Piagam penghargaan diserahkan secara langsung oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kepada Plt Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi M. Khoiri di Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Kamis (15/12).
Khoiri mengatakan, Dinas Pertanian menerima penghargaan karena dinilai memenuhi tiga indikator yang meliputi kualitas perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, dan kualitas hasil pelaksanaan anggaran. ”Saya tetap menjaga amanah untuk mempertahankan penghargaan ini. Insya Allah, kami akan tetap amanah. Karena Dinas Pertanian mempunyai team work yang luar biasa,” katanya.
Khoiri mengatakan, gerakan program Banyuwangi Rebound yang dicanangkan Bupati Ipuk Fiestiandani 2022 menjadi remote dalam menjalankan program Dinas Pertanian. Program yang memiliki tiga pilar utama, yakni Tangani Pandemi, Pulihkan Ekonomi, dan Merajut Harmoni merupakan gerakan kerakyatan lintas sektor.
Pada sektor pertanian, implementasi program tersebut difokuskan pada transformasi agribisnis Banyuwangi Rebound dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi bidang pertanian dan pangan. Namun, di tengah gejolak ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian akibat konflik, perubahan iklim yang kemudian melahirkan krisis pangan dan energi, upaya mewujudkan Banyuwangi Rebound bukanlah hal yang mudah.
Dalam pelaksanaannya, beberapa program unggulan sepanjang tahun 2022 dikemas melalui kegiatan festival. Salah satunya Festival Buah Naga. Festival ini mengangkat komoditas buah naga Banyuwangi menjadi komoditas ekspor ke berbagai negara di samping kebutuhan dalam negeri. Ada pula Festival Cokelat yang diharapkan membangkitkan kembali industri kakao dan usaha kakao perkebunan rakyat, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan potensi ekspor.
Tidak hanya itu, Dinas Pertanian dan Pangan juga menggelar Festival Jagoan Tani. Program Jagoan Tani ini telah melahirkan ratusan milenial dan generasi Z Banyuwangi menjadi agri-entrepreneur yang menekuni usaha di bidang agribisnis dari hulu hingga hilir. Melalui Jagoan Tani ini pula tercipta lapangan kerja baru dari para muda bertalenta.
Selanjutnya, ada Festival Pangan NonBeras (Fepanora) yang mampu menciptakan berbagai kreasi menu pangan nonberas nonterigu sehingga dapat dikembangkan menjadi menu pangan enak, sehat, dan bergizi berbasis pangan lokal tanpa bergantung pada bahan pangan impor (terigu).
Tidak berhenti sampai di situ, pada pelaksanaan Flower Festival telah menyerap tenaga kerja sebanyak 20 orang selama 120 hari. Dengan omzet selama penyelenggaraan mencapai sebesar Rp 444.954.000.
Ada pula Festival Durian Sitaridubang alias Aksi Pelestarian Durian Banyuwangi. Festival Sitaridubang merupakan salah satu strategi dalam pelestarian buah durian merah endemik Banyuwangi. Populasi tanaman durian di Banyuwangi sebanyak 114.782 pohon atau setara dengan luas 1.147 hektare (ha) dengan produksi sebesar 14.754 ton per tahun, merupakan potensi komoditas ekspor dari Banyuwangi.
Menjelang akhir 2022, Dinas Pertanian dan Pangan menggelar Festival GO-Cat alias ”Gerakan Obat Cacing Anjing Kucing Terpadu” dan ”Gizi Untuk Banyuwangi”.
Ikhtiar dan capaian kinerja Dinas Pertanian dan Pangan tersebut di atas tentu saja merupakan sebagian kecil dari upaya menggerakkan sektor pertanian. ”Ke depan, transformasi agribisnis Banyuwangi Rebound ini perlu ditingkatkan dengan dukungan sumber daya yang memadai, sinergi, dan kolaborasinya dengan berbagai pihak,” pungkas Khoiri. (sgt/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud