Akibatnya, jalan raya yang berdekatan dengan palang kereta api (KA), dan arus lalu lintas yang cukup padat itu, sering menimbulkan kemacetan, Jumat (3/6). “Itu pasar desa, akan segera kita relokasi,” cetus kepala Desa (Kades) Jambewangi, Masykur.
Menurut Kades Masykur, selama ini warga memang mengeluhkan kondisi jalan raya depan pasar yang juga pembatas Dusun Panjen dan Dusun Parastembok, Desa Jambewangi, karena sering menimbulkan kemacetan. “Relokasi pasar desa ini menjadi perioritas, ini bentuk ikhtiar kami untuk mengatasi kemacetan,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Untuk relokasi itu, Kades Masykur mengaku sudah menyiapkan lahan sekitar setengah hektar yang berada di 100 meter sebelah utara dari lokasi pasar. “Kami sudah menyewa lahan yang bisa ditempati para pedagang untuk jualan, lahan itu sekarang dalam proses pengurukan,” ungkapnya.
Meski lokasi pasar baru sudah disiapkan, Kades Masykur mengaku masih belum sosialisasi pada semua pedagang yang ada di pasar tradisional itu. Relokasi ini, untuk sementara akan diperuntukkan bagi para pedagang yang jualan di pinggir jalan. “Relokasinya bertahap, setelah pedagang di pinggir jalan, nanti giliran pedagang lainnya yang ada di dalam pasar,” ungkapnya.
Rencana relokasi pedagang ini, mendapat tanggapan yang beragam dari para pedagang, apalagi mereka itu sudah lama jualan di pasar tersebut. Di antara pedagang ada yang ikut aturan pemdes, tapi juga ada yang terang-terangan menolak rencana itu. “Saya sudah dengar desas-desus akan ada relokasi pasar, tapi belum ada sosialisasi,” terang Lailiah, 49, salah satu pedagang asal Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu.
Lailiah yang setiap hari jualan sembako di bedak miliknya, mengaku tidak sepenuhnya setuju dengan rencana Pemdes Jambewangi yang akan merelokasi para pedagang yang jualan di trotoar. “Saya pribadi tidak setuju dengan rencana itu, pedagang sayur di depan (trotoar) dan pedagang bahan kering seperti saya, ini saling berkaitan,” katanya.
Menurut Lailiah, jika para pedagang sayur, atau pedagang daging ayam di pinggir jalan ramai diserbu pembeli, maka pembeli itu kemungkinan akan masuk ke pasar dan belanja bumbu ditempatnya. “Kalau pedagang yang di luar pindah, pasar bisa sepi, dagangan saya bisa tidak laku,” ujarnya.
Pedagang lain, Suliah, 50, mengaku akan ikut aturan main yang diputuskan Pemdes Jambewangi. Hanya saja, jika relokasi dilaksanakan, pedagang yang jualan di trotoar dan telah membuat bedak itu berharap ada ganti untung. “Saya ikut saja, kalau benar dipindah harus ada uang gantinya dulu,” kata perempuan paro baya asal Dusun Panjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu tersebut. (sas/abi) Editor : Agus Baihaqi