RadarBanyuwangi.id – Pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bakal digelar 144 hari mendatang.
Mengingat waktu coblosan yang semakin dekat, para kandidat calon wakil rakyat terus memetakan jalan untuk meraih kursi dewan.
Di antara ratusan bakal calon anggota DPRD Banyuwangi dan DPRD Jatim, ada belasan yang mendapat bekal berharga guna mengarungi kontestasi tahun depan.
Mereka mendapat tips maupun trik untuk meraih kursi wakil rakyat melalui ”Workshop Tips dan Trik Raih Kursi Legislatif” yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), Kamis (21/9).
Sebanyak tiga narasumber dihadirkan dalam workshop yang digelar di kantor JP-RaBa, gedung Grha Pena Banyuwangi tersebut.
Mereka adalah konsultan politik Dr Hary Priyanto, Pemimpin Redaksi (Pemred) JP-RaBa Syaifuddin Mahmud, dan Asisten Redaktur JP-RaBa Sigit Hariyadi.
Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi membuka langsung workshop yang berlangsung sekitar 6,5 jam tersebut.
Dalam sambutannya, Samsudin mengatakan bahwa materi yang disampaikan dalam workshop kali ini sangatlah penting bagi para bacaleg. Tidak hanya bagi bacaleg pendatang baru, tetapi juga bagi calon petahana.
Salah satu materi penting yang dibeberkan dalam workshop tersebut yakni cara mem-branding diri untuk mendekati para pemilih.
Selain itu, workshop juga diisi pemaparan materi tentang ”peta” suara partai dan seluruh caleg yang berkompetisi pada Pemilu 2019 lengkap dengan analisis suara untuk Pemilu 2024.
”Data tersebut sangat penting, layaknya peta untuk mengetahui cara meraih atau mengamankan kursi dewan. Saya berharap peserta aktif bertanya, apa yang harus dilakukan para calon supaya mendapat suara minimal seharga dengan kursi di dapil tersebut,” ujar Samsudin.
Baca Juga: Lebihi Kuota Maksimal, 8 Desa di Banyuwangi Gelar Seleksi Tambahan untuk Bacakades
Sementara itu, narasumber pertama yakni Hary Priyanto, memaparkan materi tentang manajemen dan komunikasi politik.
Dikatakan, terdapat tiga kunci penting dalam kompetisi menuju kursi dewan, yakni spiritualitas, gotong royong, dan strategi udara.
Menurut Hary, untuk mengarungi kompetisi pemilihan kursi wakil rakyat, maka calon membutuhkan ”amunisi”. Namun, dia menekankan bahwa uang bukanlah segalanya.
”Penting bagi para calon meyakinkan pemilih. Bacaleg harus mem-branding diri menjadi pemenang, tidak boleh ragu-ragu. Penentuan wilayah kompetisi harus terfokus, yaitu wilayah yang paling ’ujung’, yakni tempat pemungutan suara (TPS). Jadi, bacaleg harus fokus pada kemenangan di masing-masing TPS agar kerja bacaleg efektif dan efisien,” jelas Hary.
Materi kedua disampaikan oleh Syaifuddin Mahmud tentang ”Branding Caleg di Media”. Menurut pria yang karib disapa Aif tersebut, kampanye tidak hanya dapat dilakukan secara manual.
Branding diri akan kian berhasil jika didukung oleh situasi, massa, pesan, dan sumber yang akurat.
”Semua lini kita manfaatkan, terutama media massa sebagai salah satu percepatan proses perubahan sosial, terutama di negara berkembang. Tentunya untuk penggunaan kampanye politik, advertensi, dan propaganda,” kata dia.
Aif menjelaskan, tujuan branding adalah sebagai pembeda, promosi, dan daya tarik bacaleg untuk membangun jati diri.
Lebih dari itu, melalui branding di media dapat mengendalikan kondisi di lapangan dan mempengaruhi psikologi.
Materi terakhir disampaikan oleh Sigit Hariyadi tentang ”Pemetaan dan Segmentasi Pemilih”. Asisten redaktur JP-RaBa ini membedah data kuantitatif, tepatnya data perolehan suara Pemilu 2019.
Tidak hanya itu, para peserta juga mendapat pemaparan materi hasil perolehan suara seluruh partai dan caleg di lima daerah pemilihan (dapil) pada Pemilu 2019 yang dikonversi menjadi delapan dapil sebagaimana penataan dapil plus alokasi kursi pada Pemilu 2024.
”Data suara pemilih pada Pemilu 2019 perlu dikonversi untuk mengetahui gambaran tentang kebutuhan suara untuk meraih kursi di setiap dapil di Pemilu 2024,” kata Sigit.
Sebab, imbuh Sigit, dapil pada pemilu mendatang mengalami perubahan dibanding Pemilu 2019. Yakni dari lima dapil menjadi delapan dapil.
“Selain itu, konversi perolehan suara juga perlu dilakukan untuk mengetahui berapa suara caleg petahana di masing-masing dapil mengingat terjadi pemekaran dapil tersebut,” beber Sigit. (rei/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin