Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dedi Mulyadi Panen Julukan Nyeleneh, Tetap Santuy: Pilih Tolol Tapi Bermanfaat Bagi Warga Jabar

Agung Sedana • Selasa, 24 Juni 2025 | 19:03 WIB
Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi.

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah dinamika politik Jawa Barat, nama Kang Dedi Mulyadi alias KDM tak pernah lepas dari sorotan.

Bukan karena kontroversi atau kebijakan populis, melainkan karena keberaniannya menanggapi hujan kritik dan julukan nyeleneh yang dialamatkan kepadanya.

Julukan seperti "Gubernur Konten", "Gubernur Lambe Turah", hingga "Mulyono Jilid 2" sempat ramai diperbincangkan netizen. 

Bahkan yang paling menyengat, ada yang menjulukinya sebagai "Gubernur Tolol". Alih-alih tersinggung, Dedi justru merespons dengan santai.

“Yang mengkritik memberikan gelar pada saya banyak sekali. Santai saja, enggak usah bikin ribut. Kalau ada orang yang mengkritik, tanggapi dengan rileks,” ujar Dedi di media sosial.

Menurutnya, kritik adalah bagian dari demokrasi. Bahkan, ia menganggap julukan-julukan itu sebagai bentuk perhatian. 

"Bagi saya, lebih baik jadi pemimpin yang dianggap tolol tapi bisa berbuat yang terbaik bagi kepentingan masyarakat," tambahnya.

Kritik Bukan Hal Baru, Justru Jadi Cermin

Dedi menegaskan bahwa ia tidak anti terhadap kritik, bahkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi. 

Namun ia juga menyoroti sikap berlebihan sebagian pihak dalam merespons sentilan-sentilan di dunia maya.

“Saya tidak tahu apakah ucapannya ditujukan pada saya atau bukan. Tapi orang menanggapi bahwa itu untuk saya. Santai saja. Biasa. Jangan bikin ribut,” kata Dedi.

Sikap santai ini menjadi ciri khas politisi yang pernah menjabat Bupati Purwakarta dua periode tersebut.

Di tengah polarisasi politik yang makin tajam, Dedi mencoba berdiri sebagai pemimpin yang tetap berkepala dingin. 

Tak hanya kritik dari netizen, Dedi juga sempat dikritik oleh kalangan aktivis karena program pembinaan siswa bermasalah ke barak militer.

Beberapa laporan bahkan dilayangkan ke Komnas HAM karena dianggap melanggar hak anak.

Dedi pun kembali menanggapi dengan sikap terbuka. Ia menyebut kebijakan tersebut murni karena kepeduliannya terhadap masa depan anak-anak.

“Tidak ada paksaan. Semua karena cinta terhadap mereka. Kalau perlu diperbaiki, kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Pemimpin Bukan Soal Popularitas, Tapi Manfaat

Dedi menggarisbawahi bahwa tugas seorang pemimpin bukan untuk memuaskan semua pihak, melainkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.

Dalam pandangannya, kinerja dan keberpihakan pada rakyat jauh lebih penting ketimbang sekadar pencitraan.

“Seorang pemimpin yang baik adalah yang mampu mengelola keuangan negara dengan baik dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyatnya,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa meskipun penuh kritik dan cibiran, Dedi Mulyadi tetap melangkah dengan visi besar untuk rakyat Jawa Barat.

 

Editor : Agung Sedana
#Julukan #KDM #dedi mulyadi #Gubernur Jabar