Seperti diketahui, gerakan belanja di pasar rakyat dan UMKM tersebut rutin digelar setiap bulan pada tanggal ”cantik” oleh ribuan aparatur sipil negara (ASN) dan lintas komunitas. Hasilnya didonasikan kepada warga kurang mampu, ibu hamil dengan risiko tinggi (bumil risti), termasuk untuk prevalensi tengkes (stunting).
Kesempatan berbelanja di Pasar Galekan juga dimanfaatkan Ipuk untuk memantau perkembangan renovasi pasar yang sempat terbakar pada Januari 2022 lalu. Renovasi pasar tersebut kini telah masuk tahap penyelesaian akhir dan bisa segera difungsikan.
Ipuk meminta agar Pemerintah Desa Galekan dan Kecamatan Wongsorejo untuk mengatur dan melakukan pengawasan mengingat pasar tersebut merupakan aset desa. ”Yang terpenting adalah faktor keselamatan agar kebakaran tidak terulang kembali. Saya berharap ada pengawasan dari petugas pasar maupun pemerintahan desa,” ujarnya.
Di Pasar Galekan, Bupati Ipuk berbelanja ragam bahan pangan bergizi tinggi seperti aneka ikan, telur, daging, hingga sayuran. ”Selain menggerakkan perekonomian warga, gerakan ini juga membantu warga yang membutuhkan. Dengan gotong royong semacam ini semuanya akan menjadi lebih ringan,” ujar Ipuk.
Usai berbelanja, Ipuk langsung membagikan hasil belanjaan pada masyarakat, termasuk kepada abang becak, warga lanjut usia (lansia), dan masyarakat kurang mampu lainnya yang berada di kawasan pasar. Alumnus Universitas Negeri Jakarta tersebut juga mendatangi dan membagikan hasil belanja pada anak yatim piatu Yayasan LKSA Sahal Suhail, Desa Bajulmnati.
Ipuk juga mengunjungi sejumlah bumil risti dan balita tengkes di wilayah Desa Bajulmati. Selain menyerahkan bantuan, Ipuk juga memastikan kondisi kesehatan mereka. ”Aksi kali ini kita tetap fokus untuk penanganan stunting. Kami belanja kebutuhan pangan bernutrisi tinggi untuk disumbangkan kepada bayi di bawah dua tahun (baduta) yang stunting serta ibu hamil beresiko tinggi,” kata istri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas tersebut.
Ipuk menambahkan, bumil risti tidak haya bisa diketahui dari hasil timbang berat badan, tetapi juga dari riwayat penyakit yang bersangkutan. ”Untuk itu, saya minta pihak puskesmas, dasawisma, dan kader posyandu terus memantau perkembangannya. Pastikan intervensi pangan bernutrisi yang kami berikan betul-betul dikonsumsi sehingga kondisinya segera membaik,” kata Ipuk.
Salah satu bumil risti berinisial SS, 22, yang kini tengah hamil dengan usia kandungan 13 minggu mengaku bersyukur karena kondisinya terus dipantau oleh petugas kesehatan. ”Selain dipantau, kami juga dibantu tambahan nutrisi harian,” ujarnya.
Pemkab Banyuwangi juga melibatkan pedagang sayur keliling (mlijoan) untuk menyalurkan bantuan makan tambahan bagi balita tengkes atau pun bumil risti. Tahun ini, Pemkab Banyuwangi mengalokasikan APBD senilai Rp 7 miliar untuk intervensi nutrisi bumil risti dan baduta tengkes dari keluarga tidak mampu. (sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin