Politisi Partai Gerindra dari Banyuwangi, Bima Rafsanjani Rafid, resmi menyandang predikat wakil rakyat. Putra anggota DPRD RI Sumail Abdullah itu dilantik menjadi anggota DPRD 1 Jatim periode 2024–2029 di Surabaya pada Sabtu (31/8). Bima tercatat sebagai anggota DPRD Jatim termuda karena usianya saat dilantik baru 22 tahun 27 hari.
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu pas disematkan kepada Bima Rafsanjani Rafid. Politisi asal Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, itu dilantik bersama 119 anggota dewan di Gedung DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Sabtu (31/8).
Bima menapaki karir politik melalui Partai Gerindra untuk Dapil Jatim 4 (Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso). Pada Pemilu 2024 dia berhasil meraih 78.656 suara. Saat ini Bima masih tercatat sebagai mahasiswa semester 8 Jurusan Sosiologi Politik Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Sang ayah, Sumail Abdullah, yang saat ini memegang amanah sebagai ketua DPC Partai Gerindra Banyuwangi sangat berpengalaman sebagai wakil rakyat. Sumail tercatat sudah tiga kali menjabat sebagai anggota DPR RI. Tanggal 1 Oktober 2024 nanti, Sumail bakal dilantik kembali sebagai anggota DPR RI di Gedung Senayan.
Simpati masyarakat terhadap Bima cukup tinggi. Terbukti, saat menghadiri kampanye pileg, peserta yang hadir membeludak. Kampanye yang dikemas dalam rangkaian jalan sehat berhadiah umrah digelar di Pantai Marina Boom. Ribuan massa menyambut penuh antusias saat Bima didampingi sang ayah Sumail Abdullah memberangkatkan jalan sehat yang pesertanya mencapai 50 ribu orang.
Menjadi seorang anggota dewan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh pria kelahiran 7 Agustus 2002 itu. Bi,a mengaku mengenal dinamika politik sejak kecil lewat ayahnya, Sumail Abdullah, yang juga anggota DPR RI dari Partai Gerindra.
”Mentor saya adalah Bapak Sumail Abdullah. Saya belajar politik dari ayah saya. Pelajaran politik saya dapat saat diskusi kecil di meja makan bersama keluarga. Dari situ saya tertarik terjun ke panggung politik praktis,” ujar Bima yang dikenal sangat dekat dengan kalangan milenial di Banyuwangi, Situbondo, maupun Bondowoso.
Selain belajar dari sang ayah, terjun ke politik praktis juga berkat dorongan teman-teman organisasi di kampus. Kondisi demokrasi yang sedang berkembang serta bonus demografi yang didominasi oleh pemilih muda, menjadi faktor penting.
Menurut Bima, generasi muda sekarang punya kekuatan besar. Enam puluh persen pemilih adalah Gen Z dan milenial. ”Saya merasa bahwa suara mereka harus diwakili oleh orang yang mengerti dan sefrekuensi. Keberhasilan melenggang ke DPRD Jatim bukan semata karena saya, tapi karena banyaknya dukungan dari anak-anak muda yang ingin perubahan. Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur,” katanya.
Diakui Bima, menjadi anggota DPRD termuda memiliki tanggung jawab sangat besar. Karena itu, salah satu fokus utamanya adalah pemberdayaan pemuda, terutama terkait masalah sulitnya mencari pekerjaan.
”Saya melihat bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk membawa perubahan, tetapi sering kali mereka tidak memiliki akses atau kesempatan untuk berkembang. Saya ingin memastikan bahwa anak muda di Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso punya akses lebih baik ke lapangan kerja dan program-program pemberdayaan,” jelasnya.
Bima siap untuk ditempatkan di bidang mana pun dalam alat kelengkapan DPRD (AKD) nanti, yang penting bisa memperjuangkan aspirasi warga Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso. ”Saya siap ditempatkan di mana pun. Terserah partai dan fraksi. Yang penting bisa memperjuangkan aspirasi warga Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso yang sudah mendukung saya,” tegasnya. (aif/c1)
Editor : Sigit Hariyadi