Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Punya Perajin Batik yang Tembus Pasar Internasional

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 30 Juni 2023 | 19:00 WIB

 

 

CANTING: Proses produksi batik di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, masih menggunakan cara tradisional dan diminati masyarakat.
CANTING: Proses produksi batik di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, masih menggunakan cara tradisional dan diminati masyarakat.
CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Desa Tampo, Kecamatan Cluring, membentang di sepanjang jalan penghubung antara Kecamatan Cluring dengan Purwoharjo. Desa ini memiliki Kampung Batik, warganya banyak yang berprofesi sebagai perajin batik.

Di Tampo batik menjadi salah satu potensi desa yang cukup potensial. Sejumlah merek batik terkenal di Kota Gandrung, berada di Kampung Batik ini, seperti Virdes, Najiha, Tatzaka, Tresno, dan Yoko. ”Tampo dikenal penghasil batik, itu berada di satu kampung, makanya kita tetapkan Kampung Batik,” ujar Kepala Desa (Kades) Tampo Hasim Ashari.

Kampung Batik dicetuskan oleh pemerintah desa untuk mengangkat potensi di wilayah tersebut. Kampung tersebut diresmikan oleh Bupati Banyuwangi yang saat itu dijabat oleh Abdullah Azwar Anas. ”Kampung Batik diresmikan pada tahun 2018,” kata Hasim.

Produsen batik di Kampung Batik ini cukup banyak menyediakan lapangan pekerjaan. Setiap tempat usaha perajin batik biasanya mampu menampung hingga belasan tenaga kerja. ”Batik dari Desa Tampo menyebar tidak hanya di tingkat kabupaten, tapi sampai nasional dan internasional,” ungkap Hasim.

Salah satu perajin batik yang terkenal dan sudah cukup lama beroperasi di Desa Tampo yakni Batik Virdes milik Suyadi dan Batik Tatzaka milik Edi Fitriyanto. ”Tatzaka mulai berdiri 2009, saya merintis bersama istri,” ujar Edi.

Sebelum membuka usaha batik, Edi mengaku menjadi pegawai di salah satu perajin batik yang ada di Kecamatan Banyuwangi. ”Dari pengalaman itu, saya bercita-cita mengembangkan batik di rumah,” terang warga Dusun Simbar, Desa Tampo sambil menyebut sebelum mendirikan Batik Tatzaka, di kampungnya sudah berdiri Batik Virdes.

ALAMI: Perajin mengangkat jemuran batik yang sudah jadi di Desa Tampo, Kecamatan Cluring.
ALAMI: Perajin mengangkat jemuran batik yang sudah jadi di Desa Tampo, Kecamatan Cluring.

Meski bukan yang pertama, bapak dua anak itu memiliki keinginan untuk memberikan pekerjaan kepada warga desanya. ”Niat awalnya mempekerjakan warga desa yang belum punya pekerjaan,” ungkap Edi.

Berawal dari niat baik itulah, usaha batik yang ditekuni bisa berkembang. Kini pihaknya menampung 23 orang tenaga kerja yang semuanya adalah warga di desanya. ”Semuanya warga Desa Tampo, jumlah pegawai itu bisa bertambah kalau banyak pesanan. Kami mempekerjakan juga pegawai harian lepas jika ada pesanan banyak,” terangnya.

Batik yang dibuat di Tatzaka, kata Edi, memiliki beragam motif. Tidak hanya motif tradisional saja, namun juga motif kontemporer. ”Menyesuaikan permintaan pasar, yang paling dicari anak muda sekarang ini motif kontemporer,” ujarnya.

Edi mengaku, batik yang dibuatnya tidak hanya dikenal oleh masyarakat Banyuwangi saja. Saat ini pihaknya juga melayani pesanan dari luar negeri seperti Taiwan. ”Pemesannya teman-teman pekerja migran yang bekerja di sana,” ungkapnya.

Dari usahanya memproduksi batik, Edi menyebut bisa memperoleh pendapatan antara Rp 60 juta hingga Rp 70 juta. ”Di musim tertentu seperti Lebaran atau tahun ajaran baru, bisa lebih dari itu,” pungkasnya. 

Editor : Syaifuddin Mahmud
#banyuwangi batik festival #batik #desa #canting