Jawa Pos Radar Banyuwangi – Meraih hati masyarakat harus ditanamkan oleh seorang kepala desa agar kembali terpilih. Jika tidak, ya harus siap-siap tidak terpilih lagi. Masyarakat tidak lagi memberikan kepercayaan.
Itulah yang dilakukan Kepala Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Mura’i Ahmad hingga tiga kali terpilih memenangi pilkades. Selama tiga kali bertarung dalam pilkades, Mura’i beberapa kali mendapatkan lawan yang beragam.
”Saat pencalonan untuk kedua kalinya tidak ada lawan, sampai melawan mbak kandung saya sendiri,” kenangnya.
Baru pada pencalonan kali ketiga ini, Mura’i mendapatkan lawan yang berlatar belakang perangkat desa dan karang taruna. Dalam pilkades kali ketiga, Mura’i masih meraup hati masyarakat.
”Jadi kepala desa itu bukan untuk gagah-gagahan dan pinter-pinteran meraih prestasi dan penghargaan. Yang terpenting bagaimana ngayomi dan ngayemi masyarakat,” ungkap pria yang menjabat kepala desa sejak tahun 2007 itu.
Bagaimana dengan banyaknya calon petahana yang tumbang dalam pilkades serentak kemarin?
Menurut Mura’i, kekalahan ini pasti ada sesuatu yang salah. Sebab, kades petahana memiliki semuanya. Mulai basis massa, sarana prasarana, dan lainnya.
”Menjadi kepala desa adalah pelaksana aturan, produk hukum sehingga harus siap mental, sosial kemasyarakatan,” bebernya.
Tidak terpilih kembali dalam pilkades, kata Mura’i, adalah wujud buah dari demokrasi bahwa pemegang kekuasaan tertinggi adalah masyarakat.
”Yang menjadi tolok ukur bukan baik dan buruknya seseorang atau prestasinya, tetapi bagaimana bisa meraih suara masyarakat meski ada pro kontra. Pemenangnya adalah suara terbanyak,” tegas Ketua DPC Papdesi Banyuwangi ini. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin