Radar Banyuwangi – Dua unit kapal rampasan berbendera Vietnam diserahkan kepada Pemkab Banyuwangi, Sabtu (30/3).
Kapal tersebut diserahkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono kepada Bupati Ipuk Fiestiandani di kawasan Kampung Nelayan, Kelurahan Lateng.
Kapal pertama KG-9269TS (60 GT) dihibahkan kepada KUB Mutiara Selatan, Pancer, Desa Wringinagung, Pesanggaran.
Kapal kedua KG-9464TS (106 GT) untuk KUD Mino Blambangan, Muncar. Sebelumnya, kedua kapal ikan asing berbendera Vietnam tersebut ditangkap kapal pengawas HIU 11 di bawah naungan Stasiun PSDKP Pontianak pada tanggal 10 September 2022 silam.
Kala itu KG-9464TS telah melakukan penangkapan ikan secara bersama-sama dengan kapal pasangannya, yakni KG-9269TS.
Kedua kapal diketahui tidak memiliki dokumen yang sesuai. Kapal tersebut menangkap ikan tidak ramah lingkungan, yaitu menggunakan pair trawl dengan barang bukti muatan ikan campuran di dalam palka.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, sebelumnya kapal-kapal dengan kasus serupa akan langsung diledakkan atau ditenggelamkan.
Namun, sejak dirinya menjabat sebagai menteri ada perubahan kebijakan ”tangkap-manfaat”. Setelah diamankan, kapal-kapal yang dianggap masih cukup bermanfaat tersebut kemudian disumbangkan kepada nelayan.
”Kebijakan kami sekarang adalah bagaimana penegakan hukum yang dilakukan bisa berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan. Kalau dulu kapal rampasan ditenggelamkan, sekarang kami bicara dengan kejaksaan untuk KKP menyumbangkan ke nelayan yang masih menggunakan kapal tradisional. Yang sudah selesai, kami serahkan saja ke pemda untuk nelayan,” kata Wahyu.
Wahyu menambahkan, Banyuwangi menjadi salah satu prioritas yang mendapat hibah kapal hasil rampasan untuk diserahkan ke nelayan.
Harapannya, pengelolaan kapal yang dilakukan nelayan Banyuwangi bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
”Saya punya keyakinan Banyuwangi bisa menjadi contoh baik bagaimana pemanfaatan kapal ini kelak. Saya yakin pengelolaan kapal bantuan di Banyuwangi bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.
Dengan bantuan kapal tersebut, nelayan bisa menangkap ikan dengan jarak yang lebih jauh dan daya tampung tangkapannya lebih banyak.
”Ini kapal besar, tentu nelayan butuh upgrade pengetahuan untuk mengoperasikannya. Jika dibutuhkan pelatihan, kami siap bantu. Ada balai pelatihan di Banyuwangi yang siap untuk melatih,” tambah Wahyu.
Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan rasa terima kasih kepada KKP yang telah memberikan bantuan kapal pada nelayan Banyuwangi.
Bantuan tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi para nelayan Banyuwangi.
”Kami berharap dengan kapal yang lebih besar, hasil tangkap nelayan lebih banyak. Ujungnya untuk peningkatan kesejahteraan nelayan dan produksi perikanan tangkap bertambah,” ucapnya.
Dikatakan Ipuk, sektor perikanan merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi.
Dalam setahun, produksi perikanan di Banyuwangi bisa mencapai 49,37 ribu ton dengan jumlah nelayan mencapai 29 ribu orang.
”Saya juga berpesan kepada penerima agar kapal ini dimanfaatkan dengan baik, dijaga, dirawat sebaik-baiknya. Dinas Perikanan akan mendampingi pengelolaannya,” pesannya.
Sementara itu, kunjungan Menteri KKP ke Banyuwangi juga membawa angin segar bagi nelayan.
KKP mengalokasikan anggaran sekitar Rp 22 miliar untuk pembangunan Kampung Nelayan Modern (Kalamo) di Pantai Ancol Plengsengan, Kelurahan Lateng.
Kalamo Lateng akan dibangun di lahan seluas hampir 1 hektare, lokasinya tepat di ujung Pantai Ancol Plengsengan, tidak jauh dari pusat kota Banyuwangi. Kawasan ini merupakan sentra kuliner seafood yang berada di kawasan kampung nelayan.
”Kalamo ini konsepnya lebih ke arah tematik. Di sini serba dekat. Ikan yang ditangkap nelayan bisa langsung dibeli dan dinikmati oleh pembeli, apalagi di kawasan ini sebelumnya telah menjadi salah satu sentra kuliner seafood dan ini akan melengkapi,” kata Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono.
Kawasan Pantai Ancol berada di kawasan nelayan Kampung Mandar yang tidak jauh dari pusat kota Banyuwangi.
Pantai ini masuk dalam perairan Selat Bali dan berdekatan dengan destinasi Pantai Boom Marina.
Terdapat sekitar 502 nelayan di kawasan ini dengan total produksi rata-rata 50 ton per bulan. Mayoritas nelayan melaut dengan cara konvensional, yakni memancing dan menggunakan jaring. (fre/aif/c1)
Editor : Salis Ali Muhyidin