PESANGGARAN - Nama Pelda KKO Evert Julius Van Kondou yang diabadikan menjadi nama gedung serbaguna di Puslatpurmar 7 Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, salah satu bentuk penghargaan keluarga besar Korps Marinir kepada prajuritnya yang dianggap berjasa.
Penamaan itu tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kelurga almarhum, tapi juga prajurit marinir yang bertugas atau tinggal di Banyuwangi. Evert Julius Van Kondou yang lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 18 Mei 1937, itu menghabiskan masa tuanya di Desa Kedungrejo RT 01, RW 04, Kecamatan Muncar, dan meninggal pada 4 September 2020. “Saya kaget dan bangga,” cetus Laksmarion Moll Kandou, 44, salah satu putra Evert Julius Van Kondou.
Mewakili keluarga besarnya, Rion, sapaan Laksmarion Moll Kandou, menyampaikan terima kasih atas perhatian keluarga besar Korp Marinir dan TNI AL pada orang tuanya. “Saya mewakili keluarga besar Kandou yang ada di Manado, Jakarta, dan Muncar hanya bisa mengucapkan terimakasih,” katanya.
Rion mengaku terharu saat menghadiri peresmian gedung serbaguna dengan nama ayahnya. Apalagi, gedung itu diresmiukan langsung oleh Kasal Laksamana TNI Yudo Margono didampingi Menteri KKP Wahyu Sakti Trenggono, Dankormar Marinir Mayjend TNI (Mar) Suhartono, dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. “Saya tadi terkejut ayah saya disebut penemu lokasi yang kini menjadi markas Puslatpurmar 7 Lampon, saya malah baru tahu ini,” ungkapnya.
Sebelumnya nama ayahnya diabadikan nama gedung di Puslatpurmar ini, ia dihubungi pihak TNI AL. Keluarga menyambut baik dan berterimakasih atas penghargaan terhadap ayahnya itu. “Mulanya itu pakai nama lain,” Pada Jawa Pos Radar Genteng, Rion menjelaskan ejaan nama ayahnya. Menurutnya, dari keluarga nama yang benar itu Kandau. Tapi pada ijazah saat pendidikian di Marinir TNI AL, ejaan tertulis Kondou. “Penamaan mengacu pada admainistrasi terakhir di mariner,” ungkapnya.
Pelda KKO Evert Julius Van Kondou dikenal sebagai salah satu pengangkat jenazah tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat di Lubang Buaya saat meletus tragedi 30 September 1965. Bersama delapan prajurit Ipam (sekarang Taifib) di bawah pimpinan Kapten KKO Winanto, ia diperintah langsung oleh Komandan KKO AL yang saat itu dijabat Mayjen KKO Hartono.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin