Ketua DPRD Ajak Masyarakat Pegang Teguh Nilai-Nilai Pancasila

Edy Supriyono • Dipublikasikan Jumat, 22 Juli 2022 | 19:37 WIB
MENGGUNAKAN BATIK HITAM: Ketua DPRD Edy Wahyudi (tengah) mengajak masyarakat agar tidak terpengaruh paham radikalisme, di Desa/Kecamatan Asembagus, Rabu (20/7). (Bakesbangpol for Radar Situbondo)
MENGGUNAKAN BATIK HITAM: Ketua DPRD Edy Wahyudi (tengah) mengajak masyarakat agar tidak terpengaruh paham radikalisme, di Desa/Kecamatan Asembagus, Rabu (20/7). (Bakesbangpol for Radar Situbondo)
ASEMBAGUS, Jawa Pos Radar Situbondo – Ketua DPRD Situbondo mengajak masyarakat memegang teguh nilai-nilai dasar tentang Pancasila. Agar tidak mudah diadu domba dengan munculnya paham radikalisme. Itu disampaikan dalam acara sosialisasi nilai-nilai Pancasila, di wilayah Desa/Kecamatan Asembagus, Rabu (20/7).

Ketua DPRD Situbondo, Edy Wahyudi mengatakan, jumlah penduduk di Indonesia mencapai sekitar 200 juta jiwa. Sedangkan untuk budaya yang berkembang itu jumlahnya mencapai 200, dan suku asli pribumi mencapai 1.340. maka sangat mungkin untuk dimasuki paham radikalisme. “Tujuan dari kelompok yang menganut paham radikalisme itu untuk mengadu domba, dan memecah belah kehidupan negara,” ujar Edy Wahyudi, Rabu (20/7) kemarin.

Peristiwa radikalisme, kata dia, pernah terjadi di Indonesia. Sekitar tahun 1950,  paham radikalisme muncul dengan membawa embel-embel agama. “Agama yang dikumandangkan itu ingin merubah sistem pancasila menjadi sistem khilafah,” ucapnya.

Meski masyarakat diadu domba, lanjut Edy, namun itu tidak berhasil merubah ideologi bangsa Indonesia, yakni pancasila. Karna masyarakat menyadari bahwa pancasila adalah dasar utama untuk keutuhan bangsa Indonesia. “Itulah kesaktian pancasila yang mampu mempertahankan  bangsa ini agar tidak mudah diadu domba,” kata mantan wartawan itu.

Edi mengatakan, di era ini paham radikalisme masih berupaya untuk memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti seseorang yang kadang kala mudah untuk mengkafirkan orang lain. “Dengan munculnya fenomena tersebut, acuan dasar kita tetap Pancasila. Karena, mengajarkan kita untuk saling hormat menghormati dalam kehidupan di masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Situbondo, Sopan Efendi,SSTP, M.Si  mengatakan,  paham radikalisme adalah suatu paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan dengan cara menggunakan kekerasan. “Adanya peristiwa itu, dapat memecah belah persatuan bangsa,” ucapnya.

Sopan menjelaskan, sebagai bangsa yang merdeka, Bangsa Indonesia bertekad mewujudkan cita-cita dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945, suatu cita-cita yang menginginkan adanya kehidupan yang bebas bersatu, berdaulat, adil dan makmur. “Untuk itu kita harus  mampu menyelenggarakan kehidupan yang mencerminkan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan pancasila,” ungkapnya.

Ideologi Pancasila, kata dia, cerminan dasar dari kehidupan  warga. adanya sikap toleransi, saling tolong-menolong, dan saling menghargai. “Maka penting sekali kita untuk terus mengamalkan nilai pancasila dalam kehidupan sehari-sehari. Sehingga tidak mudah terhasut dengan munculnya kelompok yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini,” ucap Sopan.

Kabid Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Bakesbangpol, Adi Pratama mengatakan, pancasila juga sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pancasila itu mampu memfilter atas berbagai pengaruh negatif yang muncul. Sehingga seseorang tidak mudah terpengaruh,” ucapnya.

Adi mengatakan, untuk meningkatkan pemahaman tentang nilai pancasila perlu melakukan kegiatan secara rutin kepada masyarakat. Seperti melakukan sosialisasi, maupun pendekatan lain dalam memberikan pemahaman penting untuk tetap memegang teguh Pancasila sebagai Ideologi negara. “pancasila adalah kunci utama untuk mempertahan nilai kesatuan  berdasarkan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda beda, namun tetap satu tujuan,” pungkasnya. (adv/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
DPRD Situbondo pendidikan pancasila Penguatan Karakter radikalisme