Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tutup P20, Ketua DPR Berharap Hasil Summit Jadi ‘New Hope’ Masyarakat Dunia

Ali Sodiqin • Kamis, 13 Oktober 2022 | 19:24 WIB
Photo
Photo
JAKARTA - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Puan Maharani menutup the 8th G20 Parliamentary Speakers Summit (P20). Sebagai tuan rumah, DPR berharap kesepakatan dan hasil pertemuan pimpinan-pimpinan parlemen negara G20 akan menjadi langkah dalam menciptakan harapan baru bagi masyarakat dunia.

P20 Summit kali ini digelar selama 2 hari di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, dari tanggal 6-7 Oktober 2022. Sehari sebelum P20 dimulai, para delegasi juga mengikuti Parliamentary Forum in the Context of the G20 Parliamentary Speakers’ Summit (P20) yang digelar bersama Inter-Parliamentary Union (IPU).

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh parlemen negara G20 dan negara tamu yang telah hadir selama dua hari ini dan secara aktif telah memberikan kontribusinya,” kata Puan saat menutup P20 Summit di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (7/10/2022), kemarin.

“Sebagai tuan rumah P20, saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Presiden IPU, Bapak Duarte Pacheco dan para staf yang telah membantu menyukseskan acara ini dan bekerjasama dengan DPR RI untuk menyelenggarakan pertemuan P20 Summit ini,” imbuhnya.

P20 Presidensi Indonesia mengusung tema ‘Stronger Parliament for Sustainable Recovery’ yang sejalan dengan tema Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, ‘Recover Together, Recover Stronger’. Sesuai tema yang diusung, para pemimpin parlamen negara-negara anggota G20 sepakat untuk terus meningkatkan peran parlemen pada tataran global.

Selama dua hari diskusi, para pemimpin parlemen G20 membahas isu-isu prioritas mulai dari pembangunan berkelanjutan, green economy, ketahanan pangan dan energi serta tantangan ekonomi, hingga kesetaraan gender.

“Pertemuan bilateral dan dialog ini akan berkontribusi bagi terciptanya trust di antara negara-negara dan menambah tingginya komitmen akan kerjasama internasional,” sebut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Menurut Puan, pertemuan para anggota parlemen dalam kerangka G20 di Jakarta tersebut bertujuan untuk memberikan harapan baru atau new hope. Parlemen-parlemen negara G20 ingin menunjukkan optimisme di tengah dunia yang dipenuhi rasa pesimisme dan ketidakpastian karena berbagai tantangan global dan situasi ketidakpastian.

Cucu Proklamator RI Bung Karno ini kemudian menyampaikan bahwa DPR selaku tuan rumah pelaksanaan P20 summit tahun 2022 menyambut dengan hormat Parlemen India (Lok Sabha) untuk melanjutkan tongkat Presidensi P20. India juga akan menjadi tuan rumah pelaksanaan The Ninth G20 Parliamentary Speakers’ Summit (P20) tahun 2023 mendatang.

P20 Summit 2022 menghasilkan outcome document berupa Chair's Summary. Poin-poin yang tertuang dalam outcome document merupakan wujud komitmen bersama para pemimpin parlemen negara-negara G20, yang akan menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia, khususnya dalam KTT G20 pada bulan November mendatang di Bali.

“Outcome document tersebut akan menjadi rujukan bagi parlemen negara-negara G20 dalam menyusun legislasi sekaligus menjadi referensi bagi pelaksanaan pertemuan P20 berikutnya yang akan diketuai oleh Parlemen India,” kata Puan.

Perempuan Harus Bisa Memimpin


Sementara itu, di berbeda tempat, Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan perempuan-perempuan tangguh untuk berkontribusi nyata membangun dunia agar bisa menjadi lebih baik. Menurutnya, perempuan harus bisa memimpin jalan.

Hal tersebut disampaikan dalam 34th Session of the Forum of Women Parliamentarians di Kigali, Rwanda, Selasa (11/10/2022). Diskusi Forum Anggota Parlemen Perempuan dunia itu digelar dalam rangkaian Sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-145 di Rwanda.

“Merupakan suatu kehormatan untuk bergabung dengan Anda dalam sesi ke-34 Forum Anggota Parlemen Wanita di kota Kigali yang semarak,” kata Puan saat menyampaikan sambutan.

Puan mengulas kembali sejumlah isu penting yang dibahas dalam Forum Perempuan Anggota Parlemen di Bali yang menjadi kontribusi kepada Majelis IPU. Salah satunya terkait perspektif gender dalam rancangan resolusi di hadapan Komite Tetap untuk Perdamaian dan Keamanan Internasional dengan judul ‘memikirkan kembali dan membingkai ulang pendekatan terhadap proses perdamaian dengan tujuan untuk membina perdamaian yang langgeng’.

Forum Perempuan Anggota Parlemen di Bali pun memuat diskusi tentang pengalaman parlemen dalam mempromosikan kesehatan perempuan, anak-anak, dan remaja di masa pandemi Covid-19 serta pemulihan pandemi yang sangat penting. Dari diskusi itu, kata Puan, anggota forum sepakat mengajak perempuan dan anak perempuan agar terlibat dalam desain dan pemberian layanan kesehatan serta diberdayakan untuk menuntut hak mereka atas kesehatan.

Sidang IPU ke-144 sendiri telah mengadopsi item darurat berjudul ‘Resolusi damai perang di Ukraina, menghormati hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan integritas teritorial’. Untuk item darurat itu, Forum Anggota Parlemen Perempuan telah berkontribusi  dengan membuat rekomendasi kuat mengenai Gugus Tugas yang dibuat setelah item darurat.

Mantan Menko PMK ini meyakini, para pemimpin perempuan harus bersatu untuk memperkuat suara. Puan menegaskan, upaya multi-stakeholder untuk memperkuat pemberdayaan perempuan sangat penting.

Di sela-sela IPU ke-145, Puan juga menghadiri Report of the 14th Summit of Women Speakers of Parliament. Ia pun kembali mengingatkan soal pembahasan dalam KTT Ketua Parlemen Perempuan dunia itu yang digelar di Tashkent, Uzbekistan, beberapa waktu lalu dengan fokus terhadap penilaian manfaat dan risiko teknologi baru untuk antisipasi risiko dan ketahanan ekonomi yang lebih besar.

“Kami prihatin dengan risiko yang ditimbulkan oleh kesenjangan digital yang semakin besar, pelecehan online, berita palsu, ujaran kebencian, dan kekerasan online yang menghambat hak dan kebebasan perempuan dan anak perempuan di mana pun,” tutur cucu Proklamator RI Bung Karno itu.

Deklarasi Tashkent, yang diadopsi pada akhir KTT, mencerminkan komitmen dari Ketua Parlemen perempuan dunia untuk mengubah institusi masing-masing menjadi parlemen yang peka gender serta memberlakukan undang-undang yang responsif gender. “Saya tahu kami dapat mengandalkan Anda semua untuk mendorong agenda penting ini bersama kami,” pungkas Puan. (adv) Editor : Ali Sodiqin
#P20 #Parliamentary Speakers Summit #dpr ri #puan maharani #New Hope #g20