Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Keroyokan Tangani Stunting

Ali Sodiqin • Sabtu, 2 April 2022 | 13:30 WIB
keroyokan-tangani-stunting
keroyokan-tangani-stunting


BANYUWANGI – Bupati Ipuk Fiestiandani terus mewujudkan komitmen menurunkan kasus stunting di kabupaten the Sunrise of Java. Sebagai salah satu prioritas kerja pemkab, penanganan stunting dilakukan secara keroyokan melibatkan lintas sektor seperti halnya strategi penurunan kemiskinan yang terbukti berhasil di Bumi Blambangan.



Strategi keroyokan menangani stunting tersebut salah satunya diwujudkan saat Ipuk melakukan program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), Kamis (31/3). Kali ini, program Bunga Desa digeber di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.



Di sela kegiatan Bunga Desa, Ipuk mengunjungi salah satu balita yang mengalami stunting. Bocah berusia tiga tahun tersebut memiliki berat badan sekitar 7 kilogram (kg). Padahal, saat lahir berat badan bayi tersebut tergolong normal, yakni 3,2 kg.



”Penanganan stunting dilakukan seperti saat penurunan kemiskinan. Dilakukan secara keroyokan sehingga tidak hanya menjadi tugas pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan Dinas Kesehatan (Dinkes). Karena penyebab stunting tidak hanya soal kesehatan, tapi juga ada faktor ekonomi dan lingkungan,” ujar Ipuk.



Ipuk meminta petugas puskesmas rutin memantau perkembangan balita tersebut. Dia juga meminta kepala desa (kades) Jajag dan camat Gambiran untuk membantu permasalahan ekonomi yang turut menjadi salah satu penyebab anak tersebut mengalami stunting. ”Penurunan stunting di wilayah juga menjadi salah satu indikator KPI (key performance indicators) bagi kades, lurah, dan camat. Jadi, harus sangat diperhatikan permasalahan stunting ini,” tegasnya. 



Dalam penanganan stunting, pemkab telah memiliki data by name by address berikut faktor risiko stunting tersebut. ”Misalnya, penyebab stunting karena tuberkulosis (TB), infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), atau lainnya, dilakukan penanganan sesuai kondisi. Berikut juga asupan gizinya harus diintervensi determinan faktornya,” kata Ipuk. 



Setelah dilakukan identifikasi, selanjutnya penanganan dilakukan secara gotong royong untuk intervensi. Misalnya, ada anak petani stunting disebabkan kurang gizi karena faktor ekonomi. ”Mereka akan diberikan makanan tambahan serta vitamin secara rutin. Misalnya, diberi susu secara berkala atau pun vitamin,” tutur Ipuk. 



Selain penanganan kesehatan, juga dilakukan intervensi melalui dinas teknis untuk membantu perekonomian keluarga tersebut. Misalnya, Dinas Pertanian memberikan bantuan bibit atau hewan ternak. ”Bisa juga Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Perdagangan (Diskop-UMP) memberikan bantuan alat-alat usaha untuk membantu ekonomi mereka. Apabila penyebabnya karena kekurangpahaman orang tua terkait gizi dan kesehatan, Dinkes dan puskesmas yang akan memberikan pendampingan langsung. Ada pula penyebabnya karena kebersihan lingkungan, maka satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait juga dilibatkan,” terang Ipuk.   



Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, angka stunting saat ini sekitar 21 persen dari jumlah anak Banyuwangi atau 4.371 anak. Angka tersebut menurun dibandingkan pada 2021 sebanyak 24 persen. ”Desa Jajag merupakan yang terbanyak angka stunting-nya, sehingga Pemkab Banyuwangi menaruh perhatian pada desa ini,” ujarnya. 



Amir mengatakan, rata-rata penyebab stunting karena kurang pahamnya orang tua terkait masalah makanan yang bergizi. Namun, banyak juga karena faktor ekonomi. ”Petugas puskesmas dan ahli gizi juga rutin melakukan pemantauan pada anak yang teridentifikasi stunting,” tambah Amir. 


Editor : Ali Sodiqin
#pemkab banyuwangi #kerdil #cegah stunting #stunting