RadarBanyuwangi.id - Pentas Jaranan Sasono Penthul Budoyo yang digelar di Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo dibubarkan petugas gabungan, kemarin (24/5). Para pemain jaranan hanya bisa pasrah, mengemasi barangnya, dan meninggalkan lokasi.
Pengelola Jaranan Sasono Penthul Budoyo, Penthul mengaku kecewa dengan petugas yang datang dan membubarkan pentas jaranannya itu. Padahal, penari jaranan baru pertama menampilkan atraksinya. “Tidak lama tampil, petugas datang dan membubarkan,” kata pria asal Curahjati, Desa Grajagan.
Penthul menyebut saat ini pegiat seni paling terdampak Covid-19. Sebab, sudah setahun lebih dilarang tampil. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap para pegiat seni dan memberi solusi di tengah pandemi, tidak mentelantar seperti ini. “Kami ini orang kecil, semua seniman dan penabuh jaranan membubarkan diri, termasuk bakul-bakul yang menggelar dagangan di jalan,” ujarnya.
Kepala Desa Grajagan, Supriyono menjelaskan sebelum digelar pentas seni jaranan itu, pemerintah desa dan Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Purwoharjo sehari sebelumnya sudah berkoordinasi dengan tuan rumah, Margono, 40, warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. “Kami minta tuan rumah menyediakan tempat cuci tangan dan membatasi penonton yang hadir,” ungkapnya.
Menurut Supriyono, tuan rumah menggelar acara itu untuk memenuhi nazar yang pernah dilontarkan orang tuanya. Orang tuanya meminta jika cucunya sunat mengundang Jaranan Sasono Penthul Budoyo. “Saat anaknya sunat bertepatan dengan pandemi,” terangnya.
Pemerintah desa dan Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Purwoharjo, jelas dia, mengizinkan acara itu dengan syarat digelar mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Penonton yang hadir tidak berkerumun, dan semua tamu undangan wajib mengenakan masker. “Tidak ada pembubaran acara jaranan, petugas hanya memberi imbauan dan mengarahkan penonton agar tidak bekerumun,” dalihnya.(kri/abi)
Editor : Ali Sodiqin