Anas pun resmi masuk dalam Kabinet Indonesia Maju dalam sisa masa jabatan periode tahun 2019–2024. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dilakukan di Istana Negara, Rabu (7/9).
”Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi dharma bakti saya kepada bangsa dan negara. Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan, akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab,” ujar Anas saat mengucap sumpah jabatan.
Penunjukan Anas sebagai Menpan-RB tertuang pada Keputusan Presiden Republik Indonesia No 91/P Tahun 2022. Sebelum dilantik sebagai Menpan-RB, Anas menjabat sebagai Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sejak 13 Januari 2022.
Anas merupakan sosok yang pas menempati pos jabatan tersebut. Selama sepuluh tahun memimpin Banyuwangi, Anas dinilai berhasil membawa perubahan besar di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Buktinya, kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi Suyanto Waspo Tondo Wicaksono merasakan betul kemajuan Banyuwangi selama dipimpin Abdullah Azwar Anas. ”Sejak awal menjabat telah melakukan langkah perubahan pola pikir birokrasi yang awalnya tidak biasa dengan target kinerja yang terukur, mulai diubah dengan target kinerja yang terukur,” ungkap pejabat yang akrab disapa Yayan ini.
Yayan menjelaskan, ketika awal menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengubah mindset birokrasi tidak pada umumnya, yakni menjadi birokrasi yang bersinergi, berkolaborasi antara satu dengan yang lain, sehingga timbul ekosistem perangkat daerah.
Mengubah mindset birokrasi tersebut, kata Yayan, tentu tidak bisa serta-merta, melainkan harus dengan pelan-pelan. Kali pertama yang dilakukan yakni dengan memberikan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), sebuah metode penggabungan antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual.
Melalui pelatihan ini, jelas Yayan, diharapkan para birokrasi di Pemkab Banyuwangi dapat membangkitkan kekuatan tersembunyi. Selain itu, mengerahkan seluruh potensi diri untuk kehidupan dan pekerjaan yang lebih produktif, lebih aktif dengan menyeimbangkan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Tidak cukup sampai di situ, untuk benar-benar mengubah pola pikir ASN dan birokrasi juga dijejali pakar manajemen dan guru besar ekonomi Universitas Indonesia Profesor Rhenald Kasali dan pakar pemasaran ternama sekaligus Founder and Chairman Markplus.Inc, Hermawan Kartajaya. ”Pokoknya semua pakar-pakar yang ahli dalam bidang perubahan itu diperdengarkan di hadapan kita para birokrasi ini,” jelasnya.
Karena terbatasnya sumber daya manusia (SDM) dan anggaran, maka memilih skala prioritas untuk percepatan kinerja pemerintah daerah. Hingga akhirnya muncul prioritas 2, 3, dan 4. Dua urusan wajib adalah pendidikan dan kesehatan. ”Khusus untuk dua urusan ini tanpa berpikir panjang,” katanya.
Sedangkan untuk prioritas tiga, core business yakni pariwisata, UMKM, dan pertanian. Banyuwangi sebagai daerah lumbung padi di Jawa Timur dan pariwisata dipilih karena paling cepat menggerakkan ekonomi. Semua SKPD adalah pariwisata tergantung tujuannya.
”Perubahan mendasar birokrasi adalah mulai berpikir siapa mengerjakan apa, hasilnya apa, terukur dengan jelas. Sehingga akan nampak yang mencapai target kinerja dan belum mengerjakan apa-apa,” tegasnya.
Dampak dan hasil dari penerapan tersebut, lanjut Yayan, sejauh ini Banyuwangi berhasil menorehkan prestasi dengan menerima penghargaan mulai tingkat nasional dan internasional. (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud