua menjadi hidup ala Kanjeng Nabi yakni tidak ada kufur, tidak ada riak dan kesombongan hidup yang ada adalah keihlasan hidup dalam menjalani hidup. Yakni taat kepada Allah dan taat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai hakikat kehidupan yang sebenarnya.
*Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Editor : Ali Sodiqin